Jumat, 16 Desember 2011

ruang lingkup pendidikan islam


PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN SERTA KEGUNAAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

            Ilmu Pendidikan Islam tidak mungkin terlepas dari obyek yang menjadi sasarannya, yaitu manusia, secara filosofis Ilmu Pendidikan Islam harus mengikutsertakan obyek utamanya, yaitu manusia dalam pandangan Islam. Sebagai petunjuk Ilahi, Islam mengandung implikasi kependidikan (paedagogis) yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia menjadi seorang mukmin, muslim, muhsin, dan muttaqin melalui proses tahap demi tahap.
   
  Manusia selain diciptakan sebagai makhluk Allah yang paling mulia, ia juga diciptakan sebagai khalifah di muka bumi  dan berfungsi sebagai makhluk paedagogik, yaitu makhluk Allah yang dilahirkan dengan membawa potensi yang dapat dididik dan mendidik. Apabila potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan (proses pendidikan).
      Pendidikan Islam berarti pembentukan pribadi Muslim, yang berisi pengamalan sepenuhnya akan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, pribadi Muslim itu tidak akan tercapai atau terbina kecuali dengan pengajaran dan pendidikan Islam. Untuk mengetahui lebih jelas tentang definisi ilmu pendidikan Islam, ruang lingkup, tujuan dan kegunaannya, berikut akan dipaparkan pembahasannya satu persatu.

      A. Pengertian Ilmu Pendidikan Islam
      Secara definitif, ilmu sebagaimana dikemukakan oleh Al-Jurjani dalam bukunya Al-Ta’rifat, adalah sebagai berikut:
1.   “Ilmu merupakan kesimpulan yang pasti yang sesuai dengan keadaan sesuatu.”
2.   “Ilmu adalah menetapnya ide (gambaran) tentang sesuatu dalam jiwa atau akal seseorang.”
3.   “Ilmu adalah sampainya jiwa kepada hakekat sesuatu.”1
      Kata “ilmu” berasal dari kata dasar “Alima - Ya’lamu” yang berarti mengerti atau memberi tanda  (mengetahui). Sehingga ilmu dapat juga dikatakan sebagai kesimpulan sesuatu yang didapatkan seseorang melalui panca indera, baik dengan melihat, mendengar, mengucap, menyentuh, mencium, merasa, dan sebagainya.
Selanjutnya istilah pendidikan menurut tinjauan psikologi pada umumnya berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “Education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “Tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Perkembangan selanjutnya pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya  ke arah kedewasaan.2
      Istilah “pendidikan” dalam konteks Islam lebih banyak dikenal dengan term “Al-Tarbiyah, Al-Ta’lim, dan Al-Ta’dib”. Setiap term tersebut mempunyai makna yang berbeda karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya, walaupun dalam hal-hal tertentu term-term tersebut mempunyai kesamaan makna.
      Kata “pendidikan” yang umum digunakan sekarang dalam bahasa Arabnya adalah “Tarbiyah” dengan kata kerja “rabba”. Sedangkan pendidikan Islam bahasa Arabnya adalah “Tarbiyah Islamiyah”. Dalam ayat Al-Qur’an kata ini digunakan dalam susunan sebagai berikut:

Artinya: “…..Ya Tuhan, sayangilah keduanya (ibu bapakku) sebagaimana mereka telah mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. “ (QS. Al-Isra’: 24)         
      Dalam bentuk kata benda, kata “rabba” ini digunakan juga untuk Tuhan, mungkin karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara, bahkan mencipta.
      Kata lain yang mengandung arti pendidikan adalah “Ta’dib” seperti dalam sabda Rasulullah:

Artinya: “Tuhan telah mendidikku, maka Ia sempurnakan pendidikanku.”3
      Kata “Ta’lim” berasal dari kata kerja “‘allama” yang berarti pengajaran. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah “Tarbiyah wa Ta’lim”. Dari segi bahasa, perbedaan arti dari kedua kata itu cukup jelas, namun yang lebih banyak digunakan dalam Al-Qur’an, Hadis, atau pemakaian sehari-hari adalah kata “Ta’lim” daripada kata “Tarbiyah”. Firman Allah:
                    
Artinya: “Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya…..” (QS. Al-Baqarah: 31)
Firman Allah:

Artinya: “Berkata (Sulaiman): Wahai manusia, telah diajarkan kepada kami pengertian bunyi burung.” (QS. Al-Naml: 16)
      Kata “allama” pada kedua ayat di atas mengandung pengertian sekadar memberi tahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung pembinaan kepribadian.
      Lain halnya dengan kata “rabba, addaba” dan sejenisnya. Di dalam kata tersebut jelas mengandung pengertian pembinaan, pimpinan, pemeliharaan, dan sebagainya.4
      Kemudian di sini juga akan diungkapkan pengertian pendidikan Islam menurut beberapa ahli, di antaranya:
1.   Muhammad Athiyah Al-Abrasy memberikan pengertian bahwa “Pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, cakap dalam pekerjaannya dan manis tutur katanya.”
2.   Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa “Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.”5
Dengan memperhatikan kedua definisi di atas, maka berarti pendidikan Islam adalah suatu proses edukatif yang mengarah kepada pembentukan akhlak atau kepribadian.
Islam adalah agama wahyu yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadis yang disampaikan kepada umat Islam melalui Rasulullah SAW. Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak boleh dilepaskan begitu saja dari ajaran Islam yang tertuang dalam kedua sumber tersebut yang merupakan pedoman otentik dalam penggalian khazanah keilmuan apapun.
berdasarkan uraian-uraian tersebut, dapat diberikan pengertian bahwa ilmu pendidikan Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang teori-teori atau usaha membimbing dan membina jasmani dan rohani anak didik oleh orang dewasa sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis.

      B. Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan Islam
            1.  Anak Didik
Pendidikan ibarat uang logam, selalu memiliki dua sisi yang bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. Satu sisi ada yang bertugas sebagai pendidik, di sisi lain ada yang bertugas sebagai peserta/anak didik. Proses pendidikan berarti terjadinya aktivitas antara pemberi dan penerima.
Anak didik merupakan salah satu dari dua sisi tersebut yang memiliki tugas menerima konsep pendidikan agar dirinya terbentuk sebagai insan muslim yang kenal dan tahu akan  Tuhan dan agamanya, memiliki akhlak Al-Qur’an, bersikap, bersifat, dan bertindak sesuai dengan kaidah Al-Qur’an, berpikir dan berbuat demi kepentingan umat serta selalu turut ambil bagian dalam kegiatan pembangunan manusia seutuhnya.
Dalam membicarakan anak didik, ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh pendidik, yaitu:        
1.       Hakikat Anak Didik
Membicarakan anak didik sesungguhnya kita membicarakan hakikat manusia yang memerlukan bimbingan. Para ahli psikologi mempunyai pandangan yang berbeda terhadap manusia. Aliran psikoanalis beranggapaan bahwa tingkah laku manusia pada dasarnya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam yang mengontrol kekuatan psikologis yang sejak semula ada dalam diri individu.
Aliran humanistik mengatakan bahwa manusia senantiasa dalam proses untuk wujud (becoming) namun tak pernah selesai dan tidak pernah sempurna. Tingkah laku manusia digerakkan oleh rasa tanggung jawab sosial dan kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Sementara aliran behaviorisme beranggapan bahwa tingkah laku manusia merupakan reaksi dari rangsangan yang datang dari luar dirinya. Manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan karena proses interaksi terus menerus antar individu dengan lingkungannya.
      Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang termulia dari semua makhluk Tuhan lainnya dan memberikan kepadanya amanah sebagai khalifah di jagad raya ini. Firman Allah:

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi …. (QS. Al-Baqarah: 30)


2.      Kebutuhan Anak Didik
Al-Qussy membagi kebutuhan manusia ke dalam dua kebutuhan pokok, yaitu: a) kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum, seks, dan sebagainya. b) kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan rohaniah. Selanjutnya ia membagi kebutuhan rohaniah kepada 6 (enam) macam, yaitu kebutuhan kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, sukses dan kebutuhan akan suatu kekuatan pembimbing atau pengendalian diri manusia seperti pengetahuan.
Kemudian Law Head, membagi kebutuhan manusia kepada: kebutuhan jasmani dan rohani, seperti istirahat, rekreasi, dan lain-lain, kebutuhan sosial serta kebutuhan agama.6
Di kalangan ahli pendidikan timbul suatu problem tentang apakah benar anak itu dapat dibimbing melalui jalur pendidikan? Maka seiring dengan itu terdapat tiga aliran yaitu: 1) Aliran Nativisme, yang berpendapat bahwa sejak lahir anak telah mempunyai pembawaaan yang kuat, sehingga tidak dapat menerima pengaruh dari luar (lingkungan). Baik buruknya seorang anak sangat ditentukan oleh pembawaan yang dimilikinya. Aliran ini dikemukakan oleh Schopenhauer dari Jerman. 2) Aliran Empirisme, yang dipelopori oleh John Locke yang mengemukakan pendapatnya dengan teori tabula rasa. Ia mengatakan bahwa pendidikan sangat mampu memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan anak. Baik buruknya seorang anak tergantung kepada pendidikan yang ia terima dari lingkungan sekitarnya. 3) Aliran Konvergensi, yang dianggap sebagai perpaduan dari kedua aliran sebelumnya. Aliran ini dipelopori oleh William Stern, yang berpendapat bahwa perkembangan jiwa anak dipengaruhi oleh pembawaan yang dimilikinya di samping lingkungan yang ada di sekitarnya, atau dengan kata lain, bahwa perkembangan anak itu tergantung pada pembawaan dan pendidikan.7
Dari ketiga aliran tersebut di atas, aliran konvergensi dinilai memiliki persamaan dengan konsep ajaran Islam. Menurut konsep ajaran Islam, bahwa setiap anak mempunyai pembawaan (kecenderungan) untuk beragama yang dikenal dengan istilah “fitrah”. Namun fitrah (potensi dasar) tersebut dapat berkembang ke arah yang lebih positif apabila memperoleh pendidikan/bimbingan yang baik dari lingkungan sekitarnya dan sebaliknya, fitrah (potensi dasar) tersebut dapat berkembang ke arah yang lebih negatif apabila memperoleh pendidikan/bimbingan yang buruk dari lingkungan sekitarnya.

            2. Pendidik
      Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik sering disebut dengan “murabbi, mu’allim, dan mu’addib”. Ketiga term tersebut mempunyai semantis masing-masing sesuai dengan penggunaannya dalam konteks pendidikan Islam. Di samping itu istilah pendidik juga disebut dengan istilah/panggilan “Al-Ustadz” dan “Al-Syaikh”.
      Sebagaimana teori Barat, pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotorik.8 
      Pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai  tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah SWT serta mampu mewujudkan dirinya sebagai makhluk sosial (Zoon Politicon) dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
      Pendidik yang utama dan pertama adalah orang tua (ayah dan ibu). Mereka bertanggung jawab penuh atas perkembangan anak-anaknya sejak dalam kandungan sampai mereka beranjak dewasa. Oleh karena itu kesuksesan anak dalam mewujudkan dirinya sebagai khalifah Allah juga merupakan kesuksesan orang tua sebagai pendidiknya. Allah SWT berfirman:

                      
Artinya: “…..Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (QS. Al-Tahrim: 6)
           
            3. Kurikulum
      Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Curir” yang artinya pelari dan “Curere” yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum ternyata berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian “suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.”9
      Dalam bahasa Arab, kata kurikulum agaknya dapat diterjemahkan dengan istilah “manhaj” yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan.
      Secara terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, dengan pengertian sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai satu tingkatan atau ijazah.
            Pengertian kurikulum dalam bidang pendidikan terdapat banyak rumusan dari para ahli, yaitu:
1. William B. Ragan mengatakan bahwa kurikulum adalah seluruh usaha sekolah untuk merangsang anak belajar, baik di kelas maupun di luar kelas.
2. Addamardasy Sarham dan Munir Kamil mendefinisikan kurikulum sebagai “sejumlah pengalaman pendidikan, budaya, sosial, olah raga, dan seni yang disediakan oleh sekolah bagi muridnya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud membantunya untuk berkembang dalam segala segi dan untuk mengubah tingkah laku mereka ke arah yang sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.”

            4. Metode
      Metode berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “Metha” dan “Hodos”. “Metha” berarti melalui atau melewati. Sementara “Hodos” berarti jalan atau cara. Oleh karena itu, metode berarti jalan/cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu, dalam bahasa Arab disebut dengan “Thariqah”.
      Dalam konsep pendidikan, kata metode sering digandengkan dengan kata “mengajar” atau yang lebih dikenal dengan istilah “metodologi pengajaran”. Mengajar berarti menyajikan atau menyampaikan sesuatu (sejumlah bahan pelajaran) kepada anak didik10. Jadi metode pengajaran adalah suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.11
      Metode pengajaran yang umum dikenal dalam dunia pendidikan terdiri dari : metode ceramah, metode diskusi, metode eksperimen, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode sosiodrama, metode drill, metode kerja kelompok, metode tanya jawab, metode simulasi, metode karya wisata, dan sebagainya.

            5. Evaluasi
      Evaluasi berasal dari kata “to evaluate” yang berarti menilai. Kata nilai menurut filosofi pengertiannya ialah “idea of worth”. Menurut Edwin dan Gerald Brown, evaluasi (penilaian dalam pendidikan) berarti seperangkat tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan.12 Penilaian dalam pendidikan Islam bertujuan agar keputusan-keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam benar-benar sesuai dengan nilai-nilai yang Islami, sehingga tujuan pendidikan Islam yang dicanangkan dapat tercapai. Penilaian dan pengukuran dalam pendidikan Islam akan objektif bila didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadis.

            6. Lingkungan
Dalam arti yang luas lingkungan mencakup iklim, geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam.13 Dengan kata lain lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam kehidupan yang senantiasa berkembang.14 Lingkungan adalah seluruh yang ada, baik manusia, maupun benda buatan manusia, atau alam yang bergerak atau tidak, kejadian-kejadian, atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan seseorang. Sejauh mana seseorang berhubungan dengan lingkungannya, sejauh itu pula keterbukaan/peluang masuknya pengaruh pendidikan kepadanya.

            7. Alat Pendidikan
      Untuk mencapai tujuan, pendidikan memerlukan berbagai alat yang dikenal dengan istilah media pendidikan, audio visual, alat peraga, sarana dan prasarana pendidikan, dan sebagainya. Media pendidikan meliputi segala sesuatu yang dapat membantu proses pencapaian tujuan pendidikan.15 Oleh karena pendidikan Islam mengutamakan pengajaran ilmu dan pembentukan akhlak, maka media untuk mencapai ilmu adalah media pendidikan ilmu, sedangkan media untuk pembentukan akhlak adalah pergaulan.

      C. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
            1. Dasar Pendidikan Islam
      Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar adalah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu.16
      Dasar pendidikan di suatu negara disesuaikan dengan dasar filsafat negaranya. Oleh karena itu, pendidikan Islam di Indonesia selain berdasarkan kepada dasar-dasar yang berlaku secara umum yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijtihad harus pula berdasarkan filasafat hidup bangsa Indonesia dan perundang-undangan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah-sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia. Dasar-dasar tersebut adalah sebagai berikut:




      (1). Dasar Ideal
      Dasar ideal adalah dasar dari falsafah negara yaitu Pancasila, dengan sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa atau tegasnya harus beragama.
      Proses pendidikan untuk mencetak manusia-manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diperlukan adanya pendidikan agama yang dilaksanakan di lembaga-lembaga pendidikan formal, nonformal, dan informal.

      (2). Dasar Struktural
      Dasar struktural adalah UUD 1945, dalam Bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:
1.   Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa
2.   Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.
     
      (3). Dasar Operasional
      Dasar operasioanal adalah dasar yang mengatur secara langsung pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pendidikan agama mulai dimasukkan ke dalam sekolah-sekolah di Indonesia. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang bersidang tahun 1960 mengeluarkan ketetapan N0. II/MPRS/1960 yang dalam Bab II pasal 2 ayat (2) menyatakan: “Pendidikan agama menjadi pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai universitas negeri, dengan pengertian bahwa murid-murid berhak untuk tidak ikut serta jika wali murid atau murid yang sudah dewasa menyatakan keberatan.”17
      Ketetapan MPRS tanggal 5 Juli 1966 No. XXVII/MPRS/1966 pasal 1 yang berbunyi: “Mengubah diktum ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 Bab II pasal 2 ayat (2) dengan menghapus kata “dengan pengertian bahwa murid-murid berhak untuk tidak ikut serta jika wali murid atau murid yang sudah dewasa menyatakan keberatan.” Sehingga kalimatnya berbunyi: “Menetapkan pendidikan agama menjadi pelajaran di sekolah-sekolah dari Sekolah Dasar sampai Universitas.”



            2. Tujuan Pendidikan Islam
      Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha dan kegiatan selesai. Oleh karena itu, pendidikan sebagai usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, maka tujuannya pun harus bertahap dan bertingkat.
      Kalau melihat kembali pengertian pendidikan Islam maka akan tergambar dengan jelas sesuatu yang diharapkan dapat terwujud setelah orang mengalami pendidikan Islam secara keseluruhan, yaitu terwujudnya pribadi-pribadi insan kamil/manusia seutuhnya; sehat jasmani dan rohani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal dan bertaqwa kepada Allah SWT.
      Berikut ini akan dijelaskan berbagai tujuan ideal pendidikan, antara lain:

      (1) Tujuan Umum
      Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dari semua kegiatan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Sementara cara atau alat yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan adalah pengajaran.
      Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tersebut.

      (2) Tujuan Akhir
      Pendidikan Islam itu berlangsung sepanjang usia (long life education) maka tujuan akhirnya harus tercapai sewaktu hidup di dunia ini berakhir. Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dari Firman Allah SWT:
  
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (menurut ajaran Islam).” (QS. Ali Imran: 102)

               (3). Tujuan Sementara
      Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.
     


      (4) Tujuan Operasional
      Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal tujuan operasional ini disebut juga dengan tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.18
      Selain tujuan-tujuan tersebut di atas, para filosof juga mempunyai rumusan yang berbeda tentang tujuan pendidikan:
1. Aristoteles, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan akal untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebagaimana bumi disiapkan untuk tumbuh-tumbuhan dan hewan.
2. Immanuel Kant, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengangkat manusia kepada kesempurnaan yang mungkin dicapai.
3. Herbert Spencer (filosof Inggris) mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan manusia supaya dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna.19
Perbedaan rumusan mereka tentang tujuan pendidikan disebabkan berbedanya pandangan hidup masing-masing filosof tersebut. Berikut ini akan diuraikan contoh tentang perbedaan tujuan pada beberapa bangsa/negara yang disesuaikan dengan falsafah masing-masing.
(1) Sparta
Tujuan pendidikan di Sparta adalah mempersiapkan laki-laki yang kuat jasmaninya dalam peperangan dan fasih pembicaraannya.
(2) Athena
 Tujuan pendidikan di Athena adalah mempersiapkan individu-individu supaya menjadi individu yang utuh (The excellence man of man). Maksudnya ialah supaya seseorang itu mampu berdikari sendiri dan harmonis dalam tingkah lakunya dan seimbang pula antara kekuatan jasmani dan rohaninya serta baik akhlaknya, perkataannya, dan perbuatannya.
(3) Jepang Modern
Tujuan pendidikan di Jepang adalah menghasilkan pegawai-pegawai yang ikhlas dan setia kepada kerajaan dan mempergunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk kepentingan kerajaan.20
Pendidikan Islam juga mempunyai tujuan tersendiri sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Al-Qur’an. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan, yaitu:
1. Tujuan keagamaan, maksudnya adalah beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan atasnya.
2. Tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk kehidupan.
Al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling utama adalah beribadah dan taqarrub kepada Allah dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akhirat.21 
      Selain dari pandangan tersebut, terdapat para cendikiawan muslim dan ahli-ahli pendidikan Islam lain yang membuat rumusan mereka masing-masing tentang tujuan pendidikan Islam, antara lain:
(1) Prof. Soleh Abdul Azis dan Dr. Abdul Azis Abdul Majid mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam ialah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengusahakan penghidupan.
(2) Mustafa Amin mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam ialah mempersiapkan amalan seseorang untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
(3) Abdullah Fayad mengatakan bahwa pendidikan Islam mengarah kepada dua tujuan:
a. Persiapan untuk kehidupan akhirat
b. Membentuk seseorang dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesannya hidup di dunia. Sesuai dengan Firman Allah:
    

Artinya: “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashas: 77)
Namun selanjutnya, karena pendidikan Islam yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam yang berlaku di Indonesia, maka haruslah berorientasi kepada tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional dirumuskan dengan mendasarkan kepada pandangan hidup bangsa yaitu Pancasila. Sehingga diharapkan lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat melahirkan manusia muslim yang Pancasilais. Tujuan pendidikan di Indonesia telah digariskan dalam UU No. 12 tahun 1945 dan UU No. 4 tahun 1950. Dalam pasal 3 dari Undang-undang tersebut dirumuskan tujuan pendidikan sebagai berikut:
“Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”22
      Sejalan dengan perkembangan sejarah dan perubahan sosial, maka rumusan  tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU No. 12 tahun 1945 dan UU No. 4 tahun 1950 mengalami perubahan untuk lebih disempurnakan. Di dalam UU No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional tujuan pendidikan dinyatakan sebagai berikut: “Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”23
      Selanjutnya dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tujuan pendidikan dinyatakan bahwa: “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”24
Di dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut jelas bahwa dalam rangka pembinaan manusia seutuhnya, unsur iman dan taqwa menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan.
      Adapun tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari ajaran Islam itu sendiri yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah, lahir dan bathin, di dunia dan akhirat.
     
      D. Kegunaan Ilmu Pendidikan Islam
      Setelah memperhatikan dasar-dasar dan tujuan pendidikan Islam sebagaimana yang telah disebutkan, maka berikut ini akan diungkapkan kegunaan ilmu pendidikan Islam:
1. Untuk mengembangkan potensi yang ada pada anak didik Muslim sebagai makhluk yang dapat dididik.
2. Untuk mewariskan nilai-nilai budaya Islam kepada anak didik sebagai generasi penerus/calon pemimpin umat.
3. Karena ilmu pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis yang keduanya menggunakan bahasa Arab, dengan demikian dapat melatih dan mempraktikkan bahasa tersebut kepada anak didik Muslim.
4. Untuk memberikan pengertian kepada anak didik bahwa dirinya bukan hanya sebagai seorang Muslim yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadis, tetapi ia juga seorang warga negara Indonesia yang memiliki falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945.
     
      E. Kesimpulan
      Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu yang mempelajari teori-teori  atau usaha membimbing dan membina jasmani dan rohani anak didik yang dilakukan oleh orang dewasa sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadis.
      Ruang lingkup ilmu pendidikan Islam meliputi: anak didik, pendidik, lingkungan, kurikulum, metode, alat pendidikan, evaluasi, serta dasar-dasar dan tujuan pendidikan.
      Tujuan pendidikan Islam adalah terwujudnya pribadi-pribadi insan kamil/manusia seutuhnya; sehat jasmani dan rohani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Kegunaan ilmu pendidikan Islam di antaranya adalah untuk mengembangkan potensi yang ada pada anak didik sebagai generasi penerus bangsa, untuk memperluas pengetahuan kebahasaan, khususnya bahasa Arab, sebagai bahasa Al-Qur’an dan Hadis, juga untuk memberikan pengertian kepada anak didik bahwa di samping ia sebagai muslim yang memiliki pedoman hidup Al-Qur’an dan Hadis, ia juga sebagai warga negara Indonesia yang memiliki falsafah hidup bangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945.    











(Endnotes)            
1 Tim Dosen Sunan Ampel Malang, Dasar-dasar Kependidikan Islam, (Surabaya: Karya Aditama, 1996), Cet. I, h. 16
2 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), Cet. I, h.1
3 Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. Ke-2, h. 25-26
4 Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, h. 27
5 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 3-4
6 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 48-55
7 Zuhairini, et.al., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: PT Usaha Nasioanal, 1983), Cet. Ke-8, h. 29-30
8 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian dan Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: PT Trigenda Karya, 1993), Cet. I, h. 4
9 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 61
10 Bandingkan dengan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), Edisi Ke-2, Cet. Ke-5, h.14
11 Ibid, h. 77-78
12 Ibid., h. 97
13 Bandingkan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit., h. 595
14 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. Ke-2, h. 63
15 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, h. 80
16 Bandingkan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.Cit., h. 211
17 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 18-20
18 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, h. 29-32
19 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 25
20 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 24
21 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 25-26
22 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 31    
23 Undang-undang RI No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Fokus Media, 2003), h. 75
24 Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Fokus Media, 2003), h. 7











BAB II
DASAR-DASAR
ILMU PENDIDIKAN ISLAM

             Pendidikan Islam merupakan pengembangan pikiran, penataan perilaku, pengaturan emosional, hubungan peranan manusia dengan dunia ini, serta bagaimana manusia mampu memanfaatkan dunia sehingga mampu meraih tujuan kehidupan sekaligus mengupayakan perwujudannya. Seluruh ide tersebut telah tergambar secara utuh dalam dalam suatu konsep dasar yang kokoh. Islam pun telah menawarkan konsep akidah yang wajib diimani agar dalam diri manusia tertanam perasaan yang mendorongnya pada perilaku normatif yang mengacu pada syariat Islam. Perilaku yang dimaksud adalah penghambaan manusia berdasarkan pemahaman atas tujuan penciptaan manusia itu.
      Aspek keimanan dan keyakinan menjadi landasan aqidah yang mengakar dan integral serta menjadi motivator yang menggugah manusia untuk berpandangan ke depan serta optimis, sungguh-sungguh dan kesadaran. Sudah barang tentu kesemuanya ini berdasarkan pada suatu sumber pokok yaitu Al-Qur’an dan Hadis.1
      Pada Bab ini, akan dipaparkan pengertian dan dasar-dasar pendidikan Islam.
     
A. Pengertian Dasar Ilmu Pendidikan Islam
      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “dasar” berarti: 1. alas; fundamen 2. pokok atau pangkal suatu pendapat (ajaran, aturan); asas 3. lapisan yang paling bawah.2 Oleh karena itu, dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar adalah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu.
      Kata “ilmu” secara etimologi berasal dari bahasa Arab “‘ilmu” yang berarti “idrak al-syai” (pengetahuan terhadap sesuatu). Orang yang tahu disebut “‘alim”, sedangkan orang yang mencari tahu (ilmu) disebut “Muta’allim”. Jadi ilmu berarti “pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.”3
      Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” yang telah mendapat prefiks “pe” dan sufiks “an” mengandung arti “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.”4
      Sedangkan kata “Islam” berasal dari bahasa Arab yang berarti selamat (jalannya orang-orang yang diberi petunjuk). Al-Jurjani mendefinisikan Islam sebagai “rasa ketundukan dan kepatuhan terhadap semua ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.”5 Islam adalah agama yang paling benar di sisi Allah, yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis.
      Dengan demikian, dasar pendidikan Islam berarti landasan yang digunakan dalam melakukan proses pendewasaan anak didik; baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotoriknya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis.
     
B. Dasar Ilmu Pendidikan Islam
     1. Dasar Ideal
      Berbicara tentang dasar ilmu pendidikan Islam berarti juga berbicara tentang kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena semua aspek kehidupan yang terkandung di dalam ajaran Islam berasaskan kepada kedua sumber pokok, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Kedua dasar ini kemudian dikembangkan sesuai dengan pemahaman para ulama, baik dalam bentuk  qiyas syar’i, ijma yang diakui, ijtihad, dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu; tentang jagat raya, manusia, masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan, dan akhlak dengan merujuk kepada sumber asal (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber utama.6
      Alasan bahwa pendidikan Islam bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis adalah berdasarkan firman Allah:
                     
Artinya: “...Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maaidah: 44)
                         
Artinya: ...Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia akan bahagia sebenar-benar bahagia.” (QS. Al-Ahzab: 71)
      Ayat pertama tegas mengatakan bahwa dasar hukum yang dapat dijadikan sebagai sumber rujukan dalam mengambil segala kebijakan, termasuk bidang pendidikan adalah Al-Qur’an. Sementara ayat kedua menjelaskan bahwa percaya dan mematuhi Allah tidaklah cukup tanpa beriman dan mematuhi Rasul-Nya sebagai penjelas dari segala ajaran yang diwahyukan Allah. Oleh karena itu, apabila seseorang mematuhi Allah dan Sunah Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
      Sebaliknya, apabila manusia tidak mengatur seluruh aspek kehidupannya dengan berlandaskan kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul, maka kehidupan mereka akan menjadi sempit (sengsara) dan dikuasai oleh setan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
            
Artinya: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka adalah baginya kehidupan yang sempit.” (QS Thaha: 124)
      Said Ismail Ali, sebagaimana dikutip oleh Hasan Langgulung menyebutkan bahwa dasar ideal pendidikan Islam terdiri dari enam macam, yaitu:  Al-Qur’an, Hadis, kata-kata sahabat, kemaslahatan umat, nilai-nilai dan adat kebiasaan masyarakat, serta hasil pemikiran para intelektual muslim.7 Berikut ini akan dijelaskan dasar-dasar yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

      a. Al-Qur’an
      Bagi setiap umat yang memeluk Islam sebagai agamanya dianugerahkan oleh Allah sebuah kitab suci Al-Qur’an yang komprehensif menjelaskan pokok-pokok ajaran yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, sudah barang tentu dasar pendidikan sebagai bagian dari aspek kehidupan manusia adalah bersumber kepada Al-Qur’an.
      Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik pertama pada masa awal pertumbuhan Islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam di samping Sunnah beliau sendiri.8 Kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat lain, di samping ayat yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu firman Allah:

Artinya: “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu (Al-Qur’an) ini melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Al-Nahl: 64)
      Sehubungan dengan masalah ini, Muhammad Fadhil Al-Jamali menyatakan sebagai berikut: “Pada hakikatnya Al-Qur’an itu merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. Al-Qur’an pada umumnya merupakan kitab pendidikan kemasyarakatan, moral (akhlak), dan spiritual (kerohanian).”
      Begitu pula halnya, Al-Nadwi, sebagaimana dikutip Ramayulis, mempertegas dengan menyatakan bahwa: “Pendidikan dan pengajaran umat Islam itu haruslah bersumber kepada aqidah Islamiyah. Sekiranya pendidikan umat Islam itu tidak didasarkan kepada aqidah yang bersumberkan Al-Qur’an dan Hadis, maka pendidikan itu bukanlah pendidikan Islam, tetapi pendidikan asing.”9
      Islam memiliki objek keyakinan yang jelas karena disajikan secara memuaskan lewat Al-Qur’an yang dengannya manusia akan menyaksikan realitas sebagai bahan perenungan serta mengantarkan manusia pada pengetahuan tentang kekuasaan dan keesaan Allah sesuai dengan tabiat psikologis dan fitrah keagamaan manusia. Jika seseorang merenungkan firman Allah, maka ia akan menemukan bahwa Al-Qur’an menjadikan dirinya sebagai bahan renungan sehingga ia mampu melihat bagaimana Allah menciptakan dirinya dari segumpal darah, mengajarinya membaca, menulis, atau mendayagunakan alam semesta dan dapat dididik.
      Kelebihan Al-Qur’an di antaranya, terletak pada metode yang menakjubkan dan unik sehingga dalam konsep pendidikan yang terkandung di dalamnya, Al-Qur’an mampu menciptakan individu yang beriman dan senantiasa mengesakan Allah serta mengimani hari akhir.
      Al-Qur’an mengawali konsep pendidikannya dari hal yang sifatnya konkret, seperti hujan, angin, tumbuh-tumbuhan, guntur atau kilat menuju hal yang abstrak, seperti keberadaan, kebesaran, kekuasaan dan berbagai sifat kesempurnaan Allah.10

      b. Sunnah
      Setelah Al-Qur’an, pendidikan Islam menjadikan Sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar dan sumber kurikulumnya. Secara harfiah, Sunnah berarti jalan, metode dan program. Sedangkan secara istilah, sunah adalah sejumlah perkara yang dijelaskan melalui sanad yang sahih, baik itu berupa perkataan, perbuatan, peninggalan, sifat, pengakuan, larangan, hal yang disukai, dan dibenci, peperangan, tindak tanduk dan seluruh aktivitas kehidupan Nabi SAW. Pada hakikatnya, keberadaan Sunnah ditujukan untuk mewujudkan dua sasaran, yaitu:
1. Menjelaskan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an. Tujuan ini diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.” (QS. Al-Nahl: 44)
2. Menjelaskan syariat dan pola perilaku, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

                                          
Artinya: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya (Al-Qur’an), menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah:2)
      Dalam dunia pendidikan Sunnah mempunyai dua manfaat pokok; pertama, Sunnah mampu menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan Islam sesuai dengan konsep Al-Qur’an serta lebih memerinci penjelasan dalam Al-Qur’an. Kedua, Sunnah dapat menjadi contoh yang tepat dalam penentuan metode pendidikan. Misalnya, kita dapat menjadikan kehidupan Rasulullah SAW dengan para sahabat maupun anak-anaknya sebagai sarana penanaman keimanan.
      Oleh Robert L. Gullick dalam bukunya “Muhammad The Educational” sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rahmat, mengatakan:
            Muhammad betul-betul seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar serta melahirkan ketertiban dan kestabilan yang mendorong perkembangan budaya Islam suatu revolusi, sesuatu yang memiliki tempo yang tidak tertandingi dan gairah yang menantang. Dari sudut pragmatis, seorang yang mengangkat prilaku manusia adalah seorang pangeran di antara pendidik.11
      Rasulullah adalah sosok pendidik yang agung dan pemilik metode pendidikan yang unik. Beliau sangat memperhatikan manusia sesuai dengan kebutuhan, karakteristik dan kemampuan akalnya, terutama jika beliau berbicara dengan anak-anak.                    

               c. Perkataan Para Sahabat (Qaul al-Shahabah)
      Pada masa Khulafa’ al-Rasyidin, sumber pendidikan dalam Islam sudah mengalami perkembangan. Selain Al-Qur’an dan Sunnah juga perkataan, sikap, dan perbuatan para sahabat. Perkataan mereka dapat dipegangi karena Allah sendiri dalam Al-Qur’an memberi pernyataan:

Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menjadikan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya  selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 100)
      Di antara perkataan sahabat yang dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1.  Perkataan Abu Bakar setelah dibai’at menjadi khalifah, ia mengucapkan pidato sebagai berikut:
      “Hai manusia saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Jika aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutilah aku. Tapi jika aku berbuat salah, betulkanlah aku, orang yang kamu pandang kuat, aku pandang lemah sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedangkan  orang yang kamu pandang lemah, aku pandang kuat sehingga aku dapat mengembalikan haknya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kamu tidak perlu taat kepadaku.”
           Menurut pandangan Nazmi Luqa, ungkapan Abu Bakar ini mengandung arti bahwa manusia harus mempunyai prinsip yang sama di hadapan Khaliknya. Selama baik dan lurus, ia harus diikuti, tetapi sebaliknya jika ia tidak baik dan lurus, manusia harus bertanggung jawab memutuskannya.
2.  Umar bin Khattab terkenal dengan sifat jujur, adil, dan cakap serta berjiwa demokratis yang dapat dijadikan panutan masyarakat. Sifat-sifat Umar disaksikan dan dirasakan sendiri oleh masyarakat pada masa itu. Sifat-sifat seperti ini sangat perlu dimiliki oleh seseorang pendidik karena di dalamnya terkandung nilai-nilai paedagogis yang tinggi dan teladan yang baik yang harus ditiru.
      Muhammad Salih Samak, sebagaimana dikutip Ramayulis, menyatakan bahwa contoh teladan yang baik dan cara guru memperbaiki pelajarannya, serta kepercayaan yang penuh terhadap tugas, kerja, akhlak, dan agama adalah kesan yang baik untuk sampai kepada mutlamat pendidikan agama.12

      d. Ijtihad
      Setelah jatuhnya kekhalifahan Ali bin Abi Thalib berakhirlah masa pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin dan digantikan oleh Dinasti Umayyah. Pada masa ini Islam telah meluas sampai ke Afrika Utara bahkan ke Spanyol. Perluasan daerah kekuasaan ini diikuti oleh ulama dan guru atau pendidik. Akibatnya terjadi pula perluasan pusat-pusat pendidikan yang tersebar di kota-kota besar.
      Karena Al-Qur’an dan Hadis banyak mengandung arti umum, maka para ahli hukum Islam, menggunakan ijtihad untuk menetapkan hukum tersebut. Ijtihad ini terasa sekali kebutuhannya setelah wafatnya Nabi SAW dan beranjaknya Islam mulai ke luar tanah Arab.
      Para fuqaha mengartikan ijtihad dengan berfikir menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari’ah Islam, dalam hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Hadis dengan syarat-syarat tertentu. Ijtihad dapat dilakukan dengan Ijma’, Qiyas, Istihsan, dan lain-lain.
      Ijtihad di bidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis bersifat pokok-pokok dan prinsipnya saja. Bila ternyata ada yang agak terinci, maka rinciannya itu merupakan contoh Islam dalam menerapkan prinsip itu. Sejak diturunkan ajaran Islam sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW, Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula.13

      e. Kemasyarakatan
      Masyarakat mempunyai andil yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak. Masyarakat merupakan penyuruh kebaikan dan pelarang kemungkaran, dan masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikotan, pemutus hubungan kemasyarakatan. Atas izin Allah, Rasulullah SAW menjadikan masyarakat sebagai sarana membina umat Islam yang tidak mau terlibat dalam peperangan. Beliau menyuruh para sahabat untuk memutuskan hubungan dengan beberapa orang (tiga orang) yang tidak mau terlibat dalam kegiatan keprajuritan. Pembinaan melalui tekanan masyarakat yang tujuannya jelas untuk kebaikan, merupakan sarana yang paling efektif.14
      Pendidikan kemasyarakatan dapat dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena bagaimanapun masyarakat muslim adalah masyarakat yang satu padu, atau dengan kata lain pendidikan kemasyarakatan bertumpu pada landasan afeksi kemasyarakatan, khususnya rasa saling mencintai.

     2. Dasar Operasional
      Dasar operasional adalah dasar yang mengatur secara langsung pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pendidikan agama mulai dimasukkan kedalam sekolah di Indonesia.15 Dasar-dasar operasional juga mempunyai bermacam-macam bentuk yang akan diuraikan sebagai berikut:
      a. Dasar Historis
      Sejarah dianggap sebagai salah satu faktor budaya yang paling penting yang telah dan tetap mempengaruhi filsafat pendidikan, baik dalam tujuan maupun sistemnya pada masyarakat manapun juga. Kepribadian nasional, misalnya yang menjadi dasar filsafat pendidikan di berbagai masyarakat haruslah berlaku jauh ke masa lampau, walaupun sistem-sistemnya adalah hasil dari pemerintahan revolusioner, yang didirikannya dengan sengaja untuk mengembangkan dan memperbaiki pola-pola warisan budaya dari umat dan rakyat.
      Kandell sebagaimana dikutip Hasan Langgulung, berkata, bahwa pendidikan perbandingan (yang menitikberatkan pada identitas nasional dalam sistem pendidikan) dan sejarah pendidikan: “Berusaha menyingkap kekuatan-kekuatan dan faktor-faktor yang berdiri di belakang sistem-sistem pendidikan di setiap masyarakat.” Oleh sebab itu: “Dapatlah dianggap pendidikan perbandingan itu sebagai kelanjutan sejarah pendidikan sampai hari ini.”16           
      b. Dasar Sosial
      Banyak aspek sosial yang mempengaruhi pendidikan, baik dari segi konsep, teori, dan pelaksanaannya. Dimensi-dimensi sosial yang biasanya tercakup dalam aspek sosial ini adalah fungsi-fungsi sosial yang dimainkan oleh pendidikan seperti pewarisan budaya yang dominan pada kawasan-kawasan tertentu di suatu lembaga pendidikan, seperti sekolah, faktor-faktor organisasi dari segi birokrasi, dan sistem pendidikan sendiri.
      Dalam usaha kita untuk menganalisa masalah pendidikan dari segi sosial kita dapat mengajukan soal-soal kepada empat aspek sosial pendidikan itu sekaligus atau kita pusatkan pada salah satu aspek saja tetapi tidak mengabaikan aspek-aspek yang lain, misalnya sejauhmana penerapan nilai-nilai Islam itu berkesan dalam menumbuhkan sifat-sifat keberanian, patriotisme, kejujuran, dan lain-lain memperkuat pertahanan masyarakat.17
      c. Dasar Ekonomi
      Ekonomi dan pendidikan selalu bergandengan sejak zaman dahulu kala. Ahli-ahli ekonomi sejak dahulu, begitu pula pencipta-pencipta sains telah mengakui pentingnya peranan yang dimainkan oleh pendidikan dalam pertumbuhan pengetahuan manusia belakangan ini untuk perkembangan ekonomi. Namun baru belakangan ini suatu disiplin ilmu yang khusus untuk itu diciptakan.
      Dalam bidang ekonomi, yang sangat releven dengan pendidikan biasanya adalah hal-hal yang berkenaan dengan investmen dan hasilnya. Artinya kalau modal ditanam sekian, berapa banyak nanti keuntungan yang diharapkan dari itu.18
      Kalau dalam pendidikan Islam telah meletakkan dasar-dasar yang menjadi tapak tempat berdirinya pendidikan Islam itu, maka juga dalam ekonomi Islam telah meletakkan dasar-dasar pokok tempat ekonomi Islam itu berdiri.
      d. Dasar Politik dan Administrasi
      Membicarakan soal politik dan administrasi dalam pendidikan sama halnya membicarakan soal ideologi. Sebab tujuan politik adalah mencapai tujuan ideologi di dalam negara dan masyarakat. Dengan kata lain, setiap politik memperjuangkan suatu ideologi tertentu untuk dilaksanakan di masyarakat. Sedangkan administrasi adalah salah satu alat, mungkin alat yang paling ampuh untuk mencapai tujuan politik tersebut.
      Sepanjang sejarah Islam antara politik, administrasi, dan ideologi selalu sejalan dan saling membantu satu sama lain menuju tujuan bersama. Sudah tentu dalam perjalanannya selama 14 abad itu banyak masalah yang dilaluinya dan sempat diselesaikannya dan ada yang tidak dapat diselesaikannya.
      e. Dasar Psikologis
      Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah pemindahan nilai-nilai, ilmu dan keterampilan dari generasi tua ke generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat tersebut. Dalam pemindahan nilai-nilai, ilmu, dan keterampilan inilah psikologi memegang peranan yang sangat penting.
      Istilah pemindahan yang digunakan para penulis lain, melibatkan dua aspek dalam  psikologi yang dapat perhatian besar dan mendorong begitu banyak penyelidikan. Kedua aspek itu adalah mengajar (teaching) dan belajar (learning). Dahulu orang beranggapan bahwa sebenarnya ada satu aspek saja yaitu mengajar. Belakangan ini kajian-kajian psikologi menunjukkan bahwa sebenarnya belajarlah yang lebih penting. Mengajar hanyalah salah satu cara memantapkan proses belajar itu.
      Jadi, hubungan psikologi dengan pendidikan adalah bagaimana budaya, keterampilan, dan nilai-nilai masyarakat dipindahkan, dalam istilah psikologinya dipelajari (learned), dari generasi tua ke generasi muda supaya identitas masyarakat terpelihara.        
      f. Dasar Filosofis
      Filsafat pendidikan merupakan titik permulaan dalam proses pendidikan, juga menjadi tulang punggung kemana bagian-bagian yang lain dalam pendidikan itu bergantung dari segi tujuan-tujuan pendidikan, kurikulum, metode mengajar, penilaian, administrasi, alat-alat mengajar, dan lain-lain lagi aspek pendidikan yang bergantung pada filsafat pendidikan yang memberinya arah, menunjuk jalan yang akan dilaluinya dan meletakkan dasar-dasar dan prinsip-prinsip tempat tegaknya.
      Dasar dan tujuan filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya identik dengan dasar dan tujuan ajaran Islam, atau tepatnya tujuan Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Dari kedua sumber ini kemudian timbul pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah keislaman dalam berbagai aspek, termasuk filsafat pendidikan. Dengan demikian, hasil pemikiran para ulama seperti qiyas syar’i dan ijma sebagai sumber sekunder.19
      Ajaran yang termuat dalam wahyu merupakan dasar dari pemikiran filsafat pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan filsafat pendidikan Islam yang berisi teori umum mengenai pendidikan Islam, dibina atas dasar konsep ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Keabsahan kedua sumber itu untuk dijadikan dasar pemikiran filsafat pendidikan Islam bukan tanpa alasan yang rasional. Pemikiran filsafat pendidikan Islam yang didasarkan atas ajaran wahyu tersebut pada hakikatnya sejalan dengan yang dikehendaki oleh berfikir falsafi, yaitu mendasar, menyeluruh tentang kebenaran yang ditawarkannya.
      Adanya ketentuan-ketentuan dasar ketentuan wahyu yang dijadikan landasan  pemikiran filsafat pendidikan Islam itu sendiri sehingga filsafat pendidikan Islam berbeda dengan  filsafat pendidikan lainnya (umum). Filsafat pendidikan Islam dalam kaitannya dengan pendidikan berdasarkan lima prinsip utama, yaitu: pandangan terhadap alam, pandangan terhadap manusia, pandangan terhadap masyarakat, pandangan terhadap pengetahuan manusia, dan pandangan terhadap akhlak.

      C. Kesimpulan
Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber utama pendidikan Islam. Al-Qur’an mengawali konsep pendidikannya dari hal yang bersifat konkret menuju hal yang abstrak. Sementara itu Sunnah mempunyai dua sasaran dan dua manfaat pokok. Perkataan, sikap, dan perbuatan para sahabat juga merupakan dasar dan sumber pendidikan Islam. Untuk menetapkan hukum-hukum yang belum ditegaskan Al-Qur’an dan Hadis, para ulama menggunakan ijtihad untuk menetapkan hukum-hukum tersebut. Masyarakat mempunyai andil yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak.                    





(Endnotes)
1  Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), Cet. I, h. 34
2 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pusataka, 1995), Edisi ke-2, Cet. IV, h. 211
3 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 370-371
4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 232
5 Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, 1988), Cet. II, h. 23
6 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. II, h. 37
7 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1980), h. 35
8 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, (Jakarta:Kalam Mulia, 1994), cet. I, h. 13
9 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, h. 14
10 Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, h. 29-30
11 Jalaludin Rahmat, Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1991), h. 115
12 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, h. 15-16
13 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, h. 17-18
14 Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, h. 178
15 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, h. 20
16 Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992), h. 16
17 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, h. 388
18 Ramayulis, Ilmu Pendidkan Islam, h. 20
19 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. II, h. 18














BAB III
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Dalam aktivitas yang kita lakukan tentunya tidak terlepas dari maksud-maksud yang ingin kita capai. Dalam mencapai maksud-maksud tersebut ada yang ingin kita capai dalam jangka panjang maupun jangka pendek dan tentunya tidak keluar dari konsep yang telah ditentukan. Tujuan pendidikan Islam merupakan salah satu unsur dari pendidikan Islam, di mana pendidikan Islam itu menciptakan manusia yang sesuai dengan konsep Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis.
Dalam Al-Qur’an dan Hadis manusia ditentukan untuk menjadi khalifah yang telah dilengkapi dengan akal atau pikiran untuk membawa risalah bagi seluruh alam di bawah bimbingan Allah SWT. Pengelolaaan alam yang baik dan penyampaian risalah yang benar akan menciptakan keselarasan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi individu dan masyarakat. Dengan akal saja tanpa mendapat pendidikan yang baik manusia tidak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, karena pendidikan yang sesuai dengan konsep Islam adalah pendidikan yang mampu menciptakan manusia-manusia yang berakhlak Islami yang akan berpengaruh bagi masyarakat luas.


            A. Pengertian Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan merupakan suatu yang diharapkan setelah suatu usaha selesai. Tujuan dapat pula diartikan segala apa-apa yang hendak dicapai dalam aktivitas yang didukung dengan segala sarana dan prasarana yang baik, baik materi, kurikulum, dan sebagainya.
Pendidikan merupakan aktivitas perubahan dari tidak bisa menjadi bisa. Pendidikan dapat diartikan pula sebagai upaya penanaman nilai-nilai spiritual dan materi yang dilakukan oleh orang dewasa secara sadar dan bertanggung jawab pada anak-anak.
Islam merupakan suatu ajaran yang menjadi prinsip dan sebagai penyempurna yang akan mengarahkan jalan hidup manusia berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.
Berdasarkan definisi di atas, maka tujuan pendidikan Islam adalah segala sesuatu yang hendak dicapai dalam usaha penanaman nilai materi dan spiritual secara sadar dan bertanggung jawab berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.



            B. Konsep Pendidikan Islam
Bila kita bicara tentang pendidikan Islam, tentunya tidak terlepas dari apa yang menjadi konsep atau landasan itu sendiri yakni Al-Qur’an dan Hadis. Sebelum kita memasuki konsep pendidikan Islam agar lebih lengkap kita juga memperhatikan nuansa pendidikan sendiri.
Pendidikan memainkan peran yang penting dalam upaya pembentukan sumber daya manusia. Pendidikan yang ada di negara kita mengalami berbagai problem dan kendala kualitatif dan kuantitatif. Skala kualitatif artinya betapa besarnya persoalan pendidikan yang kadar kehadirannya semakin sungsang, sedangkan skala kuantitatif artinya masalah yang dihadapi menyangkut hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Pemahaman terhadap nuansa pendidikan dalam visi problematika ada berbagai indikasi yang tertuang dalam berbagai pendekatan yakni:
1.  Pendekatan suprastruktur yang memperhatikan kedudukan pendidikan agama dalam dunia eksistensi meliputi:
     a. Akselerasi sosial di mana percepatan budaya dan informasi sangat berpengaruh
     b. Budaya materialis dan individualis
     c.  Lingkungan pergaulan dan orientasi makna hidup
2.   Pendekatan infrastruktur yang memperlihatkan kemampuan yang ada dalam pendidikan itu sendiri meliputi:
         a. Praktik pengajaran yang optimal
         b. Sarana pendidikan yang memadai
         c. Penggalian pendidikan yang belum maksimal1
Usaha untuk mendekatkan makna pendidikan yang lebih mengena hingga dapat mencapai apa yang menjadi tujuan di lingkungan masyarakat merupakan bagian yang penting. Pendidikan agama tidak dapat ditafsirkan hanya dengan shalat dan puasa, tetapi moral dan nilai kehidupan serta wawasan yang luas juga menjadi bagian yang esensi.
Memasuki konsep pendidikan Islam, pendidikan Islam merupakan upaya manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, dengan jalan taqwa dan melengkapinya dengan perangkat akal atau pikiran dan semua indera yang kita miliki dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis. Perangkat-perangkat itu dibina melalui pendidikan. Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan manusia agar mampu menguasai materi pendidikan dalam hal ini pengetahuan dan keterampilan yang diimbangi dengan nilai moral Islam. Konsep utama pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis di samping qiyas, nilai kebaikan, adat dan ijtihad atau pendapat para pakar pendidikan. Konsep pendidikan Islam mencakup kehidupan manusia seutuhnya yang tidak hanya memperhatikan segi akidah saja, tetapi lebih luas dari itu, yakni;
1. Pendidikan Islam mencakup semua dimensi manusia sebagaimana ditentukan oleh Islam
2. Pendidikan Islam menjangkau dunia dan akhirat secara seimbang
3. Pendidikan Islam memperhatikan manusia dalam segala gerak kehidupan
4. Pendidikan Islam berlanjut sepanjang hayat
5. Kurikulum pendidikan Islam akan menghasilkan manusia yang mengerti akan hak dan kewajibannya di dunia dan akhirat.
Berdasarkan uraian di atas maka sudah tergambar apa yang menjadi tujuan pendidikan Islam yaitu untuk membina manusia agar menjadi hamba Allah yang saleh dalam seluruh aspek kehidupan, baik perkataan, perbuatan, pikiran, dan perasaan.

            C. Macam-macam Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan merupakan sasaran yang hendak dicapai dan sekaligus merupakan pedoman yang memberikan arah bagi segala aktivitas yang dilakukan. Para filosof mempunyai rumusan yang berbeda-beda tentang tujuan pendidikan, yakni:             
1. Aristoteles, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan akal untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebagaimana bumi disiapkan untuk tumbuh-tumbuhan dan hewan.
2.  Immanuel Kant, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengangkat manusia kepada kesempurnaan yang mungkin dicapai.
3. Herbert Spencer (filosof Inggris) mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan manusia supaya dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa rumusan tujuan pendidikan disesuaikan dengan rumusan filsafat hidup bangsa. Pandangan hiduplah yang menjadi dasar, sedangkan pendidikan hanya berupa alat untuk memelihara kelanjutan hidupnya sebagai individu dan masyarakat. Oleh karena itu, para filosof menggunakan cara demikian agar filsafat-filsafat mereka menentukan tujuan dalam sistem pendidikan dan metode-metodenya.
Tujuan pendidikan Islam juga disesuaikan dengan filsafat dan pandangan hidup yang digariskan Al-Quran dan Hadis. Ibnu Khaldun membagi tujuan pendidikan menjadi dua bagian yakni:
1. Tujuan keagamaan yakni beramal untuk akhirat sehingga ia menemukan Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya
2. Tujuan ilmiah yakni bersifat keduniaan yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.
Selanjutnya Abdullah Al-Fayad juga membagi tujuan pendidikan menjadi dua macam:
1.  Persiapan untuk hidup di akhirat
2. Membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesan hidup di dunia.2
Selanjutnya Al-Ghazali mengatakan pula tentang tujuan pendidikan yakni bahwa pendidikan Islam pada umumnya ditandai dengan watak religius dan moralitas, yang nampak dengan jelas pada sasaran dan jalan-jalannya serta tidak mengabaikan persoalan dunia. Pada filsafat-filsafatnya tentang pendidikan. Di sana jelaslah bahwa sesungguhnya ia hampir mendekati batas akhir yaitu kesempurnaan manusia yang tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia yang ujungnya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al-Ghazali memandang dunia sebagai sarana dalam mencapai kehidupan akhirat, sebagaimana disebutkan di atas bahwa pandangan yang diuraikan itu dipengaruhi oleh nilai agama dan tasawuf yang mana isinya mendekatkan diri kepada Allah. Maka tujuan pendidikan menurutnya adalah kesempurnaan manusia di dunia dan akhirat. Dan manusia pun mampu mencapai kesempurnaan sebab manusia itu mendapatkan keutamaan melalui ilmu. Keutamaan inilah yang membuat manusia itu bahagia di dunia dan pendekatannya kepada Allah yang menyebabkan dia bahagia di akhirat.3
            Adapun tujuan pendidikan menurut Zakiah Daradjat adalah:
1.  Mengetahui dan melaksanakan dengan baik ibadah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadis
2. Memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, sikap dan perbuatan yang diperlukan untuk mendapatkan rizki dari Allah untuk diri dan keluarganya. Firman Allah:
                                                  
Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitan.” (QS. Al-Mulk: 15)
3.   Mengetahui dan mempunyai keterampilan untuk melaksanakan peran di masyarakat.4
           

Selanjutnya beliau juga membagi tujuan pendidikan menjadi bermacam-macam yaitu:
1. Tujuan Umum
   Tujuan pendidikan Islam secara umum adalah menjadikan manusia sebagai khalifah Allah yang dicapai melalui proses pengajaran, pengalaman, pembinaan, pemahaman, penghayatan, dan keyakinan akan kebenaran yang disampaikan sesuai dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu yang meliputi aspek kemanusiaan juga dengan tingkah laku dan sebagainya
2. Tujuan Akhir
   Tujuan akhir pendidikan Islam adalah hingga berakhir pula kehidupan seorang hamba. Tujuan akhir berlaku seumur hidup untuk menumbuhkan, memupuk, memelihara dan mempertahankan yang telah dicapai karena seseorang itu tidak terlepas dari kendala yang akan berpengaruh pada keimanannya. Tujuan akhir dapat dipahami dari ayat berikut:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
3. Tujuan Sementara
   Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan sejenisnya. Pada tujuan sementara bentuk insan kamil belum nyata namun dalam bentuk sederhana telah nampak.
4. Tujuan Operasional
   Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang hendak dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang telah disiapkan. Dalam tujuan operasional yang formal disebut juga dengan tujuan instruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Dalam tujuan ini lebih ditekankan pada keterampilan dan penguasaan secara lahiriyah saja.5
Tujuan-tujuan pendidikan yang tersebut di atas dirumuskan dalam Al-Qur’an pada surat ke-3 ayat 14 dan surat ke-20 ayat 77 dan pada ayat-ayat lainnya.
Setelah diperhatikan rumusan tujuan yang telah digariskan oleh Al-Qur’an, Hadis dan para ahli pendidikan Islam, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam mengandung implikasi abadi dan positif.  Abadi karena tujuan akhir tersebut menembus dimensi ruang dan waktu, sedang positif karena senantiasa membentuk perkembangan potensi bawaan manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani ciptaan Tuhan.

         D. Tujuan Pendidikan Islam dan Kaitannya dengan Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan Islam di Indonesia harus berorientasi kepada tujuan umum sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, tetapi juga harus berorientasi pada tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional dirumuskan berdasarkan pandangan hidup bangsa yaitu Pancasila. Dengan demikian lembaga pendidikan Islam diharapkan dapat melahirkan manusia Muslim Pancasila. Tujuan pendidikan nasional dengan tujuan pendidikan Islam mempunyai persamaan jika diletakkan secara proporsional yaitu menciptakan insan kamil yang bertaqwa.
Tujuan pendidikan Islam dan tujuan pendidikan nasional tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat diketahui dari dua segi, pertama dari konsep penyusunan sistem pendidikan nasional sendiri, kedua dari konsep hakikat pendidikan Islam dalam kehidupan beragama. Penyusunan suatu sistem pendidikan nasional mementingkan masalah eksistensi manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia khususnya yang tertuang dalam proklamasi kemerdekaan. Semua itu merupakan cita-cita dan dasar hidup bangsa yang harus dilaksanakan dan diwujudkan agar tercipta keselarasan, keseimbangan, kebersamaan dalam hidup bermasyarakat, nilai budaya dan ideologi dan ini menjadi inspirasi dan kriteria dasar dalam membangun sistem pendidikan nasional yang selaras, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Dilihat dari segi hakikat pendidikan agama Islam yang telah menyebar hampir ke seluruh nusantara yakni sekolah pemerintah berdasarkan agama dan sekolah swasta berdasarkan kebangsaan. Lembaga inilah yang menjadi modal pendidikan nasional. Masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam maka pendidikan yang dilaksanakan oleh umat Islam yang berorientasi untuk kepentingan nasional menjadi bagian pendidikan nasional. Ini dinyatakan oleh Komisi Pembaharu Pendidikan Nasional.
Kaitannya antara pendidikan Islam ada pada UU No. 12 tahun 1954 dan UU No. 4 tahun 1950 dan menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Juga dalam GBHN dinyatakan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila yakni meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan bertaqwa, berbudi luhur, berkepribadian, disiplin, bekerja keras, tangguh, dan mandiri serta sehat.
Selain terdapat pada UUD dan GBHN dinyatakan pula dalam hasil rumusan bahwa pendidikan nasional adalah usaha sadar untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang berketuhanan, berpengetahuan dan berbudaya. Dan eksistensinya sebagai komponen pendidikan nasional dituangkan dalam pokok pendidikan dan pengajaran tahun 1950 sampai sekarang.6
            Bagian-bagian tertentu dalam tujuan pendidikan nasional adalah:
1. Tujuan Institusional, yaitu tujuan yang hendak dicapai disesuaikan dengan tingkat, jenis, dan jenjangnya.
2. Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan berdasarkan pada kurikulum atau kegiatan-kegiatan mata pelajaran sesuai dengan target dalam suatu jenjang sekolah
3. Tujuan Instruksional Umum, yakni rumusan tujuan pengkhususan dari tujuan kurikuler agar lebih khusus dan operasional
4. Tujuan Instruksional Khusus, yakni rumusan tujuan yang lebih khusus, lebih rinci dan bersifat operasional.
            Aspek tujuan pendidikan Islam menurut para ahli, antara lain menurut Sudirman, bahwa rumusan tujuan pendidikan haruslah bersifat komprehensif, mengandung aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sedangkan menurut Benyamin S. Bloom adalah:
1. Kognitif yakni meliputi kemampuan atau penguasaan dan kemampuan dalam menggunakan
2. Afektif yang meliputi perubahan dari sikap, mental, perasaan, dan kesadaran
3. Psikomotorik yakni meliputi perubahan dari segi bentuk dan tindakan motorik.
Dalam pendidikan Islam dan proses belajar mengajar atau hasil belajar selalu inheren dengan keislaman yang melandasi aktivitas belajar yaitu Al-Qur’an dan Hadis serta terbuka untuk unsur-unsur luar secara adaptif. Perubahan yang dikehendaki Islam yaitu perubahan yang dapat menjembatani individu dengan masyarakat dan Khaliqnya.7

            E. Kesimpulan
            Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk insan kamil dengan pola yang sebenar-benarnya yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang optimal yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan dan membawa kemaslahatan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat. Dasar pendidikan Islam meliputi Al-Qur’an, Hadis, Qiyas, nilai-nilai kebaikan, adat, dan pendapat para pakar atau ijtihad.
Pendidikan Islam di Indonesia sangat memperhatikan dan sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup bangsa, di samping keberadaannya sebagai salah satu komponen pendidikan nasional juga sebagai awal berdirinya pendidikan di Indonesia karena masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam. Kesesuaiannya dan eksistensinya diakui dalam UUD 1945 dan GBHN.             


(Endnotes)
1 Hasan Chalizah, Kajian Perbandingan Pendidikan, (Jakarta: PT Al-Ikhlas, t.th.), Cet. I, h. 187
2 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), cet. I, h. 23-35
3 Fathiah Hasan Sulaiman, Al-Ghazali dan Plato dalam Aspek Pendidikan, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1996), h. 16-17
4 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 29-32
5 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, h. 29-32
6 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), Cet. V, h. 208-211
7 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 35
















BAB IV
PENDIDIK MENURUT PERSPEKTIF
PENDIDIKAN ISLAM


Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik sering disebut dengan “murabbi, mu’allim, dan muaddib” yang ketiga istilah tersebut mempunyai penggunaan tersendiri dalam konteks Islam. Al-Ghazali menggunakan istilah pendidik dengan berbagai kata seperti al-mu’allim (guru), al-mudarris (pengajar), al-muaddib (pendidik) dan al-waalid (orang tua). Oleh karena itu, pembahasan dalam bab ini meliputi semua isltilah pendidik tersebut, yakni pendidik dalam arti umum yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran.
Pendidik dalam arti umum tersebut adalah perintis pembangunan di segala bidang kehidupan dalam masyarakat, tetapi ia merupakan pahlawan tak dikenal atau tak mau dikenal masyarakat. Untuk memenuhi peranan tanggung jawabnya yang besar dan mulia itu, perlulah seorang pendidik berusaha memiliki sifat-sifat yang baik dan menyadari kode etik guru serta kedudukannya.

      A. Pengertian Pendidik
Pendidik menurut perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi kognitif, potensi afektif, dan potensi psikomotorik.1
Pendidik ada juga yang mengartikan orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai tingkat kedewasaannya, mampu memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah, dan mampu bersikap mandiri sebagai makhluk sosial dan makhluk individu.2
Pendidik yang utama dan pertama adalah orang tua anak didik sendiri karena merekalah yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya dan juga sukses anaknya merupakan sukses orang tua juga.3 Firman Allah SWT:
                                                 
Artinya: “… Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS. Al-Tahrim: 6)
Akan tetapi karena perkembangan masa semakin maju dan kompleks, maka tuntunan orang tua semakin banyak terhadap perkembangan anaknya, dan mereka tidak mungkin lagi untuk sanggup menjalankan tugas mendidik itu. Oleh karena itu, anaknya diserahkan kepada lembaga sekolah. Sehingga pendidik di sini mempunyai arti mereka yang memberi pelajaran kepada anak didik, yang memegang suatu mata pelajaran tertentu di sebuah sekolah.4
Penyerahan orang tua kepada lembaga sekolah bukan berarti bahwa orang tua lepas tanggung jawabnya sebagai pendidik pertama dan yang paling utama, tetapi orang tua masih mempunyai saham dalam membina dan mendidik anak kandungnya untuk mencapai apa yang diharapkan dan untuk mencapai tingkat kedewasaan.
     
B. Kedudukan Pendidik
Salah satu hal yang menarik dalam ajaran Islam adalah penghargaan Islam yang tinggi terhadap pendidik (guru). Begitu tingginya penghargaan itu sehingga sampai menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi dan rasul.5 
Pemberian penghargaan yang demikian tinggi ini karena seorang guru selalu berhubungan dan terkait dengan ilmu pengetahuan, sedangkan Islam sangat menghormati ilmu dan orang yang berilmu. Sebagaimana yang diartikan dari beberapa pengertian hadis yang dikutip dari buku Asma Hasan Fahmi sebagai berikut:
- “Tinta ulama lebih berharga daripada darah syuhada”
- “Orang yang berpengetahuan melebihi orang yang beribadah, yang berpuasa dan yang menghabiskan waktu malamnya untuk mengerjakan shalat, bahkan melebihi orang yang berperang di jalan Allah”
Al-Ghazali menjelaskan kedudukan tinggi yang dimiliki oleh orang yang berpengetahuan dengan ucapannya: “Orang alim yang bersedia mengamalkan ilmu pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan, dia seperti matahari yang menerangi jalan, ia mempunyai cahaya dalam dirinya, seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia memang wangi.”
Asma Hasan Fahmi mengutip dalam Ihya Al-Ghazali yang mengatakan: “Barang siapa yang memilih pekerjaan mengajar, maka sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang besar dan penting.”
Pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didik yang diberikan santapan jiwa dengan ilmu pengetahuan, pembina akhlak yang mulia, dan berusaha meluruskannya.6

      Imam Syauki dalam ungkapan syairnya tentang betapa tingginya penghargaan terhadap kedudukan orang yang berilmu pengetahuan adalah sebagai berikut: “Berdirilah dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul.”7
      Al-Ghazali menukilkan dari pendapat ulama yang mengatakan bahwa “Pendidikan merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran nur keilmiahannya, dan andaikan dunia tanpa pendidik niscaya manusia seperti binatang, sebab pendidikan merupakan upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan kepada sifat insaniyah.”8 Penyebab utama orang Islam menghargai guru karena ada pandangan yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu semuanya bersumber dari Tuhan. Firman Allah:
                                                               
Artinya: “…Tidak ada pengetahuan yang kami miliki  kecuali yang engkau ajarkan kepada kami…”(QS. Al-Baqarah: 2)
Ilmu itu datang dari Tuhan, berarti Tuhan adalah guru yang pertama. Pandangan tinggi dan menembus langit ini tidak boleh tidak telah melahirkan sikap pada orang-orang Islam bahwa ilmu itu tidak bisa dipisahkan dari guru, maka guru mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Islam. Sehingga dari pandangan inilah melahirkan hubungan guru dan murid yang dalam Islam tidak berdasarkan untung rugi, baik dari segi ekonomi sehingga muncul pendapat haram mengambil upah (gaji) dari pekerjaan mengajar atau mendidik.
Profesi pendidik atau pengajar menurut Al-Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin” beliau menyebutkan: “Apabila ilmu pengetahuan itu lebih utama dari segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih utama itu, maka mengajarkannya adalah memberikan faidah bagi keutamaan itu.”
Secara murni, mendidik dan mengajar adalah pekerjaan yang sangat mulia. Akan tetapi masyarakat modern dewasa ini lebih sering memandang pendidik sebagai petugas semata yang mendapatkan gaji dari negara atau institusi swasta serta tugasnya relatif dilimitasi dengan dinding sekolah. Inilah salah satu dampak dari komersial materialisme dan modernisasi sehingga melahirkan dampak terciptanya jarak (sosiopsikis) antara pengajar (guru) dengan pelajar.
Sesungguhnya, seiring dengan sinyalemen Al-Ghazali tersebut, tugas mengajar/mendidik menduduki posisi atau status terhormat dan mulia. Dengan kehormatan dan kemuliaan itu membawa konsekwensi logis bahwa pendidik/pengajar lebih dari petugas gajian. Dia sebagai figur teladan yang mesti ditiru, dan diharapkan dalam memperlakukan anak didiknya tidak seperti memperlakukan domba atau ternak yang perlu digembalakan atau didisiplinkan.
Mohammad Athiyah Al-Abrasy memberikan komentar terhadap sinyalemen Al-Ghazali ini, antara lain: Di antara prinsip-prinsip pendidikan Islam yang paling mengagumkan adalah pengagungan ilmu pengetahuan, pengagungan ulama, sarjana-sarjana muslim dan guru-guru. Ilmu itu mulia dan guru adalah orang yang mulia bagi Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu, bagaimana caranya mengusahakan guru dan murid itu ikhlas dalam pelajaran dan penelitian, sehingga kita bisa dapati orang-orang pintar, ulama, sarjana, dan orang-orang terpelajar. Namun kalau pengagungan itu terlalu berlebihan, maka mungkin akan membawa kepada berkurang dan lemahnya jiwa kritis di kalangan mereka antara yang satu dengan yang lain.
Ali Syaifuddin HA menyatakan, “Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang paling mulia sesuai dengan falsafah hidupnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai sikap pengabdian, yaitu memberi pelayanan jasa pada masyarakat dan manusia.”9
Seorang pendidik/guru adalah orang yang menempati status mulia di daratan bumi karena ia mendidik akal, hati, jiwa, dan roh manusia. Sedangkan jiwa manusia adalah unsur yang terpenting dan mulia pada bagian tubuh manusia. Amien Daien Indrakusuma menyatakan: “Tugas guru itu adalah tugas yang luhur dan mulia, tugas mendidik tunas-tunas bangsa adalah tugas terhormat dan tugas yang patut dijunjung tinggi dan disini pulalah letak kebahagiaan seorang guru.”                        

      C. Kode Etik Pendidik/Guru
Al-Ghazali menyatakan: “Seorang guru yang memegang sebuah vak mata pelajaran sebaiknya jangan menjelek-jelekkan mata pelajaran lain di hadapan murid-muridnya.” Gagasan Al-Ghazali itu relevan dengan apa yang dilaksanakan pada dunia pendidikan Indonesia dewasa ini yaitu penyelenggaraan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di perguruan tinggi.
Pandangan beliau ini dalam dunia pendidikan sekarang dikembangkan menjadi kode etik pendidikan dalam arti yang luas, misalnya hubungan guru dengan soal-soal kenegaraan dan hubungan guru dengan jabatan. Ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Siti Maichati: “Bahwa seorang guru tidak boleh melamar suatu pekerjaan, suatu kontrak sekali yang ditandatangani harus dipenuhi hingga selesai. Guru tidak boleh mencampuri urusan guru lain kecuali jika diminta pertolongannya. Soal rahasia yang disampaikan oleh anak didiknya harus merupakan rahasia antara keduanya kecuali disampaikan kepada orang lain yang berwajib dengan izin dari yang bersangkutan. Guru tidak boleh mengkritik rekan sejawatnya kecuali dengan jujur, tertulis, resmi, dan sebagainya.”
Sedangkan pengertian etik atau adab adalah “ilmu yang mempelajari segala hal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia umumnya, terutama gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan hingga mengenai tujuannya atau perbuatannya.”10
Etika (ethica) berasal dari kata ethos yang berarti watak, sedangkan adab berarti keluhuran budi, sehingga menimbulkan kehalusan dan kesusilaan, baik yang bersifat lahir maupun batin.
Sebagai suatu ilmu, etika harus bersistem dan bermetode, dalam pada itu selalu diutamakan objektivitas dan eksperimen. Sebagai ilmu kemanusiaan, etika dalam mempelajari soal-soal kebaikan dengan sendirinya atau mau tidak mau mendapat pengaruh besar dari ilmu ketuhanan (theologi) dan selalu berhubungan dengan ilmu pendidikan dan kehakiman.
      Sedangkan pengertian etik/adab dihubungkan dengan adat istiadat, adab berarti kebiasaan, sedangkan adat istiadat adalah kebiasaan yang dianggap baik oleh khalayak dan dengan sengaja diperbaiki dan sebagai peraturan umum diakui kekuatan ikatannya untuk dan oleh rakyat di suatu daerah atau tempat.11 
Sedangkan bila dihubungkan dengan pendidikan, adab diartikan ketertiban (tata) dalam hidup manusia, lahir dan batin, hingga hidup manusia itu berbeda dengan hidup makhluk-makhluk lainnya. Sehingga kode etik guru diartikan sebagai usaha pendidikan untuk mencapai cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia sebagaimana yang termaktub di dalam pembukaan UUD 1945, mutlak diperlukan sarana yang teratur dan tertib untuk dijadikan pedoman yang merupakan tanggung jawab bersama.
Jadi, kode etik pendidik adalah norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan antara pendidik dan anak didik, koleganya serta dengan atasannya.12 
Suatu jabatan yang melayani orang lain selalu memerlukan kode etik. Demikian juga jabatan pendidik. Bentuk kode etik suatu lembaga pendidikan tidak harus sama, tetapi secara intrinsik mempunyai kesamaan isi yang berlaku umum. Pelanggaran terhadap kode etik akan mengurangi nilai dan kewibawaan identitas pendidik.13
Kode etik guru yang telah digariskan Al-Ghazali ratusan tahun yang silam masih mempunyai relevansi dengan teori-teori pendidikan modern, bahkan dasar-dasar yang telah diletakkannya kini dikembangkannya secara luas dan mendalam sekali.
Al-Ghazali merumuskan kode etik pendidik/guru dalam 17 bagian, yaitu:
1.   Menerima segala problem anak didik dengan hati lapang dan sikap terbuka dan tabah.
2.   Bersikap penyantun dan penyayang (QS. 3:159)
3.   Menjaga kewibawaan dan kehormatannya dalam bertindak.
4.   Menghindari dan menghilangkan sifat angkuh terhadap sesama (QS. 53:32)
5.  Bersikap merendah ketika menyatu dengan sekelompok masyarakat (QS. 15:88)
6.   Menghilangkan aktivitas yang tidak berguna dan sia-sia.
7.   Bersifat lemah lembut menghadapi anak didik yang rendah tingkat IQ-nya serta membinanya hingga tahap maksimal.
8.  Meninggalkan sifat marah
9.   Memperbaiki sikap anak didiknya dan bersikap lemah lembut terhadap anak didik yang kurang lancar dalam berbicara.
10. Meninggalkan sifat yang menakutkan anak didik yang belum mengerti atau mengetahui
11. Berusaha memperhatikan pertanyaan-pertanyaan anak didik walaupun pertanyan itu tidak bermutu.
12. Menerima kebenaran dari anak didiknya yang membantah apa yang disampaikannya
13. Mencegah anak didik untuk mempelajari ilmu yang membahayakan (QS. 2:195)
14. Menjadikan kebenaran sebagai acuan proses pendidikan walaupun kebenaran itu datangnya dari anak didik
15. Menanamkan sifat ikhlas pada anak didik, serta terus menerus mencari informasi guna disampaikan kepada anak didik yang akhirnya mencapai pada tingkat taqarrub kepada Allah (QS. 98:5)
16. Mencegah anak didik untuk mempelajar ilmu yang hukumnya fardu kifayah sebelum mempelajari ilmu yang hukumnya fardu ain
17. Mengaktualisasikan informasi yang akan diajarkan kepada anak didik (QS. 2:44 dan 61:2-3)
      Membahas mengenai kode etik pendidik akan selalu berkembang dan bertambah seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pendidikan yang disesuaikan dengan sasaran dan tujuannya. Sehingga kode etik guru merupakan norma-norma yang akan selalu berkembang. Setiap ahli pendidikan mengemukakan pendapatnya berbeda-beda sesuai dengan batasan dan pandangan mereka terhadap tuntunan pendidikan yang dikaitkan dengan unsur terpenting dalam pendidikan yaitu seorang pendidik. Maka dapat disimpulkan bahwa kode etik pendidik/guru ini dapat diklasifikasikan dalam beberapa bagian, antara lain:
a.         Kode etik pendidik terhadap murid
b. Kode etik pendidik terhadap sesama guru atau rekan sejawat
c.         Kode etik pendidik terhadap atasannya
d. Kode etik pendidik terhadap pegawai tata usaha
e.         Kode etik pendidik terhadap orang tua murid
f.          Kode etik pendidik terhadap masyarakat

      D. Kesimpulan
      Pendidik menurut perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik yang meliputi potensi kognitif, potensi afektif, dan potensi psikomotorik untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani serta dapat berdiri sendiri memenuhi kewajiban sebagai hamba Allah, makhluk sosial, dan makhluk individu.
Banyak sekali ungkapan yang mengemukakan tentang betapa tinggi kedudukan seorang pendidik menurut perspektif Islam, antara lain:
 - Pendidik mempunyai kedudukan mulia, setingkat di bawah para nabi dan rasul
- Pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) karena ia mendidik jiwa, akal, dan roh manusia.
      Kode etik adalah segala norma kebaikan (dan keburukan) yang mengatur hubungan kemanusiaan antara pendidik dengan murid, dengan sesama guru atau rekan sejawat, dengan atasannya, dengan pegawai tata usaha, dengan orang tua murid, dan dengan masyarakat.
Apabila semua hubungan yang diatur di dalam kode etik ini dijalankan dengan baik, maka akan mempermudah tercapainya tujuan pendidikan. Dalam pelaksanaannya, sangat dibutuhkan kerja sama semua pihak yang terkait dalam pendidikan, tidak hanya membebankan kepada satu unsur saja, seperti hanya kepada seorang pendidik, tetapi perlu mendapat dukungan dari pihak-pihak lain.















(Endnotes)
1          Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), Cet. I, h. 74-75
2 Surya Subrata, Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), Cet. I, h. 26
3 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1990), h. 168
4 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 75
5 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 76
6 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 168
7 Muhammad Athiyah Al-Abrasy, Dasar-darsar Pendidikan Islam, Terjemahan Bustami Abdul Gani, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 135-136
8 Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Terjemahan Ismail Yakub, (Semarang: Faizan, 1979), Cet. VI, h. 65-70
9 Team Dosen IKIP Malang, 1981
10 Tim Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, (PT Raja Grafindo Persada, 1993), Cet. V, h. 15
11 Tim Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, h. 16
12 Tim Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, h. 17
13 Wasty Soemanto dan Hendyat Soetopo, Dasar dan Teori Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), h. 147

















BAB V
PESERTA DIDIK
DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Dalam dunia pendidikan tentunya tidak lepas dari pembicaraan masalah proses berlangsungnya belajar mengajar, baik itu secara langsung ataupun tidak langsung. Pada intinya dalam proses belajar mengajar terdapat dua komponen pendidikan yang sangat esensial eksistensinya, yaitu pendidik dan peserta didik.
Dikatakan esensial eksistensi keduanya karena sangat berpengaruh terhadap tujuan-tujuan pendidikan yang dituangkan dalam undang-undang. Sebuah lembaga pendidikan dikatakan berhasil tidak hanya dilihat dari banyaknya peserta didik yang dihasilkan, namun ada yang sangat urgen dari hal tersebut yaitu mampukah sebuah lembaga pendidikan menciptakan lulusannya yang berkualitas dan purnadimensial.
Peserta didik merupakan “raw material” (bahan mentah) dalam proses transformasi pendidikan. Karena ia akan dididik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia yang mempunyai intelektualitas tinggi dan akhlak yang mulia. Mungkin di satu pihak peserta didik sebagai objek pendidikan, namun di lain pihak peserta didik bisa dikatakan sebagai subjek pendidikan.
Pada bab ini akan dibahas mengenai peserta didik dalam pendidikan Islam yang meliputi pembahasan tentang pengertian peserta didik, kedudukan peserta didik, kode etik peserta didik, kriteria peserta didik dalam pendidikan Islam, dan pendekatan-pendekatan peserta didik.

      A. Pengertian Peserta Didik1
      Dalam ilmu pendidikan banyak sekali pengertian tentang peserta didik yang dikeluarkan oleh para pakar pendidikan. Namun perlu digarisbawahi pada setiap pendapat para pakar tersebut dengan tanpa menyalahinya, bahwa dari sudut mana ia memberikan pengertian tentang peserta didik itu.
      Al-Ghazali memberikan pengertian tentang peserta didik sebagai anak yang sedang mengalami perkembangan jasmani dan rohani sejak awal terciptanya dan merupakan objek utama dari pendidikan. Pendapat Al-Ghazali ini lebih menekankan peserta didik dari sudut keagamaan, karena ia (Al-Ghazali) memberikan argumennya melalui kata fitrah yang berarti suci dan menurut hadis Nabi “Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Al-Ghazali juga mengatakan peserta didik sebagai objek utama pendidikan. Jika peserta didik dikatakan sebagai objek pendidikan, maka tak ubahnya peserta didik bagaikan sebuah wadah kosong yang bisa diisi apa saja oleh orang (pendidik) dengan tanpa mengeluarkan apa-apa yang ada di dalam ciduk tersebut. Hal ini bisa menjadikan anak didik pasif, tidak memberikan pikirannya, argumen dan daya nalarnya, peserta didik menerima begitu saja setiap yang diberikan oleh pendidiknya, tidak aktif dan pendidik cenderung bersikap otoriter. Keadaan semacam ini biasanya terjadi di lembaga pendidikan yang masih tradisional, terpencil dan jauh dari suasana perkotaan. Namun ada juga sisi positifnya dari pendapat Al-Ghazali yaitu peserta didik lebih menghormati para pendidiknya.
      Selain definisi yang dikemukakan Al-Ghazali, ada juga yang mendefinisikan peserta didik sebagai mitra pendidik. Seseorang yang memandang peserta didik sebagai mitra pendidik ini lebih menekankan peserta didik dari sudut psikologis. Dengan alasan kalau peserta didik dianggap sebagai mitra pendidik, maka terjadi hubungan pendekatan yang lebih harmonis antara pendidik dan peserta didik. Ada sisi baiknya pendapat yang mengatakan demikian di antaranya peserta didik lebih bebas mengeluarkan pendapatnya, daya nalarnya dan pemikirannya sekalipun itu bertentangan dengan yang dikemukakan pendidiknya. Dalam hal ini peserta didik ditempatkan sebagai subjek pendidikan karena anak didik cenderung bersikap aktif. Salah satu kelemahan pendapat tersebut adalah peserta didik cenderung kurang atau bahkan tidak menghormati dan patuh kepada pendidiknya dan kode etik yang ada pada dirinya.
      Jika demikian halnya, maka ada baiknya kita mengambil benang merah dari definisi tentang peserta didik yang penuh dengan fenomena. Secara universal, baik itu Islam atau non Islam, pengertian peserta didik adalah seseorang dalam artian umum, baik dewasa ataupun belum dewasa yang sedang menjalankan proses pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal sehingga menghasilkan sesuatu yang yang tidak ada pada diri peserta didik menjadi ada, baik itu berupa ilmu pengetahuan, etika maupun keterampilan yang hasilnya teraplikasi dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
 Itulah beberapa pengertian yang dapat dijabarkan, yang pada intinya peserta didik adalah orang yang sedang menjalankan proses belajar. Namun perbedaan yang diberikan oleh para pakar adalah perbedaan redaksional dan sudut pandang saja.

      B. Kedudukan Peserta Didik
      Berbicara tentang kedudukan peserta didik sangat erat kaitannya dengan pengertian peserta didik yang telah dijelaskan sebelumnya. Banyak sekali pendapat yang mengemukakan kedudukan peserta didik, namun pada hakikatnya adalah sama dan tidaklah bertentangan satu dengan lainnya. Akan tetapi tentunya setiap pendapat sudah pasti memiliki kelebihan dan kelemahan yang dapat saling melengkapi.
      Al-Ghazali mengatakan bahwa kedudukan peserta didik adalah sebagai objek pendidikan. Ada benarnya pendapat Al-Ghazali tersebut karena peserta didik adalah orang yang dikenai, diajarkan, dididik, dan dibina oleh pendidik. Kelemahan dari pendapat tersebut adalah peserta didik menjadi pasif, tidak mengeluarkan pendapatnya dan terlalu mengkultuskan pendidiknya. Sisi positif dari pendapat Al-Ghazali tersebut adalah peserta didik lebih menghormati pendidiknya dan pendidikannya lebih terarah sebagaimana yang diharapkan oleh pendidik.
      Ada juga yang mengatakan bahwa kedudukan peserta didik dalam pendidikan Islam adalah sebagai mitra pendidik.2 Tujuan yang ingin dicapai dari pendapat demikian agar peserta didik dapat mengembangkan intelektualnya. Peserta didik bebas berpendapat sekalipun pendapatnya itu bertentangan dengan pendidiknya, dan penalaran peserta didik lebih aktif. Pendapat seperti ini banyak sekali dipakai pada pendidikan Barat di mana peserta didik dan pendidiknya seperti teman belaka. Kelemahan yang terdapat dalam sistem pendidikan seperti ini, di antaranya peserta didik kurang menghormati pendidiknya dan pendidikan yang ada pada peserta didik kurang terarah sebagaimana yang dikehendaki oleh pendidiknya.
      Selain dari dua pendapat di atas, ada juga pendapat yang menyatakan kedudukan peserta didik sebagai orang/murid untuk menuangkan ilmu dari pendidiknya. Pendapat demikian itu telah keluar dari tujuan-tujuan pendidikan Islam. Dengan alasan apabila peserta didik dikatakan sebagai murid untuk menuangkan ilmu dari pendidiknya, berarti tugas pendidik hanyalah mengajar, tidak mendidik peserta didiknya.
Sedangkan yang terakhir adalah pendapat yang menyatakan bahwa peserta didik adalah orang yang sedang belajar. Pendapat seperti ini bisa saja diterima karena memang pada dasarnya peserta didik adalah orang yang sedang belajar. Akan tetapi perlu diketahui bahwa seseorang yang sedang belajar belum tentu ia sedang dididik, maka dari itu agar lebih sempurna pendapat ini ditambahkan yaitu peserta didik berkedudukan sebagai orang yang sedang belajar dan mendapatkan pendidikan.

      C. Kode Etik Peserta Didik
      Peserta didik dalam suatu satuan pendidikan mempunyai kewajiban-kewajiban dan juga hak-hak yang harus diperhatikan. Kewajiban dan hak peserta didik sering disebut juga dengan istilah kode etik peserta didik. Al-Ghazali menekankan kode etik peserta didik dari segi tasawuf, karena memang ia seorang sufi. Ia lebih memperhatikan sikap peserta didik kepada pendidik. Kode etik peserta didik yang diajarkan oleh Al-Ghazali antara lain: 1) Jangan berbicara di hadapan guru, 2) Jangan bicara jika tidak diajak bicara oleh guru, 3) Jangan bertanya jika belum minta izin terlebih dahulu. 4) Jangan bertanya kepada guru di tengah jalan, tapi sabarlah nanti setelah sampai di rumah. 5) Jangan berunding dengan teman di tempat duduknya atau bicara dengan guru sambil tertawa. Namun, pendapat Al-Ghazali tentang kode etik peserta didik di zaman sekarang banyak diabaikan padahal pendapat yang diberikan Al-Ghazali sangat sesuai dengan ajaran Islam.
Adapun di negara kita masalah kode etik peserta didik telah diatur dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada bab V pasal 12 ayat 2 disebutkan setiap peserta didik berkewajiban menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.

   D. Kriteria Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam
Peserta didik dalam pendidikan Islam sebenarnya memiliki kriteria-kriteria yang sedikit berbeda dengan peserta didik umum. Kriteria peserta didik dalam pendidikan Islam mungkin sangat erat dengan kode etik peserta didik itu sendiri. Adapun kriteria yang akan disebutkan nanti bukan berarti kewajiban yang memang harus ada secara paksa, melainkan secara universal. Kriteria tersebut adalah norma yang diajarkan dalam agama Islam. Kriteria itu antara lain: 1) Peserta didik dalam pendidikan Islam tidak mengenal usia, dalam arti setiap individu muslim berkewajiban untuk menuntut ilmu dari ia dilahirkan sampai ia meninggal (life long education). 2) Peserta didik dalam pendidikan Islam selalu menghormati sopan santun dan tata krama yang baik terhadap pendidik dan dalam pergaulan sehari-hari. 3) Peserta didik dalam pendidikan Islam menanggapi suatu persoalan tidak hanya mencari solusinya dengan satu disiplin ilmu, melainkan dari berbagai aspek keilmuan. 4) Peserta didik dalam pendidikan Islam dalam mengambil suatu keputusan ataupun untuk mengeluarkan pendapatnya tidak boleh bertentangan dengan aqidah, Al-Qur’an dan Hadis.
      Pendidikan Islam haruslah menyajikan materi pendidikan yang menyatu dengan jiwa dan akal peserta didik sehingga dapat mewujudkan nilai etis atau kesucian, yang merupakan nilai dasar bagi seluruh aktivitas manusia, sekaligus harus mampu melahirkan keterampilan dalam materi yang diterimanya. Hal ini menjadi suatu kewajiban karena merupakan tujuan pendidikan menurut konsep Al-Qur’an dan Hadis.

      E. Pendekatan-pendekatan Peserta Didik
      Pendekatan-pendekatan yang terdapat dalam usaha mempengaruhi peserta didik dalam proses pendidikan terdapat tiga pendekatan, yaitu: pendekatan sosial (social approach), pendekatan psikologi (psychology approach), dan pendekatan edukatif (paedagogis approach). Pendekatan sosial yaitu menempatkan anak didik sebagai anggota masyarakat yang sedang disiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Pendekatan psikologis yaitu menempatkan anak didik sebagai suatu organisme yang sedang tumbuh dan berkembang. Pendekatan edukatif yaitu menempatkan anak didik sebagai unsur yang sangat penting dalam rangka proses pendidikan.

F. Kesimpulan
1.   Peserta didik adalah seseorang dalam arti umum, baik dewasa ataupun belum dewasa yang sedang menjalankan proses pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal sehingga menghasilkan sesuatu yang tidak ada pada dirinya menjadi ada, baik itu berupa ilmu pengetahuan, etika maupun keterampilan yang hasilnya teraplikasi dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2.   Kedudukan peserta didik ada yang mengatakan sebagai objek pendidikan, ada juga yang mengatakan sebagai subjek pendidikan, yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
3.  Peserta didik dalam menjalankan tugasnya di dalam pendidikan mempunyai kode etik atau peraturan tentang peserta didik yang isinya mencakup tentang kewajiban-kewajiban dan hak-hak peserta didik.
4.   Pendekatan-pendekatan terhadap anak didik meliputi pendekatan sosial, pendekatan psikologis dan pendekatan paedagogis.          

Endnote
1Dalam pendidikan Islam, istilah lain untuk peserta didik adalah al-shabiy, murid, al-muta’alim, thalib al-ilmi, tilmiz, thifl. Abuddin Nata dan Fauzan, Pendidikan Dalam Perspektif Hadits (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), h, 249; Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Muda Pratama, 2005), h. 131; Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 74
2Mitra lebih identik dengan subyek atau pelaku  pendidikan. Lihat; Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 47

BAB VI
ALAT PENDIDIKAN ISLAM


Berhasil atau tidaknya proses pendidikan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukung. Karena itu pendidikan Islam memerlukan landasan, tujuan, lingkungan, dan tidak kalah pentingnya alat-alat pendidikan yang dapat membantu terwujudnya tujuan pendidikan.
Pada bab ini akan dibicarakan salah satu faktor pendukung pendidikan, yaitu alat pendidikan. Tinjauan tentang alat pendidikan ini meliputi pengertian alat pendidikan, fungsi alat pendidikan, jenis-jenis alat pendidikan, dan penggunaan alat pendidikan.

      A. Pengertian Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat menunjang kelancaran proses pelaksanaan pendidikan. Pengertian ini mengarah pada alat sebagai sarana. Kata alat memang identik dengan benda, tetapi alat pendidikan tidak hanya terdiri dari benda-benda konkret saja, tetapi juga benda abstrak seperti nasihat, bimbingan, hukuman, hadiah, dan sebagainya.
Menurut Sutari Imam Barnadib, alat pendidikan yaitu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan  pendidikan.1 Pengertian ini mengarah pada alat sebagai metode dan alat sebagai sarana.
Sedangkan menurut Roestiyah NK alat pendidikan adalah metode dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektivitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan murid dalam proses pendidikan. Pengertian ini mengarah pada alat sebagai metode.

      B. Jenis-jenis Alat Pendidikan
Banyak sekali alat-alat yang digunakan sebagai alat pendidikan. Namun secara garis besar alat pendidikan dibagi ke dalam dua bagian, yaitu alat pendidikan yang bersifat konkret dan alat pendidikan yang bersifat abstrak. Contoh alat pendidikan yang bersifat konkret adalah manusia, alam dan benda-benda, sedangkan contoh alat pendidikan yang bersifat abstrak adalah hal-hal yang ada pada manusia seperti pengetahuan, pengalaman, kebiasaan, nasihat, bimbingan, hukuman, hadiah, dan sebagainya.



Berikut ini dijelaskan alat-alat pendidikan tersebut:
1. Manusia, terdiri dari pendidik dan anak didik
      Pendidik dan anak didik adalah alat pendidikan yang bertanggung jawab khusus dalam hal pemilihan alat-alat2. Dalam diri pendidik dan anak didik terdapat alat pendidikan yang bersifat abstrak, antara lain:
a. Pengetahuan, contohnya seorang murid yang mempelajari Al Quran harus memiliki pengetahuan bahasa Arab. Maka pengetahuan bahasa Arab sebagai alat pendidikan dalam mempelajari Al-Qur’an.
b. Pengalaman, pengalaman dijadikan sebagai alat pendidikan ini sesuai dengan pepatah “Belajarlah dari pengalamanmu.”
c. Keterampilan, murid yang mempelajari Al-Qur’an harus memiliki keterampilan membaca dan menulis untuk memperlancar proses belajar mengajar.
d. Kebiasaan, contoh dalam pelajaran Fiqh perlu ditanamkan kebiasaan pada murid dalam praktik shalat agar kebiasaan tersebut memudahkan murid untuk cepat mengerti.
e. Tingkah laku perbuatan/teladan, anak didik itu mudah meniru dan mengikuti semua tingkah laku, baik perbuatan ataupun cara bicara karena itu pendidik harus memberikan contoh yang baik. Dalam hal ini Rasulullah juga memberikan teladan yang baik kepada umatnya. Firman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan hari kiamat dan banyak menyebut (mengingat) Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
f. Anjuran atau perintah, dengan anjuran/perintah ini diharapkan anak didik mendengar apa yang harus dikerjakan. Contoh ayat Al-Qur’an yang berupa perintah/anjuran adalah: 
                                               
Artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan…” (QS. Al-Maidah: 2)
g. Larangan, dengan larangan ini diharapkan anak didik mendengar apa yang harus ditinggalkan. Contoh ayat Al-Qur’an yang berupa larangan adalah:  
                                          
Artinya: “Dan janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah: 2)
h. Hukuman adalah konsekwensi dari pelanggaran terhadap perintah atau larangan
      Alat pendidikan yang bersifat abstrak di atas dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Alat-alat pendidikan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak dan taraf sukarnya alat tersebut diterima oleh peserta didik, seperti pengetahuan, kebiasaan, dan keterampilan.
2. Alat-alat langsung atau alat-alat positif yaitu alat-alat yang bersifat menganjurkan sejalan dengan maksud usaha, seperti anjuran, perintah, dan suri tauladan.
3. Alat-alat tidak langsung atau alat-alat negatif yaitu alat-alat yang bersifat pencegahan dan pembasmian hal-hal yang bertentangan dengan tujuan, antara lain larangan, hukuman, peringatan, dan sejenisnya.

   2. Alam
Alam semesta ciptaan Tuhan juga dapat dijadikan sebagai alat pendidikan, baik alam nyata maupun alam tidak nyata. Contoh alam nyata yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan adalah perubahan siang dan malam, peristiwa-peristiwa alam (hujan, kilat, panas). Semua itu alat pendidikan yang langsung dapat kita rasakan dan kita lihat.
Sedangkan contoh alam tidak nyata yang dijadikan sebagai alat pendidikan yaitu seorang guru yang mengajarkan ilmu ghaib  kepada muridnya sehingga ia dapat berkomunikasi dengan makhluk halus seperti jin dan jin tersebut dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk melakukan hal di luar kemampuan manusia.
Selain itu dalam Al-Qur’an surat Al-Ghasiyah ayat 17-21 juga dijelaskan bahwa alam ini diciptakan sebagai peringatan. Di antara peringatan itu adalah agar manusia memperhatikan bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan  sehingga manusia dapat mengambil pelajaran dari peringatan tersebut.

3. Benda-benda
      Dalam hal ini benda-benda yang dapat dijadikan sebagi alat pendidikan lebih mengacu pada jenis konkret. Benda konkret ini terbagi dua, yaitu:
1. Benda-benda tradisional
Maksud benda tradisional ini adalah benda-benda yang tidak memerlukan teknologi  modern dalam pembuatan dan penggunaannya. Contohnya papan tulis, buku-buku cetak, gambar, lukisan, peta, dan lain sebagainya.
2. Benda-benda modern
Contoh benda modern yang dijadikan sebagai alat pendidikan adalah gambar yang diproyeksikan dengan alat seperti foto, film, slide, televisi, video, dan lain-lain. Sedangkan contoh alat untuk didengar adalah audio tape recorder, radio, piringan hitam, CD Audio, dan lain-lain.

      C. Fungsi Alat Pendidikan
      Secara garis besar fungsi alat pendidikan dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Sebagai Perlengkapan
Sebagai perlengkapan, alat pendidikan membantu mempermudah pelaksanaan proses pendidikan, karena itu jangan sampai alat tersebut justru menghambat berlangsungnya proses pendidikan ini. Contoh, untuk menyeberangi sungai kita dapat memakai perahu, ban, jembatan dan sebagainya, maka kita harus memilih alat yang efisien dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam pendidikan kita mengambil contoh yaitu ketika mata kuliah muhadasah, tersedia alat-alat seperti spidol, papan tulis, kaset, tape, CD audio, ruang kelas dan ruang laboratorium bahasa. Alat tersebut harus disesuaikan dengan jenis mata kuliah, maka dari itu kita memilih tape, kaset, dan laboratorium bahasa.
2. Sebagai pembantu untuk mempermudah usaha mencapai tujuan
            Kami contohkan, ketika seorang murid mempelajari Al-Qur’an, maka murid tersebut harus mempunyai modal berupa keterampilan berbahasa Arab untuk membantu dan mempermudah dirinya dalam mempelajari Al-Qur’an tersebut.
3. Alat sebagai tujuan
            Contoh seorang belajar bahasa Arab dengan tujuan mengetahui isi Al-Qur’an yang sesungguhnya.

      D.  Penggunaan Alat Pendidikan
      Setelah alat tersebut tersedia kita harus mengetahui bagaimana penggunaan alat tersebut karena penggunaan alat pendidikan tergantung pada banyak faktor. Kemampuan menyesuaikan alat yang digunakan dengan faktor yang mendukung merupakan penentu berhasil atau tidaknya suatu pendidikan mencapai tujuannya.3
      Penggunaan alat pendidikan harus disesuaikan dengan beberapa hal, antara lain:
1.  Kematangan anak dalam menggunakan alat pendidikan.
      Dalam masalah ini peran pendidik sangat besar yaitu untuk membantu dalam pemilihan alat agar alat tersebut berfungsi sebagai penunjang efektivitas belajar bukan sebagai penghambat. Selain itu pemilihan alat pendidikan juga harus disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan siswa.
2.  Ruangan dan waktu
a. Ruangan adalah lingkungan yang ada di sekitar anak didik, contoh kelas. Jika seorang mengajar mengunakan metode diskusi maka ruangan kelas harus disesuaikan dengan metode itu.
b. Waktu
    Jika seseorang mengajar pada waktu siang hari lalu digunakan metode ceramah. Apakah metode dan waktunya sudah sesuai?
      Menurut Zakiah Daradjat, pemilihan alat pendidikan harus disesuaikan antara lain:4
1. Pentingnya alat itu untuk mencapai tujuan atau kesesuaian alat itu dengan pengajaran  
2. Alat itu harus disesuaikan dengan kemampuan siswa
3. Harus diperhatikan keadaan sekolah dan kondisi sekolah dalam pengadaan alat-alat pendidikan
4. Memperhatikan waktu yang tersedia untuk mempersiapkan alat dan penggunaannya di kelas
5. Harga atau biaya alat itu hendaknya sesuai dengan efektivitas alat
   E. Kesimpulan
      Pada dasarnya alat pendidikan itu adalah segala sesuatu yang digunakan untuk membantu kelancaran proses pendidikan, baik alat sebagai metode maupun alat sebagai sarana.
      Jenis-jenis alat pendidikan secara garis besar dapat dibedakan antara lain: manusia terdiri dari pendidik dan anak didik, alam terdiri dari alam nyata dan tidak nyata, serta benda terdiri dari benda tradisional dan benda modern.
      Fungsi alat pendidikan yaitu sebagai perlengkapan, pembantu pencapaian tujuan, dan sebagai tujuan. Sedangkan penggunaan alat pendidikan disesuaikan dengan kematangan anak didik dalam penggunaan alat tersebut dan masalah ruangan dan waktu.                   
(Endnotes)
1  Jalaluddin dan Said Usman, Filasafat Pendidikan Islam dan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1996), Cet. II, h. 56
2          Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1989), Cet VIII, h. 55
3          Jalaluddin dan Usman Said, Filasafat Pendidikan Islam dan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1996), Cet. II, h. 57
4           Zakiah Daradajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II, h. 82
BAB VII
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan.
Tujuan pendidikan di suatu negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan hidup negara tersebut yang mengakibatkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan dan sekaligus akan berpengaruh pula terhadap kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di negara tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi bidang pendidikan yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
            Di Indonesia kurikulum merupakan produk baru dunia pendidikan. Sebelumnya lebih banyak digunakan rencana pengajaran dan selanjutnya digunakan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional (PPSI). Kurikulum di Indonesia digunakan dan terus dibakukan dengan alasan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, psikologi anak, dan tuntutan kebutuhan anak, masyarakat dan zaman.
Ada lima dasar yang dijadikan pertimbangan untuk melakukan penyusunan maupun perubahan kurikulum, yaitu:
1. Falsafah negara
2. Perkembangan IPTEK dan kebudayaan
3. Tuntutan masyarakat terhadap hasil pendidikan
4. Ketenagaan dan praktik pendidikan
5. Kondisi sosiopsikologi anak didik
            Untuk lebih mengetahui hal ihwal kurikulum, baik dari segi asal-usul kurikulum sampai dengan perkembangannya, baik dalam pendidikan umum maupun pendidikan Islam, penulis akan menjabarkannya berikut ini.



            A. Pengertian Kurikulum
            Di dalam kamus Webster’s Third New International, istilah kurikulum awal mulanya digunakan dalam dunia olahraga pada zaman Yunani Kuno. Kurikulum dalam bahasa Yunani berasal dari kata “curir” artinya pelari, “curere” artinya tempat berpacu. Jadi secara etimologi kurikulum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari.1 
            Pengertian kurikulum dalam dunia pendidikan terdapat banyak rumusan dari para ahli. Crow dan Crow merumuskan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.2
            Pendapat ini sangat sesuai dengan rencana pelajaran yang kita kenal pada sekolah-sekolah di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Pendidik di negara-negara tersebut membatasi kurikulum pada dinding sekolah yang di dalamnya diajarkan suatu deretan mata pelajaran di mana murid-murid diwajibkan belajar dan menghafal dengan tekun.
            Selanjutnya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dunia pendidikan, definisi kurikulum tersebut dipandang sudah ketinggalan zaman. Di kalangan pendidik modern timbul konsepsi baru dalam tentang definisi kurikulum, antara lain:
1.  Harold B. Alberty dan Elsie J. Alberty dalam bukunya “Reorganizing The High School Curriculum” mengartikan kurikulum dengan aktivitas/kegiatan yang dilakukan murid sesuai dengan peraturan-peraturan sekolah.3
2.  Menurut Saylor dan Alexander, sebagaimana dikutip S. Nasution, kurikulum bukan hanya sekadar memuat sejumlah mata pelajaran, tetapi termasuk di dalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik usaha tersebut dilakukan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.4
3. Zakiah Daradjat menyatakan kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.5
4. Hasan Langgulung dalam bukunya Manusia dan Pendidikan menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar kelas dengan maksud menolongnya untuk berkembang secara menyeluruh dalam segala segi dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.
            Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum tidak hanya berisi mata pelajaran dan kegiatan di dalam sekolah, tetapi juga mencakup berbagai aspek di luar sekolah yang berisi materi yang ditujukan untuk pengembangan potensi anak didik guna kepentingan hidupnya di masyarakat.
            Pada dasarnya kurikulum mencakup empat aspek, yaitu:
1. Tujuan pendidikan yang akan dicapai kurikulum itu
2. Pengetahuan atau materi pelajaran
3. Metode, cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti oleh murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang dikehendaki oleh tujuan yang dirancang.
4. Metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum.6 

      B. Kurikulum Menurut Pendidikan Islam
            Adapun pengertian kurikulum dalam pendidikan Islam, jika kita kembali kepada kamus-kamus Bahasa Arab, maka kita dapati kata-kata “manhaj” yang bermakna jalan terang yang dilalui oleh pendidik/guru latih dengan orang-orang yang terdidik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.
            Pengertian yang sempit tersebut bukan hanya berlaku di dunia Islam, tetapi juga berlaku pada sebagian negeri-negeri Timur, Afrika, dan Barat yang bukan Islam. Mengapa demikian? Karena kurikulum pada sebagian besar dunia Islam pada periode akhir dalam sejarahnya belum berkenalan dengan konsep pendidikan modern. Baru pada abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 para pendidik modern mulai mengecam konsep, metode, dan alat-alat pendidikan yang berlaku di masjid-masjid, universitas-universitas Islam yang mulai muncul dalam dunia Islam pada pertengahan abad ke-19.
            Kecaman-kecaman para pendidik modern telah menarik perhatian para pendidik dan perencana kurikulum dalam dunia Islam dan telah mendorong para pendidik untuk melengkapi kekurangan-kekurangan mereka dengan mengikuti semangat pendidikan modern di dunia Barat.
            Kecaman tersebut juga telah mengubah definisi mereka mengenai kurikulum, yaitu bahwa kurikulum tidak hanya meliputi mata pelajaran dan pengalaman yang tersusun yang berlaku di dalam kelas, tetapi meliputi semua kegiatan kebudayaan, kesenian, olah raga dan sosial yang dikerjakan oleh murid-murid di luar jadwal waktu dan di luar kelas di bawah bimbingan sekolah.7 
            Adapun  tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh kurikulum dalam pendidikan Islam adalah sama dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yaitu membentuk akhlak yang mulia dalam kaitannya dengan hakikat penciptaan manusia. Dalam hal ini, maka pengertian kurikulum pendidikan Islam berisi materi pendidikan seumur hidup, sebagai realisasi tuntunan Nabi yang berbunyi: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.”8 
            Kurikulum dalam pendidikan Islam mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu:
1. Menonjolkan tujuan agama dan akhlakul karimah, baik dalam tujuan pengajaran, materi, dan pelaksanaannya
2. Kandungan materi pendidikan mencakup aspek jasmaniah, intelektual, psikologi, maupun spiritual
3. Adanya keseimbangan antara ilmu syariat dengan ilmu akliyat
4. Tidak melupakan bahan maupun apresiasi seni, tetapi juga tidak merusak perkembangan akhlakul karimah
5. Mempertimbangkan perkembangan dan kondisi peserta didik.9

            C. Dasar, Prinsip, dan Fungsi Kurikulum
       1. Dasar Kurikulum
            Dasar kurikulum adalah kekuatan-kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi, susunan, atau organisasi kurikulum. Dasar kurikulum disebut juga sumber kurikulum atau determinasi kurikulum (penentu).
            Herman H. Horne membagi dasar kurikulum menjadi 3 macam, yaitu:
a. Dasar psikologis, yang digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children)     
b. Dasar sosiologi, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang sah dari masyarakat (the legitimate demands of society)
c.         Dasar filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we live)
            Pendapat Herman di atas sesungguhnya belum menjamin bahwa suatu kurikulum dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, karena belum memasukkan nilai-nilai yang wajib diresapi oleh anak sejalan dengan tujuan yang ditetapkan.10 Nilai-nilai yang wajib diresapi oleh anak menurut Al-Syaibani adalah nilai agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, Al-Syaibani menetapkan 4 dasar dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu:


            1. Dasar Agama
            Sistem pendidikan Islam harus meletakkan dasar falsafah, tujuan dan kurikulum pendidikan Islam yang pada dasarnya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Karena kedua kitab tersebut merupakan nilai kebenaran yang universal, abadi dan bersifat futuristik. Nabi SAW bersabda:                                                               

Artinya: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu dua perkara, yang jika kamu berpegang teguh dengan keduanya, kamu tidak akan tersesat, yakni kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.” (HR. Hakim)
   Di samping kedua sumber tersebut, masih ada sumber lain, yaitu dasar yang bersumber pada dalil ijtihadi.11 Dalil ijtihadi dapat berupa ijma’ (konsensus para ulama), qiyas (analogi), istihsan, istishab, masalihul mursalah, madzhab sahabi, sadzuz dzari’ah, syar’uman qablana, dan uruf.12
           
            2. Dasar Falsafah
         Falsafah pendidikan Islam tidak tergolong kepada falsafah manapun buatan manusia, baik yang tradisionil maupun yang progresif, tetapi ia mempunyai ciri khas sendiri yaitu memperoleh wujudnya dari Tuhan Yang Mulia, bimbingan nabi dan pemikiran Islam yang betul sepanjang masa. Namun perbedaan falsafah Islam dengan falsafah lain tidaklah bertentangan dengan adanya persamaan antar falsafah-falsafah buatan manusia yang tradisionil maupun yang progresif. Di antara persamaan-persamaannya yaitu:
a.  Dengan falsafah idealisme yaitu kepercayaan terhadap nilai-nilai spiritual dan idealis yang ada akhirnya kembali kepada wahyu penciptaan yang maha tinggi dan mulia
b.  Dengan falsafah realisme natural yaitu kepercayaan bahwa alam nyata ini adalah alam yang sebenarnya yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengamatinya
c.  Dengan falsafah humanisme intelektual bahwa ia meninggikan tujuan, akal dan ilmu-ilmu kemanusiaan
d.  Dengan falsafah realisme klasik bahwa ia mengakui wahyu Tuhan dan ilham sebagai dua sumber antara sumber-sumber dasar bagi pengetahuan, menghormati pemikiran dan penafsiran akal dengan mengakui peranan utama akal yaitu mencari kebenaran.
e.  Dengan falsafah naturalisme romantik yaitu memberontak kejumudan dan menaruh perhatian terhadap kehidupan aktual dan kontekstual dan menghormati keinginan dan kebutuhan individu.
f.  Dengan falsafah pragmatis bahwa ia mempercayai pentingnya membuka rahasia segala bidang kemanfaatan pada benda-benda yang memberi kebahagiaan bagi manusia.

            3. Dasar Psikologis
         Dasar psikologis berkaitan dengan ciri-ciri perkembangan pelajar, tahap kematangan bakat-bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi dan sosial, kebutuhan, minat, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, proses belajar, dan pengamatan mereka terhadap sesuatu.

            4. Dasar Sosial
         Dasar utama kurikulum pendidikan Islam tergambar pada dasar sosial yang antara lain mengandung ciri-ciri masyarakat Islam yang berlaku pada proses pendidikan dan kebudayaan masyarakat yang bersifat umum atau khusus. Tugas kurikulum sendiri menurut dasar sosial adalah turut serta dalam proses pemasyarakatan bagi para pelajar agar para pelajar dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat Islam tempat mereka hidup. Dan juga yang menjadi tugas pendidikan Islam adalah menyiapkan murid-murid memikul tanggung jawab dan peranan-peranan sosial yang diharapkan dari mereka dalam masyarakat Islam.13
            Empat dasar di atas dilengkapi oleh S. Nasution yaitu dasar organisatoris. Dasar ini mengenai penyajian bahan pelajaran. Organisasi kurikulum dasar ini berpijak dari ilmu jiwa asosiasi yang menganggap keseluruhan adalah jumlah bagian-bagiannya sehingga menjadikan kurikulum merupakan mata pelajaran yang terpisah-pisah.
           
        2. Prinsip-prinsip Kurikulum
            Adapun prinsip-prinsip kurikulum dalam pendidikan Islam tidaklah beda dengan prinsip kurikulum pendidikan umum, yaitu:
a.  Prinsip yang Berorientasi pada Tujuan
       Al-umuru bimaqasidiha merupakan adagium ushuliyah yang berimplikasi pengusulan agar seluruh aktivitas kurikulum terarah sehingga tujuan pendidikan yang tersusun sebelumnya tercapai.14
b.  Prinsip Relevansi
       Secara umum prinsip relevansi pendidikan dapat diartikan sebagai kesesuaian atau keserasian pendidikan dengan tuntunan vertikal dalam mengemban nilai-nilai. Masalah relevansi pendidikan dengan kehidupan dapat ditinjau dari 3 segi, yaitu:
1. Relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup murid
2. Relevansi pendidikan dengan perkembangan kehidupan    masa sekarang dan masa yang akan datang
3. Relevansi pendidikan dengan tuntutan dunia pekerjaan
c.  Prinsip Efektivitas
       Efektivitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh mana sesuatu yang direncanakan dapat terlaksana dalam dunia pendidikan. Efektivitas ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu efektivitas mengajar guru dan efektivitas belajar murid.
d.  Prinsip Efisiensi
       Efisiensi suatu usaha pada dasarnya merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan usaha yang telah dilakukan (input) sehingga hasilnya memadai dan memenuhi harapan.
e.  Prinsip Kesinambungan
Kesinambungan di sini maksudnya adalah adanya saling hubungan atau jalin menjalin antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan.
f.  Prinsip Fleksibilitas
Yang dimaksud fleksibiltas adalah tidak kaku artinya ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak.
g.  Prinsip Integritas
Implikasinya adalah pengupayaan kurikulum tersebut agar menghasilkan manusia seutuhnya, manusia yang mampu mengintegrasikan antara zikir dan fikir serta manusia yang dapat menyelenggarakan struktur kehidupan dunia dan akhirat.
h.  Prinsip Kontinuitas
Implikasinya adalah bagaimana susunan kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkesinambungan dengan kegiatan-kegiatan kurikulum lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal.
i.   Prinsip Objektivitas
Implikasinya adalah kurikulum tersebut dilakukan melalui tuntutan kebenaran ilmiah yang objektif dengan mengesampingkan  pengaruh emosi dan irrasional.
j.   Prinsip Demokrasi
Implikasinya adalah pelaksanaan kurikulum harus dilaksanakan secara demokratis, artinya saling memahami keadaan dan situasi tiap-tiap subjek dan objek kurikulum.15

k.  Prinsip Analisis Kegiatan
Prinsip ini mengandung tuntutan agar kurikulum dikonstruksikan melalui proses analisis isi bahan pelajaran serta analisis tingkah laku yang sesuai dengan isi materi pelajaran.
l.   Prinsip Individualisasi
Prinsip ini memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak, intelegensi, bakat, serta kelebihan dan kekurangannya.16 
m.  Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
Prinsip ini diterapkan dalam kurikulum mengingat keutuhan potensi subyek. Manusia sebagai subyek yang berkembang dan perlunya keutuhan wawasan manusia yang sadar akan nilai (yang menghayati dan yakin akan cita-cita dan tujuan hidupnya).

            2. Fungsi Kurikulum
Adapun fungsi kurikulum dalam pendidikan Islam ada 4 fungsi, yaitu:
a. Alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
b. Pedoman dan program yang harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan
c. Fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan
d. Standar dalam penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan atau sebagai batasan dari program kegiatan yang akan dijalankan pada catur wulan, semester, maupun pada tingkat pendidikan tertentu.


            D.  Bentuk-bentuk Kurikulum
            Bentuk kurikulum sendiri dalam pengertian falsafah adalah bentuk pengetahuan. Pada awalnya merupakan kerangka bagian dari dasar-dasar pembentukan kurikulum pendidikan Islam, yang meliputi tuntutan untuk mematuhi hukum-hukum Allah. Muhammad Fadhil Al-Jamaly memberi rumusan tersebut sebagai berikut:
1.  Larangan mempersekutukan Allah
2. Berbuat baik kepada kedua orang tua
3.  Memelihara, mendidik, dan membimbing anak sebagai tanggung jawab terhadap amanah Allah
4.  Menjauhi perbuatan keji dalam bentuk sikap lahir dan batin.
5. Menjauhi permusuhan dan tindakan makar
6. Menyantuni anak yatim dan memelihara hartanya
7. Tidak melakukan perbuatan di luar kemampuan
8. Berlaku jujur dan adil
9. Menepati janji dan menunaikan perintah Allah
10. Berpegang teguh kepada ketentuan hukum Allah
            Kerangka tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk materi  yang sejalan dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu pendidikan akhlak dan juga harus memenuhi kriteria-kriteria pencapaiannya, yaitu adanya signifikansi, berhubungan dengan kebutuhan sosial, disesuaikan dengan minat dan perkembangan manusia, serta mengikuti disiplin ilmu yang telah disepakati. Untuk itu, ada syarat yang perlu diajukan dalam perumusan isi/bentuk kurikulum, yaitu:
1.  Materi yang tersusun tidak menyalahi fitrah manusia
2. Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu dalam rangka ibadah kepada Allah SWT
3. Disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia anak didik
4. Perlunya membawa anak didik kepada objek empiris, sehingga anak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan dalam masyarakat
5.  Adanya penyusunan kurikulum yang integral, terorganisasi dan terlepas dari kontradiksi antar materi satu dengan materi yang lain.
6. Materi yang disusun harus memiliki relevansi dengan masalah-masalah yang hangat
7. Adanya metode sehingga mampu mencapai materi pelajaran
8. Materi yang diajarkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis
9. Materi yang disusun mempunyai fungsi pragmatis tersendiri17
            Setelah syarat-syarat tersebut dipenuhi, disusunlah bentuk/isi kurikulum pendidikan Islam. Para ahli berbeda-beda dalam pembagian bentuk/isi kurikulum. Berikut adalah pendapat-pendapat mereka:
1. Menurut Ibnu Sina, ilmu dibagi berdasarkan tujuan, manfaat, serta sifatnya masing-masing. Berdasarkan sifatnya ilmu dibagi atas ilmu yang bersifat sementara dan ilmu yang bersifat abadi. Dilihat dari tujuannya ilmu dibagi atas ilmu teoritis dan ilmu praktis, dan yang tergolong ilmu teoritis adalah IPA, matematika, metafisika, dan fisika. Sedangkan ekonomi, politik, dan syariah digolongkan ke dalam ilmu praktis.
2. Al-Farabi mengklasifikasikan ilmu menjadi 6 kelompok, yaitu bahasa, logika, matematika, ilmu pengetahuan alam, metafisika, dan ilmu sosial.
3. Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi 3 kategori, yaitu ilmu naqliyah yaitu ilmu yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadis, ilmu aqliyah yaitu ilmu yang diambil dari daya fikir manusia, dan ilmu lisan, seperti ilmu nahwu, bayan dan adab.
4. Al-Ghazali membagi ilmu menjadi 4 jenis dengan mempertimbangkan jenis dan kebutuhan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu-ilmu Al-Qur’an, ilmu bahasa, ilmu fardhu kifayah dan ilmu-ilmu cabang filsafat.
5. Muhammad Fadhil Al-Jamaly menyarankan agar kurikulum pendidikan Islam berisi materi yang dikehendaki Al-Qur’an, seperti ilmu agama, sejarah, falak, dan sebagainya.
            Walaupun berbeda-beda pembagiannya, tetapi pada akhirnya mereka sepakat bahwa bentuk/isi kurikulum terbagi atas 2 macam, yaitu perennial (naqliyah) dan acquired (aqliyah). Perennial diterima melalui wahyu, sedangkan acquired diperoleh melalui imajinasi dan pengalaman indera. Adapun rinciannya sebagai berikut:
1. Kelompok Perennial, terdiri dari:
a.  Al-Qur’an meliputi qira’at, hifz, tafsir, sunnah, siroh, tauhid, fiqh, ushul fiqh, bahasa Al-Qur’an, baik fonologi, sintaksis, maupun semantik.
b. Mata pelajaran bantu, meliputi metafisis alam, perbandingan agama, dan kultur Islam.
2. Kelompok Acquired, terdiri dari:
a.  Seni, meliputi seni arsitektur, bahasa dan sebagainya.
b. Seni intelek, meliputi pengetahuan sosial, ekonomi, politik, sejarah, dan sebagainya.
c. Ilmu murni, meliputi ilmu filsafat sains, matematika, statistik, kimia, biologi, dan sebagainya.
d.  Ilmu terapan, meliputi engineering dan teknologi, ilmu kedokteran, dan sebagainya.
e.   Ilmu praktik, meliputi ilmu perdagangan, administrasi, perpustakaan, komunikasi, dan sebagainya.18 
            Tampaknya secara prinsipil, kurikulum pendidikan Islam tak lepas dari dasar dan tujuan falsafah pendidikan Islam itu sendiri. Beberapa bagian materi dapat saja dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman dan lingkungan hidup manusia, tetapi keterkaitannya dengan hakikat kejadian manusia sebagai khalifah dan pengabdi Allah yang setia tidak dapat dilepaskan sama sekali.


E.  Model-model Konsep Kurikulum Pendidikan Islam
            Dari sekian banyak pendapat para ahli mengenai model-model konsep kurikulum dapat dimodifikasikan sebagai berikut:
1. Kurikulum sebagai model subyek akademik. Model kurikulum ini sangat mengutamakan pengetahuan sehingga pendidikan diarahkan lebih bersifat intelektual. Model subyek akademik ini mengalami perkembangan menjadi 3 struktur disiplin, yaitu:
a.  Aliran yang melanjutkan disiplin struktur. Aliran ini menonjolkan proses penelitian ilmiah, baik masalah sosial, nilai-nilai maupun kebijaksanaan tokoh-tokoh pemerintah.
b. Pelajaran terpadu. Dalam memahami masalah yang kompleks, aliran ini menggunakan beberapa disiplin ilmu yang terpadu. Oleh karena itu, pendekatannya adalah interdisipliner.
c. Pendidikan fundamental. Aliran ini mementingkan isi dan materi, di samping cara-cara dan proses berfikir.
2. Kurikulum sebagai model humanistik (aktualisasi diri). Model ini berfungsi menyediakan pengalaman yang berharga bagi anak didik dan membantu kelancaran perkembangan pribadi anak didik. Jadi kurikulum model humanistik menjadikan manusia sebagai unsur sentral untuk menciptakan unsur kreativitas, spontanitas, kemandirian, kebebasan, aktivitas, pertumbuhan dari dalam, termasuk keutuhan anak sebagai keseluruhan, minat, dan motivasi intrinsik.
3. Kurikulum sebagai model rekonstruksi sosial.
    Kurikulum model ini pada dasarnya menghendaki adanya proses belajar yang menghasilkan perubahan secara relatif tetap dalam perilaku, yaitu dalam berfikir, merasa, dan melakukan.

    F. Kesimpulan
1. Kurikulum adalah seluruh usaha sekolah atau sejumlah pengalaman yang diberikan oleh sekolah kepada peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam pendidikan Islam kurikulum memiliki dasar agama dan akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.
2. Dasar kurikulum meliputi dasar agama, filosofis, psikologis, sosial, dan organisatoris.
3. Prinsip kurikulum meliputi prinsip yang berorientasi pada tujuan, relevansi, efektivitas, efisiensi, kesinambungan, fleksibilitas, integritas, kontinuitas, objektivitas, demokrasi, analisis kegiatan, individualisasi, dan rinsip pendidikan seumur hidup.
4. Fungsi kurikulum meliputi kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan, sebagai pedoman proses pendidikan, sebagai kesinambungan antara jenjang sekolah dan sebagai standar untuk menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan.
5. Pembagian materi/isi kurikulum meliputi perennial (naqliyah) dan acquired (aqliyah).
6. Model-model konsep kurikulum meliputi:
    a.  Kurikulum sebagai model subyek akademik
    b.  Kurikulum sebagai model humanistik
    c.  Kurikulum sebagai model rekonstruksi sosial


(Endnotes)
1 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1991), Cet. II, h. 4
2          Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. I, h. 123
3  Zuhairini, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), h. 58
4          S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran
5          Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, t.th.), Cet. III, h. 122
6 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1993), Cet. III, h. 145
7 Omar Mohammad al-Taumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), Cet. I, h. 478-484
8           Jalaludin Usman dan Usman Said, Falsafah Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangannya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. II, h. 44-45
9 Omar Mohammad al-Taumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, h. 489-512
10 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), Cet. I, h. 186
11 Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), Cet. VII, h. 175
12 Tim DEPAG RI, Ushul Fiqh, (Jakarta: Dirjen PKAI, 1986), h. 56 
13 Omar Mohammad al-Taumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, h. 526-532
14 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 193
15 Sudirman dkk., Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Karya, 1989), Cet. II, h. 114
16 Ali Syaifullah, Pengembangan Kurikulum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), h. 52-69
17 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 211-212
18 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, h. 21




BAB VIII
PENDEKATAN DAN METODE
PENDIDIKAN ISLAM

Setelah mempelajari kurikulum pendidikan Islam perlu diketahui cara dalam menerapkan pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Untuk dapat merealisasikan nilai-nilai ajaran Islam secara maksimal perlu adanya pendekatan dan metode yang efektif.
      Penyampaian materi yang diberikan oleh seorang guru dapat berakibat buruk bagi anak didik jika dalam pelaksanaan pengajaran atau pendidikan digunakan metode yang keliru. Agar poses pendidikan Islam dapat sejalan dengan kemajuan masyarakat dan dapat memberikan fleksibilitas terhadap perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya perlu ada pendekatan dan metode karena keduanya dapat mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar. Jika pendekatan dan metode yang digunakan baik dan sesuai dengan kemampuan anak didik, tujuan yang diharapkan akan tercapai.

      A. Pendekatan Pendidikan Islam
      Dalam menganalisa sasaran pendidikan Islam secara ilmiah diperlukan pendekatan yang sejalan dengan karakteristik sasaran yang hendak dideskripsikan. Dalam pendidikan Islam terdapat lima macam pendekatan, yaitu:
      1. Pendekatan Filosofis
      Berdasarkan pendekatan ini, ilmu pendidikan Islam diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasari oleh nilai-nilai ajaran Islam menurut konsepsi filosofis yang bersumber pada kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
      Pendekatan filosofis yang esensial ini adalah lahirnya sikap dan pandangan dasar yang meyakini bahwa Islam sebagai agama wahyu yang mengandung konsep-konsep, wawasan, ide-ide dasar yang memberi inspirasi terhadap pemikiran umat manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya.
     
      2. Pendekatan Sistem
      Watak ilmu pendidikan Islam adalah sistematik dan konsisten menuju ke arah tujuan yang hendak dicapai. Maka pendidikan Islam memerlukan pendidikan yang sistematis dan aspiratif terhadap kebutuhan umat.
      Selain dengan pendekatan sistem, orientasi pendidikan Islam memiliki karakteristik yang bersifat “goal oriented” yang secara operasional dapat dikembangkan ke dalam model sebagai berikut:
a.  Secara sistematis, manusia didik dipandang sebagai makhluk yang integralistik total yng terbentuk dari unsur rohaniah dan jasmaniah yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
b.  Secara paedagogis, pendidikan Islam diletakkan pada strategi pengembangan seluruh kemampuan dasar integralistik bertujuan membentuk pribadi muslim yang  paripurna dalam dimensi rohaniah dan jasmaniahnya untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Islam yang berorientasi pada kesejahteraan hidup dunia dan akhirat secara simultan.
c.  Institusionalisasi (pelembagaan), pendidikan Islam diwujudkan dalam struktur yang hirarkis berjenjang sejalan dengan tingkat perkembangan jiwa anak didik menuju optimalisasi belajarnya yang mendalam dan meluas. 
d.  Secara kurikuler, pendidikan Islam mengarahkan seluruh input instrumental (guru, metode, kurikulum, dan fasilitas) dan input environmental (tradisi, kebudayaan, lingkungan masyarakat, lingkungan alam) menjadi suatu bentuk program kegiatan kependidikan menuju kepada realisasi cita-cita Islam.

      3. Pendekatan Paedagogis
      Pendekatan ini berpandangan bahwa anak didik adalah makhluk Tuhan yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan jasmani dan rohani yang memerlukan bimbingan dan pengarahan melalui proses pendidikan.
      Ilmu pendidikan Islam dilihat dari segi psikologi dan pedagogis mencakup lima faktor, yaitu:
1. Pendidik
2.         Anak didik
3.         Alat pendidikan
4.         Lingkungan
5.         Cita-cita dan tujuan
      Untuk melaksanakan kelima faktor pendidikan tersebut diperlukan model tertentu yang akomodatif terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Model tersebut dapat diabstraksikan sebagai berikut:
1. Secara paedagogis, peserta didik dipandang sebagai makhluk termulia yang harus dididik dan belajar agar tetap menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah yaitu manusia muslim yang paling bertaqwa kepada-Nya.
2. Secara epistemologi, peserta didik adalah hamba Allah yang diberi kemampuan belajar berkat naluri ingin tahu (curiosity) yang dengan pengetahuannya manusia dapat mengenal Tuhannya.
3. Secara kurikuler, proses kependidikan Islam mengandung materi pelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan manusia peserta didik selaku hamba Allah yang harus beribadah kepada-Nya, dengan kelengkapan ilmu agama dan pengetahuan umum yang integral menjadi satu acuan yang menjadi tempat kembalinya permasalahan hidupnya yang cenderung untuk berkembang terus sampai meninggal dunia.

      4. Pendekatan Keagamaan (Spiritual)
Pendekatan ini memandang bahwa ajaran yang bersumberkan Al-Qur’an dan Hadis menjadi sumber inspirasi dan motivasi pendidikan Islam. Secara prinsip Allah SWT telah memberi petunjuk bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki struktur dan postur psikis dan fisik yang paling sempurna yang dapat berkembang ke arah pola kehidupan yang bertaqwa kepada pencipta-Nya.
      Model yang ideal bagi proses pendidikan Islam dengan nilai-nilai religius Islam tersebut dapat dideskripsikan secara prinsipil sebagai berikut:
1. Pandangan religius, tiap manusia adalah makhluk berketuhanan yang mampu mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertaqwa dan taat kepada Allah sesuai dengan fitrahnya manusia menjadi hamba Allah yang mengabdi dan berserah diri kepada-Nya.
2  Proses kependidikan, diarahkan kepada terbentuknya manusia muslim yang dedikatif kepada Allah dan bersikap menyerahkan diri secara total kepada-Nya. Dirinya dan keseluruhan hidupnya adalah milik Allah semata.
3. Kurikulum pendidikan Islam harus diisi dengan materi pelajaran yang mengandung nilai spiritual yang komunikatif kepada pencipta alam serta mendorong minat anak didik untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
4. Strategi operasionalisasi adalah meletakkan anak didik berada dalam proses pendidikan Islam sepanjang hayat dari lahir sampai meninggal dunia. Dalam kehidupan itulah dijumpai makna edukatif bagi pengembangan hidup keagamaan, sedangkan pendidikan formal untuk merentangkan makna kehidupannya selaku hamba Allah yang taat.



      5. Pendekatan Historis
      Berbagai pandangan ulama dan ilmuwan Islam untuk menganalisa pendidikan Islam menunjukkan bahwa pada prinsipnya pendidikan Islam berproses dalam lima aspek, yaitu:
1. Ideal
Proses pendidikan Islam sesuai dengan cita-cita ajaran Islam
2. Institusional
Tujuan atau cita-cita akan lebih mudah dicapai melalui proses kependidikan jika ditransformasikan melalui institusi (lembaga) kependidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
3. Struktur
Struktur (bentuk) kelembagaan kependidikan yang berjenjang (bertingkat) untuk mencapai tujuan pendidikan secara bertahap sesuai tingkat perkembangan anak didik.
4. Material
Tujuan akhir dan sementara pendidikan Islam menentukan corak materi pelajaran yang efektif dan efisien, yang diajarkan dengan karakteristik dan idealitas nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan. Berdasarkan pengamatan sejarah pendidikan Islam bahwa pada masa keemasan peradaban dan pembaharuan pemikiran umat Islam terbukti di kalangan umat Islam telah dikembangkan prinsip-prinsip modernisasi, yaitu:
a.  Para pemuka umat Islam telah berusaha melakukan reorientasi pemikiran ke arah pemurnian ajaran Islam sesuai dengan sumbernya yang pokok yaitu Al-Qur’an dan Hadis.
b.  Ijtihad tetap terbuka dan diajarkan oleh para pembaharu umat Islam sejak masa Jamaluddin Al-Afghani sampai sekarang dengan modifikasi pemikiran yang berorientasi kepada kebutuhan modernisasi kehidupan umat sejalan dengan dinamika kemajuan IPTEK.
c.  Para ilmuwan dan ulama sejak zaman keemasan telah berusaha mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan.
d.  Membangkitkan semangat mempelajari dan meneliti bidang-bidang keilmuan Islam dengan latar belakang iman.
e.  Dari segi pendekatan sosiokultural, umat Islam pada masa kejayaan telah mampu mengembangkan 60 cabang ilmu pengetahuan sebagai disiplin ilmu. Pada masa itu ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum.1

     B.  Metode Pendidikan Islam
      1. Pengertian  Metode Pendidikan Islam
Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “metha” dan “hodos.” Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.
Untuk lebih memahami metode itu sendiri seyogiyanya harus diketahui beberapa istilah lain yang berkaitan dengan metode yaitu strategi dan teknik. Strategi adalah langkah-langkah yang disusun untuk mencapai tujuan, sedangkan teknik terbagi dua yaitu teknik langsung dan teknik tidak langsung.
Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa metode pembelajaran adalah suatu teknik penyampaian bahan pelajaran oleh guru kepada murid agar murid dapat memahami pelajaran dengan mudah dan efektif.
Menurut Al-Nahlawi dalam Al-Qur’an dan Hadis dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Menurut Al-Nahlawi, metode untuk menanamkan rasa iman adalah:
1  Metode hiwar (percakapan qur’ani dan nabawi)
2. Metode kisah qur’ani dan nabawi
3. Metode amsal (perumpamaan qur’ani dan nabawi)
4. Metode keteladanan
5. Metode pembiasaan
6. Metode ibrah dan mau’idzoh
7. Metode targhib dan tarhib.2
      Dalam dunia pendidikan dikenal empat metode ilmu pendidikan, yaitu:
1.         Metode empiris-positivistis yang berkembang di Inggris dan AS
2. Metode hermeneutik Metode ini berusaha memahami kenyataan pendidikan yang konkret dan historis untuk menjelaskan makna struktur dari kegiatan pendidikan.
3. Metode deskriptif fenomenologis. Metode ini mencoba menguraikan kenyataan pendidikan dan mengklasifikasikannya tanpa membawa perubahan dalam praktik. Metode ini berpangkal pada pengalaman luar dan menguraikan ciri-cirinya.
4. Metode filosofis kritis. Metode ini mengkritik semua metode yang ada.
      Selain dari empat metode yang lengkap meliputi segala aspek ilmu pendidikan, ada metode lain yang hanya membicarakan sebagian dari ilmu pendidikan Islam, seperti syarat-syarat pendidikan, norma-norma pendidikan, dan lain-lain yang disebut metode kombinasi.3
      Dalam sejarah pendidikan Islam dapat diketahui bahwa para pendidik muslim dalam beberapa situasi dan kondisi yang berbeda telah menerapkan berbagai metode pendidikan. Ulama-ulama muslim yang mengemukakan pendapat tentang metode pendidikan di antaranya:
1. Al-Ghazali
 -  Lebih cenderung berfaham empirisme. Karena itu beliau sangat menekankan pengaruh pendidik terhadap anak didik.
-   Dalam proses pendidikan dimulai dengan hafalan diteruskan dengan pemahaman
-   Pendidikan yang diinginkan adalah pendidikan yang diarahkan pada pembentukan akhlak mulia.
2. Ibnu Khaldun
-   Hendaknya tidak memberikan pelajaran yang sulit kepada anak didik
-   Anak didik diajarkan pelajaran yang sederhana yang dapat dipahami akal pikiran kemudian secara bertahap diajarkan pelajaran yang lebih sukar dengan menggunakan alat peraga tertentu.
3. Ibnu Sina
  - Lebih menekankan pendidikan moral
  - Metode yang diperlukan adalah metode pembiasaan, perintah dan larangan, pemberian motivasi, hadiah dan hukuman.
4. Muhammad Abduh
-   Menekankan kemampuan rasio dengan memahami ajaran Islam dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai pengganti metode hafalan.4 
2. Jenis-jenis Metode Pembelajaran
    1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara penyajian yang dilakukan guru dengan penjelasan secara langsung kepada siswa.
Kelebihannya:
a.  Mudah dilakukan oleh guru
b.  Materi yang banyak dapat dijelaskan oleh guru dalam waktu singkat
c.  Guru dapat menjelaskan dengan menekankan materi-materi yang penting.
d.  Guru dengan mudah menguasai kelas.
e.  Organisasi kelas dapat diatur menjadi lebih sederhana

Kekurangannya:
a.  Akan menimbulkan kebiasaan buruk terhadap siswa karena siswa tidak dibiasakan mencari dan mengolah informasi dan hanya ingin dibina sebagai penerima informasi.
b.  Informasi yang disampaikan mudah usang
c.  Hal-hal yang disampaikan guru hanya terbatas pada materi yang diingat guru saat itu
d.  Tidak semua murid mampu menerimanya dengan baik apabila dihubungkan dengan pendengaran.
e.  Tidak semua siswa memiliki daya tangkap yang tajam
f.   Kurang memberikan rangsangan terhadap kreativitas siswa dalam mengemukakan pendapat
g.  Dapat menimbulkan verbalisme

2. Metode Tanya Jawab
Metode ini merupakan metode tertua yang banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab baik oleh guru maupun oleh siswa.
Kelebihannya:
1.   Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa
2.   Merangsang siswa untuk lebih melatih    mengembangkan daya pikir/daya ingatnya
3.   Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat
4.   Dapat mengetahui daya pikir siswa dalam mengemukakan pokok-pokok pikiran dalam menjawab dan kemampuan siswa dalam penguasaan materi
5.   Sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa dalam penelusuran berbagai sumber belajar.
Kekurangannya:
1.   Tidak mudah membuat pertanyaan yang mudah dipahami siswa
2.   Siswa sering merasa takut bila guru kurang bisa menciptakan suasana
3.  Guru masih mendominasi proses belajar mengajar
4.   Waktu yang digunakan menjadi kurang efisien bila jumlah siswa terlalu banyak
5.   Waktu sering terbuang bila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan

3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari siswa.
Kelebihannya:
1.   Pengajaran menjadi lebih jelas dan konkret
2.   Siswa lebih mudah memahami materi pelajaran
3.   Proses pengajaran akan lebih menarik
4.   Siswa dirangsang untuk aktif mengamati dan menyesuaikan materi antara teori dengan kenyataan.
Kekurangannya:
1.   Guru harus memiliki keterampilan khusus
2.   Fasilitas dan biaya tidak selalu tersedia dengan baik
3.   Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang serta  waktu yang lama

4. Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah cara penyajian pelajaran dengan membawa siswa mempelajari sumber-sumber mata pelajaran di kelas.
Kelebihannya:
1.   Metode ini merupakan aplikasi prinsip pengajaran yang disebut asas aktivitas dalam belajar
2.   Lebih merangsang siswa untuk lebih banyak belajar dan dapat mengembangkan kemandirian siswa
3.   Membiasakan siswa mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi
4.   Dapat membawa efek instruksional dan efek pengiring untuk tugas di dalam dan di luar kelas
5.   Membina tanggung jawab dan disiplin siswa serta dapat mengembangkan kreativitas siswa.
Kekurangannya:
1.   Siswa sulit dikontrol, khusus tugas kelompok tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikan tugas hanya anggota tertentu.
2.   Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individual siswa
3.   Dapat menimbulkan kebosanan siswa jika tugas yang diberikan tidak bervariasi
4.   Sering menjadi keluhan dan beban siswa jika pemberian tugas sering tidak disertai penilaian.

5. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dalam usaha mencari pemecahan atau jawaban siswa.
Kelebihannya:
1.    Pendidikan di sekolah lebih relevan
2.  Membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, baik permasalahan pribadi, keluarga, masyarakat, dan sebagainya
3.  Merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh.
Kekurangannya:
1.   Kemampuan dan keterampilan seorang guru dalam menentukan suatu masalah sesuai dengan tingkat berpikir siswa sangat diperlukan
2.   Memerlukan waktu yang sangat banyak dan sering mengambil waktu pelajaran lain.
3.   Merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa karena dalam pemecahan suatu masalah memerlukan berbagai sumber belajar.

6. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian bahan pelajaran di mana siswa dihadapkan pada suatu permasalahan berupa pertanyaan atau yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
Kelebihannya:
1.   Merangsang kreativitas siswa dalam bentuk ide-ide, gagasan, prakarsa, dan terobosan baru dalam pemecahan masalah
2.   Membiasakan siswa bertukar pikiran dengan temannya atau orang lain
3.  Dapat dibina sikap demokrasi pada siswa
4.  Cakrawala berpikir menjadi lebih luas
5.   Hasil diskusi adalah hasil pemikiran bersama dan dipertanggungjawabkan bersama yang melibatkan banyak orang.
Kekurangannya:
1.   Menentukan suatu masalah yang sesuai dan menarik bagi siswa bukan hal  yang mudah
2.   Sering terpaksa memperpanjang waktu dari yang direncanakan
3.   Kadang-kadang pembahasan menjadi lebih luas dan mengembang sehingga masalah pokok menjadi kabur
4.   Perbedaan pendapat yang emosional dan tidak terkontrol dapat menyinggung perasaan.


6. Metode Simulasi
               Metode ini pada hakikatnya diangkat dari situasi kehidupan. Simulasi berasal dari kata simulate yang berarti berpura-pura atau berbuat seolah-olah, atau simulation yang berarti tiruan atu perbuatan yang hanya berpura-pura saja.
Kelebihannya:
1.   Dapat memupuk daya cipta siswa
2.   Merangsang siswa menjadi biasa dan terampil dalam menanggapi dan bertindak secara spontan
3.   Memperkaya pengetahuan, sikap, keterampilan, dan pengalaman tidak langsung dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematik
4.   Siswa belajar menghargai dan menerima pendapat orang lain.
Kekurangannya:
1.   Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sempurna
2.   Pelaksanaan simulasi sering menjadi kaku dan tidak jarang hanya dijadikan sebagai alat hiburan
3.   Menuntut hubungan yang akrab, fleksibel, dan demokratis

7. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sesuatu yang sedang dipelajari.
Kelebihannya:
1.   Dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran dan kesimpulan berdasarkan percobaan sendiri
2.   Mengembangkan sikap eksploratif tentang sains dan teknologi
3.   Didukung oleh asas-asas didaktik modern.
Kekurangannya:
1.   Memerlukan berbagai fasilitas yang tidak mudah diperoleh
2.   Tidak semua materi pelajaran dapat dieksperimenkan
3.   Menuntut penguasaan pengembangan materi, fasilitas, peralatan dan bahan mutakhir
4.   Lebih sesuai menyajikan bidang-bidang sains dan teknologi.

8. Metode Penemuan (Discovery-Inquiry)
Metode penemuan adalah cara penyajian bahan pelajaran yang melibatkan siswa dalam proses mental dalam rangka penemuannya.
Kelebihannya:
1.   Pengajaran menjadi student centered
2.   Proses belajar meliputi semua aspek menuju kepada pembentukan manusia seutuhnya.
Kekurangannya:
1.   Pemecahan masalah bersifat mekanistis, formalitas, dan membosankan
2.   Menuntut bimbingan guru yang lebih baik dalam penyelidikan yang dilakukan siswa
3.   Kebebasan yang diberikan kepada siswa tidak dapat menjamin keaktifan dan ketekunan siswa.

9. Metode Proyek atau Unit
Metode proyek atau unit adalah penyajian bahan pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. 
Kelebihannya:
1.   Dapat merombak pola pikir siswa yang sempit menjadi luas dan menyeluruh
2.   Siswa dibina dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu
3.   Bahwa pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang lebih diperlukan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis sehari-hari.
Kekurangannya:
1.   Baik secara vertikal maupun horizontal, kurikulum nasional belum menunjang pelaksanaan metode ini
2.   Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini memerlukan keahlian khusus
3.   Spesialisasi setiap mata pelajaran sangat diperlukan dalam pemecahan masalah-masalah kehidupan.5 
Di samping metode-metode di atas, ada cara atau metode lain yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, yaitu:
1. Metode Diakronis
Suatu metode ajaran Islam yang mengandung aspek sejarah. Metode ini disebut juga metode sosio-historis yang membuat anak didik memahami ajaran Islam berdasarkan sejarah. Metode ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 176.
2. Metode Sinkronis Analitik
Suatu metode pendidikan Islam yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental intelek. Metode ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Taubah ayat 122.
3. Metode Empiris        
Metode ini merupakan latihan anak dalam mempelajari proses realisasi, aktualisasi dan internalisasi norma-norma dan kaidah Islam melalui suatu proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial dengan dalil. Metode ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104
4. Metode Problem Solving
Metode ini merupakan pelatihan anak didik yang dihadapkan pada berbagai masalah suatu cabang ilmu pengetahuan. Metode ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Fushshilat ayat 53.
5. Metode Induktif
Metode yang dilakukan pendidik dengan cara mengajarkan materi yang khusus kepada yang umum.
6. Metode Deduktif
Metode yang digunakan pendidik dalam mengajarkan ajaran Islam melalui cara menampilkan kaidah yang umum kemudian menjabarkan dengan berbagai contoh masalah sehingga terurai.6

    C. Tujuan, Fungsi, dan Tugas Utama Metode Pendidikan Islam
Tujuan penggunaan metode adalah agar menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran Islam lebih berdaya guna dan berhasil guna serta menimbulkan kesadaran pada anak didik untuk mengamalkan ajaran Islam dan sebagai teknik motivasi untuk membangkitkan gairah belajar anak didik secara mantap. Uraian ini menunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan bagi anak didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerjasama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan anak didik.
Tugas utama dari metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa memahami, mengetahui, menghayati, dan meyakini materi  yang diberikan serta dapat meningkatkan pola pikir. Selain itu tugas utama metode pendidikan Islam adalah membuat perubahan dalam sikap dan minat serta penemuan nilai dan norma yang berhubungan dengan pelajaran dan perubahan dalam pribadi dan bagaimana faktor-faktor tersebut diharapkan menjadi pendorong ke arah perbuatan nyata.
Al-Syaibani mengemukakan dasar-dasar penyusunan metode pendidikan Islam. Ada empat hal yang menjadi pertimbangan penggunaan metode pendidikan Islam, yaitu:
1. Dasar agama, yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, perbuatan sahabat dan ulama salaf
2. Dasar biologis, meliputi kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia anak
3. Dasar psikologis, meliputi motivasi, kebutuhan emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan bakat dan intelektual anak didik.
4. Dasar sosial, meliputi pertimbangan kebutuhan sosial di lingkungan anak didik.
      Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Al-Syaibani mengungkapkan bahwa metode pendidikan Islam mencakup empat tujuan pokok, yaitu:
1. Menolong anak didik mengembangkan kemampuan    individualnya
2. Membiasakan anak didik membentuk sikap yang baik
3. Membantu anak didik bersikap efektif dan efisien
4. Membimbing aktivitas anak didik.7



      D. Kesimpulan
      Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai pendekatan dan metode yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Di antara pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan filosofis, sistem, paedagogis, keagamaan, dan historis. Di antara metode yang dapat digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, eksperimen, dan lain-lain. 


(Endnotes)
1 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. IV, h. 116-134
2 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), Cet. II, h. 135
3 M. Said, Ilmu Pendidikan, (Bandung: PT Alumni, 1989), h. 11-13
4 Abdur Rahman Al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 205
5 Sudirman, Ilmu Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), h. 113
6 Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: PT Trigandakarya, 1993), h. 250
7 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 54-55 cari Syaibani

















BAB IX
LINGKUNGAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Berbicara mengenai pendidikan tidak mungkin terlepas dari suatu proses yang panjang. Oleh karena itu, mencapai tujuan pendidikan tidak secepat membalikkan telapak tangan. Merupakan fitrah pada diri manusia di mana dalam dirinya berpeluang untuk dapat menerima dan menyerap segala hal, baik atau buruk yang ada di sekitarnya. Karena itu Islam dalam hal ini memfilter keadaan tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis yang merupakan dasar pokok pendidikan Islam.
      Pendidikan dalam Islam meliputi dasar dan tujuan, peserta didik, pendidik, kurikulum, metode, lingkungan, alat, evaluasi, dan kegunaan ilmu pendidikan Islam, yang kesemuanya ini sangat berperan dalam menentukan berhasil atau tidaknya pendidikan. Salah satu bagian yang penting tersebut adalah lingkungan, sebab pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungannya, yang terkadang dapat memberi implikasi positif dan negatif terhadap  pertumbuhan dan perkembangan anak, sikap, akhlak, dan perasaan agamanya.

      A. Pengertian Lingkungan Pendidikan
      Dalam arti luas lingkungan mencakup iklim, geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan, dan alam. Dengan kata lain, lingkungan adalah segala sesuatu yang ada dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Lingkungan adalah seluruh yang ada, baik manusia maupun benda buatan manusia, atau alam yang bergerak atau tidak bergerak, atau kejadian-kejadian yang mempunyai hubungan dengan seseorang.1
      Menurut Mohammmad Al-Toumy Al-Syaibani, lingkungan adalah ruang lingkup yang berinteraksi dengan insan yang menjadi medan dan aneka bentuk kegiatannya. Keadaan sekitar benda-benda, seperti air, udara, bumi, langit, matahari, dan sebagainya, juga masyarakat yang mencakup insan pribadi, kelompok, institusi, sistem, undang-undang, adat kebiasaan, dan sebagainya.2 
Seorang psikolog, Sartain menegaskan tentang pengertian lingkungan sebagai berikut: The world environment “is to say that it includes all the conditions inside and outside the organism that influence in any way our behavior, growth, development, or life process-except the genes, and even genes can be considered to provide environment for other genes” …the composition of our environment, let us devide it into two main parts the internal environment and external environment.3 
      Berdasarkan pengertian di atas, yang dimaksud dengan lingkungan dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu:
1  Lingkungan dalam, meliputi gizi, vitamin, suhu, intelegensi, kondisi psikologis, seperti sikap, minat, motivasi, dan lain-lain
2. Lingkungan luar, terdiri dari:
a.  Lingkungan alam, seperti iklim, suhu, geografis, siang, malam
b.  Lingkungan sosial, berupa individu, masyarakat, organisasi, dan lain-lain.
      Jadi, yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang terdapat di sekitar anak didik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak didik.       

      B. Lingkungan Pendidikan Islam
      Dalam pengertian yang luas, lingkungan pendidikan Islam terbagi dua, yaitu:
1. Lingkungan pendidikan di dalam sekolah
2. Lingkungan pendidikan di luar sekolah, meliputi keluarga, masyarakat, dan negara serta individu.
      Namun pembahasan ini akan dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama sebelum anak mengenal lingkungan pendidikan yang lain.
    1. Keluarga
      Keluarga  merupakan suatu unit sosial terkecil dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Pengertian keluarga dalam Islam adalah suatu sistem kehidupan masyarakat terkecil yang dibatasi oleh adanya keturunan (nasab) atau disebut ummah akibat adanya kesamaan agama.
Keluarga merupakan unit pertama dalam masyarakat. Di situlah terbentuknya tahap awal proses sosialisasi dan perkembangan individu. Setiap orang tua memikul tanggung jawab memelihara dan melindungi anaknya, baik dari segi biologis agar anak-anak dapat tumbuh secara wajar maupun dari segi psikologis. Untuk memenuhi kebutuhan biologis anak yang masih bayi itu, secara alamiah diciptakan Allah air susu ibu dalam kandungan. Inilah proses sosialisasi anak yang pertama kali dalam keluarga, yang dalam hal ini sosialisasi dengan ibu. ASI (Air Susu Ibu) juga merupakan manifestasi tanggung jawab ibu yang diberikan kepada anaknya. Firman Allah SWT:
Artinya: “Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al-Baqarah: 223)
      Sedangkan sebagai pendidik mereka memikul tanggung jawab membimbing, membantu, dan mengarahkan perkembangan anak agar mencapai kedewasaan sebagaimana dicita-citakan. Diharapkan setelah anak melampaui pendidikan keluarga yang panjang, ia mampu berdiri sendiri dalam arti dapat hidup layak bersama orang lain dan mampu bertanggung jawab atas perbuatannya pada diri sendiri, masyarakat, dan kepada Tuhan.
      Keluarga juga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulan di antara anggotanya bersifat khas. Dalam lingkungan ini terletak dasar-dasar pendidikan. Di sini pendidikan berlangsung dengan sendirinya tanpa harus diumumkan terlebih dahulu agar diketahui dan diikuti oleh anggota keluarga.
      Pada umunya para pendidik Muslim menjadikan Luqmanul Hakim sebagai contoh dalam pendidikan, di mana nasihatnya kepada anaknya terdapat dalam Surat Luqman ayat 13-19. Allah mengatakan Luqman dikaruniai hikmah dan kebijaksanaan. Ayat-ayat tersebut mencerminkan:
1. Pembinaan iman dan tauhid
2. Pembinaan akhlak
3. Pembinaan agama
4. Pembinaan kepribadian dan sosial
      Untuk mencapai tujuan pendidikan keluarga, orang tua harus melatih akal anak seperti berdiskusi kecil-kecilan di rumah. Di samping itu, orang tua harus mendidik anak dengan pendidikan kalbu/agama. Ada dua arah mengenai kegunaan pendidikan rumah tangga, pertama penanaman nilai/pandangan hidup yang kelak mewarnai perkembangan jasmani dan akalnya, kedua penanaman sikap yang kelak menjadi basis dalam menghargai guru dan teman di sekolah.4 
      Keluarga bahagia dan sejahtera yang dijiwai oleh pancaran sinar tauhid tidak tercipta dengan sendirinya, tetapi harus melalui proses sosialisasi dengan beberapa metode yang dilakukan orang tua, yaitu:
1. Pembiasaan
2. Keteladanan
3. Perintah dan larangan
4. Latihan dan praktikum
5. Ganjaran
6. Hukuman5
      Pertumbuhan kecerdasan anak sampai umur enam tahun terkait dengan  alat inderanya, atau biasa yang disebut berpikir inderawi, artinya  anak belum mampu memahami hal yang abstrak. Karena itu pendidikan dan pembinaan iman dan taqwa belum dapat menggunakan kata-kata (verbal), tetapi diperlukan teladan, pembiasaan dan latihan secara alamiah. Misalnya si anak biasa mendengar orang tuanya membaca Al-Qur’an, dan berdoa kepada Allah, mengucap kalimat thayyibah, dan di bulan Ramadhan melakukan sahur bersama, buka puasa bersama, shalat tarawih dan witir, tadarus, dan merayakan hari kemenangan/Idul Fitri. Anak memperoleh nilai-nilai keimanan yang sangat penting dan diserapnya masuk ke dalam perkembangan kepribadiannya.
      Kemudian timbul permasalahan, bagaimana anak yang telah mengenal lingkungan luar, televisi dan lainnya, sehingga terkadang teladan dari orang tua dan Nabi tidak begitu dipedulikan? Di sinilah pentingnya pendidikan keluarga. Jika pondasi pendidikan dari orang tua itu kuat, maka pengaruh-pengaruh tersebut dapat dikatakan bagai suatu hal yang mampir dalam kehidupan anak karena orang tua selalu mengarahkan dan menunjukkan kepeduliannya kepada anak. Dalam suatu keluarga seharusnya kedua orang tua itu seiman agar pendidikan yang diarahkan kepada anak tetap pada satu tujuan. Kita pun tidak boleh lupa bahwa untuk mencapai keluarga yang harmonis unsur utama dalam pendidikan keluarga yaitu adanya rasa kasih sayang dan kewibawaan dari orang tua.
   
      2. Sekolah
      Kegiatan pendidikan pada mulanya dilaksanakan dalam lingkungan keluarga dengan menempatkan peran ayah dan ibu sebagai pendidik utama. Semakin dewasa anak semakin banyak hal yang dibutuhkannya untuk dapat hidup di masyarakat secara layak dan wajar. Karenanya untuk dapat mencapai hal tersebut, anak selain membutuhkan pendidikan keluarga juga membutuhkan lingkungan lain, seperti pendidikan sekolah.
      Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan   pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana. Guru-guru yang melaksanakan tugas pembinaan, pendidikan dan pengajaran tersebut adalah orang-orang yang telah memiliki pengetahuan tentang anak didik, dan kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan.6 Sekolah juga merupakan organisasi kerja atau sebagai wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai organisasi atau wadah tentunya ia merupakan alat, bukan tujuan.7
      Dari definisi di atas jelas bahwa sekolah itu adalah suatu lembaga atau organisasi yang melakukan kegiatan pendidikan berdasarkan kurikulum tertentu yang melibatkan sejumlah murid dan guru yang harus bekerja sama untuk suatu tujuan.
      Eksistensi sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. Plato adalah orang pertama yang meninggalkan catatan tertulis mengenai ruang kelas dan sekolah. Sekolah pertama orang Athena sangat sederhana. Sekolah itu berupa tambahan dari suatu program pendidikan yang dititikberatkan pada latihan kemiliteran, atletik, musik, dan puisi. Pengajaran membaca, menulis, dan berhitung hanya pelajaran sampingan saja. Pendidikan di Athena itu bersifat tutorial. Ketika Athena menjadi lebih demokratis, jumlah murid yang semakin bertambah, maka secara berangsur-angsur hubungan tutorial itu diganti dengan pengajaran kelompok.
      Adapun pertumbuhan dan perkembangan pendidikan sekolah dalam Islam meliputi:
      1. Sekolah Zaman Rasulullah SAW
      Kondisi aktivitas persekolahan baru mengalami perubahan yang berarti ketika Islam lahir. Bagi bangsa Arab, masjid merupakan sekolah pertama yang bersifat umum dan sistematis. Di masjid anak-anak dan orang dewasa menuntut ilmu. Masjid juga digunakan oleh kaum fakir miskin untuk berlindung dari dinginnya udara sambil belajar agama. Terkadang masjid digunakan untuk latihan perang. Dengan demikian masjid tetap difungsikan untuk dua kepentingan yang saling menunjang hingga pada masa khalifah Umar bin Khatttab yang membangun tempat-tempat khusus untuk anak-anak menuntut ilmu, di sudut-sudut masjid.  Sejak zaman itulah pendidikan anak mulai tertata. Hari Jum’at merupakan hari libur mingguan sebagai waktu menyiapkan shalat Jum’at, di mana usulan itu berasal dari Umar bin Khattab. Masjid menjadi pusat pengajian yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok studi yang setara dengan SMA sekarang.
     
      2. Sekolah Periode Abbasiyah Akhir
      Setelah kekhalifahan Abbasiyah berpindah dari satu periode ke periode selanjutnya, banyak negara kecil yang berhasil melepaskan diri dari kekhalifahan. Mereka mulai membangun tempat-tempat pengajian ilmu atau madrasah dengan sistem internal dan setiap lokal madrasah memuat sepuluh orang siswa. Sekolah terlihat dalam bentuk kubah-kubah yang menyembul dari kebun-kebun milik masyarakat. Di kota-kota terdapat madrasah seperti madrasah Al-Zhariyah yang didirikan oleh Raja Zhahir, dan madrasah Al-Nuriyah yang didirikan oleh Nuruddin Zanki. Sistem pengajaran di madrasah tetap memiliki otonomi sendiri, baik dalam sistem kurikulum, referensi, metode, dan lain-lain. Hubungan madrasah dengan pemerintah hanya menyangkut masalah pendanaan.
     
      3. Sekolah Zaman Modern
      Terselenggaranya sekolah-sekolah modern seperti yang kita lihat sekarang lebih disebabkan oleh adanya perubahan sistem kehidupan politik. Artinya negara merasa perlu mengurus rakyat dan memandang dirinya bertanggung jawab terhadap seluruh masalah pangan, kekayaan, kecenderungan politik yang semua itu berkaitan dengan perwujudan kemerdekaan, kemuliaan dari para pejabat negara, serta kehormatan negara di mata negara lain. Seluruh persoalan tersebut ditumpukan pada pendidikan. Itulah alasan sosial dan politik yang memotivasi pemerintah untuk memegang kendali pendidikan, termasuk dalam penyiapan kurikulum, bangunan sekolah, maupun tenaga pengajarnya.
      Seperti telah disebutkan, bahwa dalam perkembangan dunia pendidikan Islam, khalifah sangat menaruh perhatian terhadap keberadaan madrasah, seperti yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Sepintas lalu sistem Islam dan non Islam tidak berbeda. Namun jika ditinjau lebih jauh, akan ditemukan metode dan aplikasi yang berbeda. Islam memberikan kebebasan penyelenggaraan pendidikan Islam secara penuh kepada pengelola dan rakyat pun percaya atas pengelolaan wakil-wakil mereka karena memiliki aturan dan tujuan yang sama. Sekolah-sekolah Islam tetap berpegang teguh pada tujuan fundamental, yaitu merealisasikan pendidikan Islam demi tercapainya ketaatan kepada Allah dan melahirkan kemanfaatan sosial, ekonomi, keamanan, maupun demokrasi.8  
      Adapun pemindahan lembaga pendidikan dari masjid ke madrasah disebabkan semakin banyak penuntut ilmu dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan agama dan umum. Hal ini terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah akhir dan orang yang berjasa dalam mendirikan madrasah adalah perdana menteri Nizham Al-Mulk.
      Sampai sekarang madrasah berkembang ke seluruh negara Islam. Sekolah sebagai jalur pendidikan formal diselenggarakan atas syarat-syarat, tujuan, dan alat-alat tertentu yang pelaksanaannya berpedoman pada:
1. Kurikulum harus bersifat dinamis terhadap perkembangan masyarakat
2. Alat-alat dan media fisik dan nonfisik seperti bahan bacaan Al-Qur’an dan Hadis, alat audio visual, mushalla, dan lain-lain
3. Administrasi dan supervisi serta organisasi yang mantap
4. Sistem dan metodologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.9
            3. Masyarakat
      Masyarakat merupakan lingkungan dan lembaga pendidikan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Pendidikan masyarakat sudah dimulai sejak anak-anak lepas dari asuhan keluarga dan sekolah. Pendidikan masyarakat dilaksanakan dengan sengaja, tetapi tidak begitu terikat dengan peraturan dan syarat tertentu.10
      Di masyarakat terdapat lembaga-lembaga pendidikan, seperti masjid, asrama, perkumpulan olahraga, KNPI, Karang Taruna, organisasi kesenian, dan sebagainya yang tidak terikat dengan peraturan dan syarat tertentu. Kesemuanya itu membantu pendidikan dalam membentuk sikap, keagamaan, kesusilaan, dan menambah ilmu. Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam akan diterangkan beberapa lembaga dan organisasi yang ada di masyarakat.
1. Masjid
      Setelah Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah, aktivitas pertama yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid yang dapat menghimpun kaum muslimin. Sebagai lingkungan pendidikan Islam, masjid mempunyai fungsi:
a.  Fungsi Edukatif.
Masjid berfungsi sebagai tempat pembinaan angkatan  perang dan gerakan kemerdekaan, pembebasan umat dari penyembahan berhala, juga tempat manusia dididik supaya memegang teguh keutamaan, cinta kepada ilmu pengetahuan, mempunyai kesadaran sosial, serta menyadari hak dan kewajiban mereka dalam negara Islam.
b   Fungsi Sosial.
Ketika perang menerpa kaum muslimin, masjid digunakan sebagai tempat berlindung, sebagaimana pernah terjadi pada perang Salib pertama dan kedua yang ketika itu kaum muslimin melawan penjajah yang bercokol satu abad lebih. Revolusi Aljazair pun berbasis di pondok-pondok dan sekolah-sekolah Islam yang berada di masjid. Demikian pula gerakan Islam di Pakistan, Afganistan, dan sebagainya.11

            2. Asrama
      Dalam waktu tertentu hubungan anak dengan keluarga dapat terputus. Terputus ini  mungkin dapat diartikan seorang anak yang salah satu orang tuanya meninggal, sehingga secara lahir terputuslah hubungannya, walaupun secara batin dan hubungan darah tetap ada selamanya. Asrama bukan hanya sebagai tempat penempatan anak yang terputus, namun orang tua bisa bekerja sama dengan pengurus asrama untuk penitipan anak.
Jenis-jenis asrama yang dikenal adalah asrama yatim piatu, asrama tampung karena orang tua tidak mampu atau orang tua menitipkan pendidikan anak kepadanya, asrama yang didirikan dalam sekolah, dan asrama untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan suatu jabatan.

            3. Negara
      Negara merupakan alat masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Karena itu, sebagai organisasi, negara dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan serta dapat menetapkan tujuan bersama.12 
      Bagi kita umat Islam yang berlandaskan Al-Quran dan Sunnah diperintahkan untuk mentaati syariat Allah yang dibawa Rasul dan juga mentaati Ulil Amri (QS. Al-Nisa ayat 59). Allah memerintahkan kepada kita untuk membentuk pemerintahan (khilafah). Pembentukan pemerintahan ini diperintahkan dengan cara pemilihan. Karena itu dalam pemilihan pemerintahan ini umat Islam diminta hati-hati jangan sampai memilih orang-orang anti Tuhan.
      Setiap negara mempunyai pandangan hidup berbeda yang dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan bernegara, termasuk pendidikan. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk membina manusia tidak bisa terlepas dari pandangan hidup manusia Indonesia, yaitu Pancasila.
      Sebelum Indonesia merdeka, peluang pendidikan modern bagi umat Islam sangatlah sempit karena sikap dan kebijaksanaan kolonial yang amat diskriminatif terhadap umat Islam (pribumi). Setelah Indonesia merdeka, pemerintah RI sangat memperhatikan masalah pendidikan dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Dalam hal ini dipilih Ki Hajar Dewantara sebagai menterinya.
      Berkaitan dengan pasal 31 UUD 1945, mengenai pengelolaan pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah umum dikeluarkan Surat Keputusan Bersama antara Menteri P dan K dan Menteri Agama. Hal ini diatur secara khusus dalam UU No. 4 tahun 1950 pada bab XII pasal 20 dan dalam SKB No. 1432 tanggal 20 Januari 1951 yang isi pokoknya bahwa tiap-tiap sekolah rendah, sekolah lanjutan umum dan sekolah kejuruan diberikan pendidikan agama dan siswa yang berbeda agama dibolehkan meninggalkan jam pelajaran tersebut. Ada satu hal penting bahwa pada masa Orde Lama ini dengan pengejawantahan Manipol Usdek, murid berhak tidak ikut serta dalam pendidikan agama jika wali murid atau murid dewasa menyatakan keberatannya.
      Untuk mengubah mental masyarakat yang sudah terindroktrinasi Manipol Usdek Orde Lama, pemerintah mengeluarkan TAP MPRS No.  XXVII/1966 Bab II Pasal 3 yang intinya mempertinggi mental, moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama.
      Dalam TAP MPRS No. IV/MPR/1973 (GBHN) dirumuskan tentang hakikat pendidikan, yaitu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Oleh kareana itu, agar pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat sesuai dengan kemampuan masing-masing individu maka pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.13 Hal ini jelas sekali bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya diserahkan kepada negara, tetapi keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bekerja sama dengan negara untuk mencapai tujuan pendidikan.
      Sebagai usaha untuk menghilangkan dualisme sistem pendidikan yaitu di satu pihak Departemen Agama mengelola semua jenis pendidikan agama maupun umum, dan di lain pihak Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan melaksanakan sistem pendidikan nasional, maka dikeluarkan UU No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional yang isinya antara lain semua masalah kurikulum pendidikan di bawah koordinasi Depdikbud sebagai wadah formal terintegrasinya pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional, dan hal ini ditindaklanjuti dengan PP No. 28/1990.14
       
            4. Individu/Pribadi
      Menurut Anton M. Maeliono, kata pribadi diartikan keadaan manusia orang perorang atau keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak perorangan. Sedangkan kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dari orang atau bangsa lain. William Stern, seorang pakar psikologi menyatakan bahwa kepribadian merupakan gambaran totalitas yang penuh arti dalam diri seseorang yang ditunjukkan pada satu tujuan tertentu secara bebas. Selanjutnya dalam Oxford Dictionary dan Webster Dictionary diterangkan kepribadian sebagai individuality jika berkaitan dengan ciri khas seseorang, disebut personality jika dihubungkan dengan seluruh sikap lahir  dan batin, disebut mentality jika dihubungkan dengan kemampuan intelektual, dan disebut identity jika dihubungkan dengan sifat mempertahankan jati diri.
      Dalam kaitannya dengan kepribadian, hal-hal yang berkaitan erat adalah karakter dan temperamen. Karakter menjurus ke arah tabiat-tabiat benar atau salah, sedangkan temperamen erat hubungannya dengan perimbangan zat-zat cair dalam tubuh, yaitu orang bersifat pemarah jika cairan empedu kuning lebih banyak, penggembira jika darahnya lebih banyak, tenang jika lendirnya lebih banyak, dan pemurung jika empedu hitamnya lebih banyak. Pembentukan kepribadian merupakan suatu proses yang apabila perkembangannya berlangsung baik, maka akan menghasilkan kepribadian yang harmonis. Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa orang muslim harus memiliki kepribadian yang harmonis. Allah berfirman:
                                                                
Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu suatu umat yang seimbang, adil dan harmonis, supaya kamu menjadi pengawas bagi manusia dan rasul menjadi pengawas atas kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)
      Pembentukan yang harmonis ini dapat ditempuh dengan tiga tahap. Pertama, pembiasaan, pembentukan pengertian, sikap dan minat, dan pembentukan kerohanian yang luhur.15 Kedua, mengasah pikiran untuk ditanamkan pengertian ikhlas dan sabar agar terbentuk sikap untuk menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan sabar dan ikhlas. Ketiga adalah pembentukan kerohanian yang luhur dengan alat utamanya adalah budi dan tenaga-tenaga kejiwaan sebagai alat tambahan. Pikiran dengan disinari budi akan dapat mengenal Allah dan akan menghasilkan segala yang dilakukannya berdasarkan kesadaran dan tanggung jawab dan akan memberikan manfaat serta pelaksanaan amalan-amalannya lebih sadar dan khusyu.
      Dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan ciri khas seseorang dan dapat dibentuk melalui bimbingan dari luar. Jadi kepribadian seseorang sangat menentukan pendidikannya dengan segala sifat yang dimiliki, namun juga kepribadian itu dapat dibimbing oleh pihak luar. 

      C. Pengaruh Lingkungan Pendidikan Terhadap
            Anak Didik
      Seperti diketahui bahwa faktor lingkungan dapat mempengaruhi pendidikan, baik yang berimplikasi positif maupun negatif terhadap pertumbuhan, perkembangan, sikap, akhlak, dan perasaan agama seorang anak.
      Dalam lingkungan keluarga, para ahli psikologi mengungkapkan bahwa perkembangan kepribadian anak sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu janin mendapat pengaruh sikap dan perasaan ibu terhadapnya melalui saraf-saraf pada rahim ibu. Maka sikap positif ibu terhadap janin dan ketentraman batinnya mengakibatkan saraf bekerja lancar karena tidak ada kegoncangan jiwa sehingga perkembangan kepribadian anak yang akan lahir cukup baik dan positif. Selanjutnya ibu memberikan pendidikan berupaya kasih sayang dengan ASI selama dua tahun.
Pendidikan dalam keluarga sebagian besar dapat kita lihat dilaksanakan melalui pembiasaan dan teladan dari orang tua, lebih-lebih bagi anak usia 0-6 tahun yang belum dapat memahami hal-hal yang abstrak. Al-Ghazali berkata bahwa pengaruh pembiasaan terhadap pendidikan anak sangat besar. Dapat kita lihat orang yang mengetahui hukum shalat itu wajib, namun tidak dibiasakan shalat oleh orang tuanya, dia akan malas melaksanakan kewajiban shalat itu. Setelah anak berusia enam tahun ke atas, lalu memasuki masa remaja dan masa dewasa, barulah pendidikan diberikan melalui pengertian dan penghayatan.
      Demikianlah pengaruh pendidikan keluarga dalam pembentukan sikap, akhlak, dan agama seorang anak. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Tahrim: 6) 
      Setelah anak memasuki lingkungan sekolah maka mulailah anak menerima pengetahuan yang bersifat sistematis dan konseptual berupa sejumlah mata pelajaran. Di sini anak mulai berinteraksi dengan orang lain, yaitu teman-teman sebayanya dan guru. Karena itu guru harus memiliki kepribadian, agama, akhlak, sikap, penampilan, pakaian, dan cara bicara yang baik terhadap anak didik. Di sekolah anak terkadang mencari figur guru idola yang menurut dia dapat diteladani. Dengan mulainya anak berinteraksi diharapkan dia dapat hidup layak dan wajar dengan teman-temanya karena nantinya anak akan menjadi anggota masyarakat. Sekolah juga memberikan suatu harapan yang  dapat tergambar oleh masyarakat, yaitu dengan mendapat ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya ataupun untuk mencari pekerjaan.
      Perlunya penghayatan dan pengamalan dari pengetahuan yang diperoleh di sekolah dirasakan sangat urgen agar anak didik tidak menjadi orang yang pintar dalam teori, tetapi mengabaikan pengetahuan praktikal. Di sinilah pengaruh pendidikan masyarakat, di mana anak didik memperoleh pengetahuan praktikal yang sedikit sekali didapatkan di sekolah. Anak mempelajari pengetahuan agama dan bahasa Indonesia sehingga dapat menyusun sebuah pidato. Pidato ini dipraktikkan di muhadharah masjid atau asrama, yang sebelumnya dia melihat bagaimana cara menampilkan pidato dari seorang ustadz atau tokoh masyarakat. Jadi cara dia pidato, baik itu dari segi isi, penyampaian, dan sikap dia di hadapan hadirin dapat dikatakan dia sedang belajar berpidato sehingga pidato tersebut dapat dilihat baik atau tidak, perlu perbaikan atau tidak.
      Di masyarakat anak didik belajar berinteraksi dengan orang-orang yang lebih luas. Karenanya jika anak bergaul dengan masyarakat yang tidak bermoral secara tidak langsung anak menerima pendidikan yang berakibat negatif. Sebagai contoh lingkungan anak muda yang suka membentuk geng, bersaing dengan geng lain, bahkan sampai ada yang menyediakan minuman terlarang, ekstasi, dan lain-lain. Kalau sudah memasuki suatu geng secara langsung atau tidak sengaja, terpaksa atau kehendak sendiri, anak otomatis belajar atau setidaknya terpengaruh pada perbuatan negatif tadi. Adapun mengenai pengaruh negara dalam pendidikan, pengaruhnya lebih kepada sistem pendidikan. Namun pada akhirnya sistem pendidikan itu pun akan mempengaruhi proses pendidikan anak didik. Negara Uni Sovyet yang berideologi komunis, tentunya memasukkan nilai-nilai komunis dan negara Indonesia yang berideologi Pancasila sistem pendidikannya tidak bertentangan dengan agama Islam.  Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya UU No. 2/1989 dilanjuti dengan PP No.28/1990 tentang sistem pendidikan nasional yang berkaitan dengan semua kurikulum pendidikan di bawah koordinasi Depdikbud sebagai wadah integrasi pendidikan Islam dengan sistem pendidikan nasional.
      Terdapat dua cara dalam menghubungkan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran lain. Pertama, cara okasional yaitu menghubungkan satu pelajaran dengan pelajaran lain atau mencari korelasi. Misalnya ketika guru membicarakan pelajaran Fiqih tentang hukum makanan dan minuman guru dapat menghubungkannnya dengan pendidikan kesehatan. Kedua, cara sistematis yaitu bahan-bahan pelajaran dihubungkan lebih dahulu menurut rencana tertentu sehingga bahan-bahan itu merupakan satu kesatuan yang terpadu, dan cara ini meliputi konsentrasi sistematis sebagian dan konsentrasi sistematis total.
      Ada satu hal yang juga sangat penting yang mempengaruhi pendidikan, yaitu individu itu sendiri. Sebagai subjek pendidikan, anak harus mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar dan berhasil. Anak harus dapat semaksimal mungkin mengembangkan bakat-bakat yang baik yang dapat menunjang keberhasilan belajar dan berusaha menghilangkan sifat yang dapat menghambat keberhasilan belajar. Dalam hal ini orang-orang yang ada di sekitarnya seperti orang tua dan guru serta lainnya harus mampu membimbing pribadi anak untuk kesuksesan belajarnya.

         D. Lingkungan yang Paling Dominan/Besar Pengaruhnya Terhadap Anak Didik
Menganalisis masalah ini tentunya tidak terlepas atau tergantung umur anak didik dan lamanya di mana ia belajar. Untuk anak yang belum mengenal lingkungan luar, tentunya pengaruh pendidikan keluarga lebih besar. Pada masa ini anak menjadikan ayah dan ibunya menjadi tokoh yang paling dekat, di samping anggota keluarga lainnya. Adapun setelah anak mengenal lingkungan sekolah, masyarakat, dan yang lebih luas lagi yaitu negara, pengaruh yang lebih besar akan masuk kepadanya jika dirasakan lingkungan mana yang lebih intensif dan sesuai dengan nilai-nilai yang sudah dia dapati dari keluarga.
Kalau kita analisis lebih jauh lagi melalui pengertian pendidik berdasarkan lingkungan pendidikan, bahwa setiap orang, lembaga, perkumpulan/organisasi hendaknya mendidik anak seoptimal dan sebaik mungkin. Seperti kita ketahui bahwa pendidikan itu berlangsung seumur hidup, karenanya usaha pendidikan harus dilakukan bersama-sama antara keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan individu itu sendiri. 

      E. Kesimpulan
      Lingkungan pendidikan ialah segala sesuatu yang terdapat di sekitar anak didik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak didik dan dapat memberikan implikasi positif dan negatif terhadap sikap, akhlak, dan perasaan agamanya.
 Lingkungan pendidikan terbagi dua, yaitu lingkungan pendidikan di dalam sekolah dan lingkungan pendidikan di luar sekolah yang meliputi keluarga, masyarakat, negara dan individu/diri sendiri. Adapun pengaruh lingkungan yang dominan dalam diri anak didik tergantung dari umur anak didik dan lamanya di mana anak didik belajar.
        










(Endnotes)
1 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1998), Cet. I, h. 146
2 Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terjemahan Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), Cet. I, h.
3          M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. I, h. 40
4          Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: CV Ruhama, 1995), Cet. I, h. 157
5          Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 155-156
6 Zakiah Daradjat, Op. Cit., h. 77
7          Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 157
8          Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan sekolah dalam Islam ini adalah hasil ringkasan dari Abdurrahman Al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), Cet. II, h. 148-151
9 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 159
10 Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu identitas bersama. Lihat M. Munandar Sulaiman, Ilmu Sosial Dasar, (Bandung; Eresco, 1992), Cet. VI, h. 63
11 Abdurrahman Al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, h. 136-137
12 Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991), Cet. II, h. 162
13 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995), Cet I, h. 82
14 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, h. 86
15 Ahmad D. Marimba, Filsafat dalam Pendidikan Islam, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1995), Cet. VIII, h. 76
















BAB X
TANGGUNG JAWAB DALAM KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM

Maju atau tidaknya peradaban suatu bangsa tidak terlepas  dari sejauh mana keberhasilan yang dicapai oleh bangsa itu dalam bidang pendidikan. Karena pada dasarnya semua aspek kehidupan ini harus ditempuh dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasululah SAW bersabda:
                                                       
Artinya: “Barang siapa yang menghendaki (kebahagiaan) dunia, maka harus dengan ilmu, barang siapa yang menghendaki (kebahagiaan) akhirat, maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki (kebahagiaan) keduanya, maka harus dengan ilmu.”
Dari hadis tersebut jelas bahwa untuk mencapai suatu kebahagiaan harus dengan ilmu pengetahuan karena dengan bekal ilmu pengetahuan manusia dapat memecahkan segala persoalan hidup, dapat berbuat yang terbaik untuk dirinya dan orang lain serta dapat beribadah dengan benar dan khusyuk.
Berbicara tentang pendidikan, itu berarti kita tidak bisa melepaskan diri dari persoalan tanggung jawab individu, masyarakat luas, dan negara. Karena pada dasarnya semua manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan.
Di Indonesia tanggung jawab pendidikan dilaksanakan dalam berbagai lembaga, baik formal, informal maupun nonformal. Di tengah masyarakat kita sekarang ini banyak sekali ditemukan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah lembaga pendidikan swasta. Lembaga-lembaga yang dikelolanya pun bervariasi, di samping yang bersifat umum ada juga yang berciri khas agama.
Secara historis munculnya lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat dikatakan sebagai reaksi terhadap dominasi pendidikan kolonial Belanda yang sekuler. Sehingga lahirlah berbagai lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren, madrasah, dan majlis taklim atau masjid yang digunakan sebagai lembaga pendidikan umat. Lembaga pendidikan Islam mempunyai tujuan yang sangat tinggi, yaitu ingin menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, serta anggun dalam moral dan bijaksana dalam perbuatan.



            A. Pengertian Tanggung Jawab
            Tanggung jawab dapat diartikan sebagai suatu pengadilan yang muncul dari hati sanubari seseorang untuk memikul suatu beban yang diberikan kepadanya. Tanggung jawab dapat pula diartikan sebagai beban moral yang harus dipikul oleh seseorang terhadap sesuatu (kepercayaan) yang dibebankan kepadanya. Tanggung jawab pendidikan berarti beban yang harus dipikul oleh seseorang yang berkompeten dalam dunia pendidikan.

     

B. Tanggung Jawab dalam Pendidikan Islam

Sebelum melihat lebih jauh tentang bentuk-bentuk tanggung jawab yang kemudian dibebankan ke berbagai lembaga pendidikan, baik yang bersifat formal, informal maupun nonformal, ada baiknya dilihat terlebih dahulu siapa saja yang bertanggung jawab dalam pendidikan tersebut.
            Langeveld seorang ahli filsafat Antropologi menyatakan bahwa yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan adalah:
1. Lembaga keluarga yang mempunyai wewenang bersifat kodrati
2.  Lembaga negara yang mempunyai wewenang berdasarkan undang-undang
3. Lembaga agama yang mempunyai wewenang berasal dari Tuhan
            Kemudian Ki Hajar Dewantara memfokuskan penyelenggaraan pendidikan pada trisentral, yaitu:
1.  Alam keluarga yang membentuk pendidikan keluarga
2. Alam perguruan yang membentuk lembaga pendidikan sekolah
3. Alam pemuda yang membentuk lembaga pendidikan masyarakat.
            Menurut Sidi Gizalba, yang berkewajiban menyelenggarakan lembaga pendidikan adalah:
1.  Rumah tangga, yaitu sebagai lembaga pendidikan primer untuk fase bayi dan fase anak-anak sampai usia sekolah. Pendidiknya adalah orang tua, sanak kerabat atau teman.
2.  Sekolah, yaitu lembaga pendidikan sekunder yang bertanggung jawab mendidik anak, mulai masuk jam sekolah sampai jam keluar sekolah. Pendidiknya adalah guru.
3. Kesatuan sosial, yaitu pendidikan tertier yang merupakan pendidikan terakhir, tetapi bersifat permanen. Pendidiknya adalah kebudayaan, adat istiadat, dan suasana masyarakat setempat.1 
            Kalau diperhatikan pendapat-pendapat di atas, secara umum dapat diterima, namun apabila ditelaah menurut konsep Islam kiranya pendapat-pendapat tersebut kurang pas karena menurut pendapat-pendapat di atas yang mempunyai tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan hanya yang bersifat kelompok saja, sedangkan Islam mewajibkan tiap individu untuk bertanggung jawab dan sekaligus membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan.
            Selain mewajibkan menuntut ilmu, Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar (tindakan proaktif dan reaktif) terhadap lingkungan. Konsep ini mencakup semua lembaga pendidikan, baik lembaga keluarga, sekolah, pemerintah, maupun lingkungan sosial. Hal ini sejalan dengan landasan negara RI yaitu UUD 1945 yang mengatur hak mendapat pengajaran.
            Jika dipertegas lebih jauh, maka tanggung jawab yang paling dominan dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
           
            1. Keluarga (Ibu dan Bapak)
            Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Tanggung jawab pendidikan yang diemban oleh orang tua merupakan fitrah yang telah dikodratkan oleh Allah SWT. Bapak dan ibulah sebagai orang pertama yang paling dominan memberikan warna terhadap perkembangan seorang anak. Oleh karena peran keluarga sangat penting, maka Islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan kecil yang hanya mampu melaksanakan tugas memberi makan dan minum bagi anak-anaknya (sekedar membesarkan fisiknya), tetapi Islam memandang keluarga sebagai suatu lembaga hidup yang bertanggung jawab dalam mendidik dan membimbing perkembangan anak dan dapat memberikan peluang kepada seseorang untuk selamat atau celaka di dunia dan akhirat. Oleh karena peran keluarga yang sangat besar itulah Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah kepada keluarganya terlebih dahulu sebelum berdakwah kepada masyarakat luas. Firman Allah SWT:                                               

Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Al-Syuara: 214)
            Demikian pula Islam memerintahkan orang tua untuk menjadi pemimpin dan sekaligus sebagai kepala keluarga yang wajib memelihara keluarganya dari ancaman api neraka. Sebagaimana firman-Nya:


 Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Tahrim: 6) 
            Secara umum kewajiban orang tua kepada anaknya adalah sebagai berikut:
1. Mendo’akan anaknya
2. Memelihara anak dari ancaman api neraka
3. Menyerukan salat kepadanya
4. Menciptakan kedamaian dalam rumah tangga
5. Mencintai dan menyayangi anaknya
6. Memberi nafkah yang halal
7. Mendidik anak agar berbakti kepada ibu bapak.
            Sedangkan dasar-dasar pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah:
1. Dasar pendidikan budi pekerti
2. Dasar pendidikan sosial
3. Dasar pendidikan intelektual
4. Dasar pendidikan kebiasaan
5. Dasar pendidikan kewarganegaraan

            2. Sekolah
Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul orang tua.
Di negara-negara Timur sejak dulu guru sangat dihormati oleh masyarakat. Orang India dahulu menganggap guru sebagai orang sakti. Di Jepang guru disebut “sensei” artinya yang “lebih dahulu lahir”, atau “yang lebih tua”. Di Inggris guru dikatakan “teacher” dan di Jerman disebut “Der Lehler”, keduanya berarti pengajar. Akan tetapi, kata guru sebenarnya bukan saja mengandung arti pengajar, melainkan juga pendidik, baik di dalam maupun di luar sekolah. Ia harus menjadi penyuluh masyarakat.
Islam sangat menghargai guru/ulama sebagai orang yang berilmu pengetahuan. Firman Allah:                                                            

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
            Untuk menjadi seorang guru yang dapat mempengaruhi anak didik ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat sesungguhnya tidaklah ringan, artinya perlu syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah:

1. Taqwa kepada Allah SWT
2. Berilmu pengetahuan
3. Sehat jasmani dan rohani
4. Berkelakuan baik

            3. Lingkungan Sosial (Masyarakat dan Tokohnya)
Manusia adalah makhluk sosial, dalam istilah Aristoteles disebut Zoon Politicon, artinya antara satu individu dengan individu lainnya saling berhubungan/berinteraksi dan saling membutuhkan. Dengan demikian maka masyarakat pun turut serta memikul tanggung jawab pendidikan. Masyarakat mempunyai pengaruh yang besar terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin atau tokoh masyarakat atau para penguasa yang ada di dalamnya. Karena bagaimana pun kondisinya, setiap masyarakat menginginkan generasi setelahnya menjadi generasi yang lebih kuat, baik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, moral, kebudayaan, kepribadian, ekonomi, dan yang terpenting adalah kuat iman dan taqwanya kepada Allah SWT.
            Prof. Dr. Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani mengemukakan:2
            Di antara ulama-ulama mutakhir yang telah menyentuh persoalan tanggung jawab adalah Abbas Mahmud Al-Aqqad yang menganggap rasa tanggung jawab sebagai salah satu ciri pokok bagi manusia pada pengertian Al-Qur’an dan Islam sehingga dapat ditafsirkan manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab.”
Jadi, jelaslah bahwa dalam Islam tanggung jawab itu bersifat individu dan bersifat sosial. Untuk mengaplikasikan tanggung jawab terhadap pendidikan itu, maka dibentuklah lembaga pendidikan, baik yang bersifat tradisional maupun yang modern.
Lembaga disebut juga institusi atau pranata, sedangkan lembaga sosial adalah suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan dan relasi-relasi yang terarah dalam mengikat individu yang memiliki otoritas formal dan sanksi hukum guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan dasar.3
Secara konsep, lembaga sosial tersebut terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1. Assosiasi, misalnya universitas
2. Organisasi khusus, misalnya penjara dan rumah sakit
3. Pola tingkah laku yang telah menjadi kebiasaan atau pola hubungan sosial yang mempunyai tujuan tertentu.4 
            Dalam Islam pola tingkah laku yang telah mengkristalkan pada jiwa setiap individu muslim mempunyai dua bagian, yaitu pertama, lembaga yang tidak dapat berubah, dan kedua, lembaga yang dapat berubah. Lembaga yang tidak dapat berubah antara lain:
1.   Rukun Iman, yaitu lembaga kepercayaan manusia.
2.   Ikrar Syahadatain, yaitu lembaga yang merupakan pernyataan atas kepercayaan manusia.
3.   Thaharah, yaitu lembaga pensucian manusia dari kotoran lahir dan batin
4.   Shalat, sebagai lembaga yang dapat membentuk pribadi yang terhindar dari perbuatan keji dan munkar.
5.  Zakat, yaitu lembaga kepedulian umat dan pemerataan kekayaan (harta).
6.  Puasa, sebagai lembaga untuk menempa jiwa.
7.  Haji, sebagai lembaga pemersatu ukhuwah umat.
8.   Ihsan, lembaga yang melengkapi, meningkatkan, serta menyempurnakan amal dan ibadah manusia.
9.  Ikhlas, yaitu lembaga pendidikan rasa dan budi sehingga tercapai kenikmatan beribadah
10. Taqwa, yaitu lembaga yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhan serta sebagai pembeda derajat manusia.     
         Adapun lembaga yang dapat berubah, anatara lain:
1.  Ijtihad, sebagai lembaga berpikir untuk menetapkan rumusan hukum suatu masalah
2.   Fiqih, sebagai tindak lanjut ijtihad
3.   Akhlak
4.   Lembaga Ekonomi
5.   Lembaga Pergaulan Sosial
6.   Lembaga Politik
7.   Lembaga Seni
8.   Lembaga Negara
9.   Lembaga Iptek
10. Lembaga Pendidikan
        Lembaga-lembaga yang dapat berubah merupakan pengejawantahan dari lembaga yang tidak dapat berubah. Lembaga-lembaga yang tidak dapat berubah akan tetap abadi jika diadakan suatu proses pelembagaan nilai kepada masyarakat. Dari itu dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan Islam adalah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam.   Dalam merealisasikan tugasnya setiap lembaga pendidikan Islam harus berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang telah disepakati, yaitu antara lain:
1. Prinsip  pembebasan manusia dari api neraka (QS. 66:6)
2.  Prinsip pembinaan umat manusia yang bertaqwa (QS. 2:20)
3.  Prinsip pembentukan pribadi yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS. 58:11)
4. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar
5. Prinsip pengembangan daya pikir, cipta, karya, dan karsa.
            Adapun wujud lembaga pendidikan banyak sekali antara lain:
1. Keluarga
            Sudah tidak diragukan lagi bahwa keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama dan utama yang dialami seorang anak. Bahkan pendidikan yang diberikan oleh orang tua telah dimulai sejak dini, yaitu sejak mulai masa pinangan sampai pada proses pernikahan, kehamilan, dan seterusnya. Di dalam keluargalah awal mula seseorang ditempa dan dibina oleh orang tuanya.
2. Masjid (surau, langgar, mushalla)
            Fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat shalat, tetapi lebih dari itu masjid dapat dijadikan tempat beribadah secara luas, seperti sebagai lembaga pendidikan dan pusat informasi umat. Fenomena fungsi masjid yang sangat luas sudah dimulai dari zaman Rasulullah. 
            Masjid merupakan lembaga pendidikan yang sangat potensial untuk membina umat menuju masyarakat yang Islami serta berpengetahuan. Hal ini sebagai implikasi dari fungsi masjid itu sendiri yang merupakan lembaga pengembangan dari pendidikan keluarga. Namun sangat disayangkan fungsi masjid sekarang ini telah mengalami penyempitan, tidak seperti pada zaman Rasulullah dulu. Hal ini dikarenakan lembaga-lembaga sosial keagamaan semakin memadat.
3. Pondok Pesantren
            Berawal dari berdirinya kerajaan Bani Umayyah, pada saat itu ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat dan umat Islam semikin haus dengan ilmu pengetahuan, maka selain masjid sebagai tempat belajar, juga mulai muncul berbagai  lembaga lainnya, di antaranya adalah kuttab sebagai wadah untuk mengajar tulis dan baca kepada umat. Namun dalam perkembangannya kuttab juga menjadi pusat informasi dan studi umat.
            Di Indonesia, kuttab lebih dikenal dengan istilah pondok pesantren, yaitu suatu lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya ada seorang kiyai yang mengajar dan mendidik para santri. Pondok pesantren di Indonesia mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu adanya kiyai, santri, masjid, dan pondokan atau asrama yang digunakan sebagai tempat tinggal para santri, serta pelajaran kitab-kitab klasik.
            Terbentuknya lembaga pondok pesantren mempunyai tujuan:
a. Tujuan Umum
Membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agama dan pengamalannya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar.
b. Tujuan Khusus
Mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua memiliki metode-metode pengajaran yang bersifat nonklasikal, yaitu model sistem pendidikan dengan metode pengajaran wetonan yaitu kiyai membacakan kitab sedang santrinya menyimak dan mendengarkan bacaan kiyai dan metode sorogan yaitu santri yang membaca kitab, kiyai mendengar dan meluruskan bacaan santri.
4. Madrasah
        Madrasah diambil dari kata “darasa” yang berarti belajar. Kata madrasah sendiri adalah isim makan (nama tempat) yakni tempat untuk belajar. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam muncul dari penduduk Naisabur, tetapi tersiarnya melalui Perdana Menteri Bani Saljuq yang bernama Nizham Al-Mulk yang mendirikan madrasah Nizhamiyah pada tahun 1065 M.
   Latar belakang berdirinya madrasah adalah:5
1. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam
2. Usaha penyempurnaan sistem pesantren ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih valid
3. Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat akan sistem pendidikan mereka.
4. Sebagai usaha menjembatani antara sistem pendidikan tradisional yang dilakukan pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akulturasi.
Sebagaimana kita ketahui bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan sangat besar pengaruhnya bagi pembinaan umat. Oleh karena itu, kita berharap agar madrasah tetap eksis.
Selain 4 lembaga tersebut ada beberapa jenis lembaga pendidikan lainnya, yaitu:
1.   Pengajian dan penerapan Islam (majlis taklim)
2.   Kursus-kursus keislaman
3.   Badan-badan pembinaan rohani (biro konsultasi agama dan biro konsultasi pernikahan)
4.   Badan-badan konsultasi keislaman
5.   Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)6

            C. Kesimpulan
            Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah
2. Lembaga-lembaga pendidikan yang bercorak Islam ada yang bersifat permanen (modern) dan ada yang bersifat temporer (tradisional)
3. Setiap lembaga pendidikan Islam pada intinya ingin membina generasi penerus yang kokoh dalam iman, kuat dalam kepribadian, ekonomi dan moral, serta tangguh dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.


(Endnotes)
1 Sidi Gizalba, Pendidikan Umat Islam, (Jakarta: t.p, 1970), h. 34
2 Hasan Langgulung, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h.381-390
3          Hendro Puspito, Sosiologi Agama, (Jakarta: Kanisius, 1988), h.76
4          Tim Depag RI, Islam Untuk Disiplin Ilmu Sosiologi, (Jakarta: PTU, 1988), h.108
5          Tim Depag RI, Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta: P3AI-PTU, 1985), h. 109
6           Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1987), h. 203-204













BAB XI
EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM


A. PENDAHULUAN
Pada umumnya evaluasi merupakan suatu kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai, sampai dimanakah tujuan yang telah dirumuskan sudah dapat dilaksanakan. Apabila tujuan yang telah dirumuskan itu direncanakan untuk dicapai secara bertahap, maka dengan evaluasi yang berkesinambungan akan dapat dipantau, tahapan manakah yang sudah dapat diselesaikan, tahap manakah yang berjalan dengan mulus, dan mana pula tahapan yang mengalami kendala dalam pelaksanaannya. Sehingga, dengan evaluasi terbuka kemungkinan bagi evaluator untuk mengukur seberapa jauh atau seberapa besar kemajuan atau perkembangan program yang dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.1 
Sedangkan evaluasi pendidikan pada prinsipnya bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pengecekan yang sistematis terhadap hasil pendidikan yang telah dicapai untuk kemudian dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
 Sementara itu, evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan suatu cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku peserta didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual-religius peserta didik. Karena sosok pribadi yang diinginkan oleh pendidikan Islam bukan hanya pribadi yang bersifat religius, tetapi juga memiliki ilmu dan keterampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakat.
Berikut ini diuraikan tentang pengertian evaluasi dalam pendidikan Islam, dasar teori evaluasi pendidikan Islam, prinsip evaluasi pendidikan Islam, fungsi evaluasi dan teknik evaluasi pendidikan Islam.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Evaluasi Pendidikan Islam 
Secara etimologi, evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation; dalam bahasa Arab al-taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Istilah ini pada mulanya populer di kalangan para filosof. Plato, salah seorang di antara para filosof, dianggap banyak para pemikir pendidikan dewasa ini adalah orang yang pertama sekali mengemukakan dan membidani lahirnya istilah evaluasi. Pada perkembangannya istilah evaluasi mulai dipakai dalam berbagai disiplin ilmu tak terkecuali ilmu pendidikan.2           
Sedangkan dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. Brown dalam Essensial of Educational Evaluation mengatakan bahwa evaluasi evaluation refer to the act or process to determining the value of something.3 Bila pernyataan ini dihubungkan dengan evaluasi pendidikan, maka dapat diartikan dengan suatu tindakan atau kegiatan yang dilakukan untuk menentukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan. Atau, keputusan-keputusan yang diambil dalam proses pendidikan secara umum; baik mengenai perencanaan, pengelolaan, proses dan tindak lanjut pendidikan atau yang menyangkut perorangan, kelompok, maupun kelembagaan.­­­­­­4
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.

2. Dasar Teori Evaluasi Pendidikan Islam
Al-Qur’an sebagai dasar segala disiplin ilmu termasuk Ilmu Pendidikan Islam, secara implisit sebenarnya telah memberikan deskripsi tentang evaluasi pendidikan dalam Islam. Hal ini dapat ditemukan dari berbagai sistem evaluasi yang ditetapkan Allah di antaranya:
a.         Evaluasi untuk mengoreksi balasan amal perbuatan manusia sebagaimana yang tersirat dalam ayat yang berbunyi:

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar atompun, niscaya akan melihat (balasan) nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar atompun niscaya akan melihat (balasan) nya. (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

b.        Nabi Sulaiman As pernah mengevaluasi kejujuran seekor burung Hud-hud yang memberitahukan tentang adanya kerajaan diperintah oleh seorang wanita cantik, yang dikisahkan dalam ayat:

Artinya: Sulaiman berkata: Akan kami cermati (evaluasi) apakah kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. (QS. An-Naml: 27)
c.         Sebagai contoh ujian (tes) yang berat kepada Nabi Ibrahim As, Allah memerintahkan beliau unuk menyembelih anaknya Ismail yang amat dicintainya. Tujuannya untuk mengetahui kadar keimanan dan ketaqwaan serta ketaatannya kepada Allah. Seperti disebutkan di dalam firman-Nya:

Artinya: Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Shaffat: 103-107)

3. Prinsip Evaluasi Pendidikan Islam
Ada beberapa hal yang menjadi prinsip dasar evaluasi dalam pendidikan Islam. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut;
  1. Prinsip kesinambungan/Berkelanjutan. Maksudnya, evaluasi tidak hanya dilakukan sekali dalam satu jenjang pendidikan, setahun, caturwulan atau perbulan. Akan tetapi harus dilakukan setiap saat dan setiap waktu. Misalnya, evaluasi dilakukan pada saat membuka pelajaran, menyajikan pelajaran, menutup pelajaran, dan sebagainya. Sehingga, dengan evaluasi secara kontiniu ini perkembangan anak didik dapat terkontrol dengan baik.
  2. Prinsip Keseluruhan/Universal/Komprehensif. Maksudnya, evaluasi hendaknya dilakukan untuk semua ranah (domain) atau semua aspek sasaran pendidikan. Yaitu, aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
  3. Prinsip Obyektivitas. Maksudnya, evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subyektif.
  4. Prinsip Keikhlasan. Dengan segala hal, keikhlasan pendidik harus tercermin di segala aktivitasnya dalam mendidik. Termasuk di antaranya dalam mengevaluasi pendidikan. Guru/pendidik yang ikhlas dalam mengevaluasi terlihat dari sikapnya yang transparan dan obyektif. Pendidik tidak hanya mampu menunjukkan kesalahan-kesalahan siswa, tetapi juga mampu menunjukkan jalan keluarnya, sehingga siswa tidak merasa bahwa ia dipersulit oleh guru. Keikhlasan dalam mengevaluasi mengandung tiga unsur; Pertama, penilaian tidak didasarkan kepada kesan baik atau prasangka buruk. Kedua, memiliki sifat serba guna, berguna untuk mengetahui tingkat pengusahaan bahan, untuk mengadakan perbaikan cara belajar, perbaikan cara mengajar, cara membuat tes, dan sebagainya. Ketiga, bersifat perseorangan. Kemajuan siswa dalam penguasaan pengetahuan dan sikap keagamaan dalam hubunganya dalam pencapaian tujuan kurikulum, haruslah dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi masing-masing anak didik. 5

4. Fungsi Evaluasi
Sebagai salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pendidikan Islam, evaluasi berfungsi sebagai berikut;
  1. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas cara belajar dan mengajar yang telah dilakukan benar-benar tepat atau tidak, baik yang berkenaan dengan sikap pendidik/guru maupun anak didik/murid.
  2. Untuk mengetahui hasil prestasi belajar siswa guna menetapkan keputusan apakah bahan pelajaran perlu diulang atau dapat dilanjutkan
  3. Untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh murid dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan Islam.6 
  4. Sebagai bahan laporan bagi orang tua murid tentang hasil belajar siswa. Laporan ini dapat berbentuk buku raport, piagam, sertifikat, ijazah, dan lain-lain.
  5. Untuk membandingkan hasil pembelajaran yang diperoleh sebelumnya dengan pembelajaran yang dilakukan sesudah itu, guna meningkatkan pendidikan.
Senada dengan itu, menurut Anas Sudijono, secara umum evaluasi sebagai tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu (1) mengukur kemajuan, (2) menunjang penyusunan rencana, dan (3) memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali. Adapun secara khususnya, menurut Anas Sudijono, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari tiga segi, yaitu; (1) segi psikologis, (2) segi didaktik, dan (3) segi administrasi.7 
Sementara itu Ramayulis menyatakan bahwa fungsi evaluasi pendidikan, termasuk pendidikan Islam, adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui murid yang mana yang terpandai dan terbodoh di kelasnya.
  2. Untuk mengetahui apakah bahan yang telah diajarkan sudah dimiliki oleh murid atau belum.
  3. Untuk mendorong kompetisi yang sehat antar siswa.
  4. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan anak didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
  5. Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru dalam memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas.8

5. Teknik Evaluasi Pendidikan Islam
a.    Gambaran Singkat Teknik Evaluasi Pendidikan Islam pada Masa Pertumbuhan Islam (Masa Rasulullah dan Para Sahabat)
Sistem evaluasi yang disebut dalam al-Qur’an adalah bersifat makro dan universal, yaitu dengan menggunakan teknik testing mental (mental test) atau psikotes. Sedangkan dalam sunnah Nabi Muhammad SAW sistem evaluasi yang bersifat makro adalah untuk mengetahui kemajuan belajar manusia termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri. Sebagaimana kisah kedatangan Malaikat Jibril menguji Nabi Muhammad SAW dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pengetahuan beliau tentang rukun Islam, dan setiap jawaban Nabi Muhammad SAW selalu dibenarkan oleh Jibril. Peristiwa lainnya adalah seringkali Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk menguji sejauhmana hafalannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an.
Sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri dalam melaksanakan kegiatan dakwah dan pengajaran juga sering kali mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar para sahabatnya dengan sistem pertanyaan atau tanya jawab serta musyawarah. Tujuan dari pengevaluasian ini adalah untuk mengetahui mana di antara para sahabat beliau yang cerdas, yang patuh, dan yang saleh atau mana yang kreatif dan aktif-responsif kepada pemecahanan problem-problem yang dihadapi bersama Nabi Muhammad SAW pada suatu keadaan mendesak.9 
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tali kepemimpinan beralih ke tangan Khulafaur Rasyidin dan Bani Umaiyah. Pada masa ini telah dikenal tingkatan-tingkatan pengajaran. Tingkat pertama ialah al-Kutab, yaitu tempat anak-anak belajar menulis dan membaca/mengafal al-Qur’an serta belajar pokok-pokok agama Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan pada tahap ini, mereka meneruskan pelajaran ke mesjid yang terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Adapun ilmu-ilmu yang diajarkan pada tingkat menengah dan tingkat tinggi terdiri dari: al-Qur’an dan tafsir, hadis serta fikih.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, khalifah-khalifah Rasyidin, dan Bani Umaiyah tujuan pendidikan hanya terfokus pada satu sasaran, yaitu keagamaan. Sehingga yang menjadi obyek evaluasi sistem pendidikan pada masa lampau berkisar pada aspek kognitif berupa pengembangan pengetahuan agama termasuk di dalamnya fungsi perasaan dan sikap. Adapun bentuk evaluasi berupa pengujian penghafalan serta sistem tanya jawab berupa lisan.

b.   Teknik Evaluasi Pendidikan Islam
Ditinjau dari segi fungsi yang dimiliki oleh tes sebagai alat pengukur perkembangan belajar peserta didik, tes dapat dibedakan menjadi enam golongan; yaitu:
  1. Penilaian Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar peserta didik setelah menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada suatu bidang studi tertentu. Tujuan dari penilaian formatif ini adalah untuk mengetahui hingga sejauhmana penguasaan murid tentang bahan pendidikan agama yang diajarkan dalam satu program satuan pelajaran, serta sesuai tindakannya dengan tujuan. Aspek-aspek yang dinilai meliputi: hasil kemajuan belajar murid yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap terhadap bahan pelajaran agama yang disajikan.
  2. Penilaian Sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar murid yang telah selesai mengikuti pelajaran dalam satu catur wulan, semester, atau akhir tahun. Tujuannya adalah untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh murid selama satu cawu, semester pada suatu unit pendidikan tertentu. Aspek yang dinilai mempunyai kesamaan dengan penilaian formatif.
  3. Penilaian Seleksi/Penempatan, yaitu penilaian tentang pribadi anak untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar-mengajar yang sesuai dengan anak didik tersebut. Tujuannya untuk menempatkan anak didik pada tempat yang sebenarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan dan keadaan diri anak sehingga anak tidak mengalami hambatan dalam mengikuti pelajaran yang disajikan guru. Adapun aspek-aspek yang dinilai meliputi: keadaan fisik dan psikis, bakat, kemampuan, pengetahuan, keterampilan, sikap dan aspek lainnya yang dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan anak.
  4. Penilaian Diagnostik, yaitu penilaian terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan anak didik baik berupa kesulitan atau hambatan dalam situasi belajar mengajar, maupun untuk mengatasi hambatan yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajar mengajar. Adapun aspek-aspek yang dinilai meliputi hasil belajar murid, dan latar belakang kehidupannya.10
  5. Penilaian Awal/Tes Awal, yang sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh para peserta didik.
  6. Penilaian Akhir/Tes Akhir.Tes ini sering dikenal istilah post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik.   
Secara garis besarnya, penilaian/evaluasi pendidikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu; (1) Teknik Test, yaitu penilaian yang menggunakan test yang  telah ditentukan terlebih dahulu. Metode tes ini bertujuan untuk mengukur dan memberikan penilaian terhadap hasil belajar yang dicapai oleh murid meliputi; kesanggupan mental, achivement (test penguasaan hasil belajar), keterampilan, koordinasi, motorik dan bakat, baik secara individu maupun kelompok. (2) Teknik Non Test, yaitu penilaian yang tidak menggunakan soal-soal tes dan bertujuan untuk mengetahui sikap dan sifat kepribadian murid yang berhubungan dengan kiat belajar atau pendidikan. Objek penilaian non test ini meliputi; perbuatan, ucapan, kegiatan, pengalaman, keadaan tingkah laku, riwayat hidup, dan lainnya baik bersifat individu maupun kelompok.11 
Dalam evaluasi pendidikan agama, penguraiannya dibatasi hanya tentang teknik tes, khususnya achevement test yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil belajar murid setelah diajar oleh guru baik berupa penguasaan bahan, perkembangan kecerdasan, perkembangan keterampilan dan perubahan sikap. Tes hasil belajar ini dapat pula dibagi dua;
  1. Test Essay/Test Uraian, yaitu tes yang disusun sedemikian rupa sehingga jawabannya terdiri dari beberapa kalimat. Untuk menjawab pertanyaan sangat memerlukan waktu yang banyak, dan murid boleh menjawab sepuas-puasnya dan seluas-luasnya.
Beberapa pedoman dalam menggunakan test essay:
a.       Mengadakan perbandingan, misalnya; Bandingkan antara sistem pemerintahan di zaman Khulafa al-Rasyidin dan sistem pemerintahan di zaman Khalifah Abbasiyah dan Khalifah Umaiyah!
b.      Penilaian terhadap suatu pendapat, misalnya, manakah?
c.       Hubungan sebab akibat misalnya, apakah yang menyebabkan?
d.      Menjelaskan makna suatu ungkapan, misalnya, apakah yang dimaksud dengan...?
e.       Merangkum, misalnya perintah rangkumkanlah!
f.       Kemampuan menganalisa sesuatu misalnya, uraikanlah!

  1.  Test Objektif
Suatu tes disebut objektif apabila; (a) hanya satu jawaban yang benar untuk setiap setiap alternatif jawaban, (b) dalam menskor tidak ada perbedaan walau diperiksa oleh lebih dari satu orang, (c) dalam menjawab testee tinggal hanya melakukan pilihan sesuai dengan petunjuk, dan (d) norma pilihan sudah ditentukan terlebih dahulu.
Sebagai salah satu jenis tes hasil belajar, tes objektif dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu;
a.       Tes Obyektif bentuk Benar-Salah (True-False Test), yaitu tes yang terdiri dari pernyataan-pernyataan yang mengandung salah satu dari dua kemungkinan jawaban, salah atau benar misalnya; (1). Mendirikan shalat adalah rukun Islam keempat (B-S); (2). Menyakini adanya daya penyembuhan pada azimat-azimat termasuk syirik (B-S).
b.      Tes Obyektif Bentuk Menjodohkan (Matching Test). Tes obyektif bentuk matching sering dikenal dengan istilah tes menjodohkan, tes mencari pasangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan dan tes memperbandingkan. Dalam tes obyektif bentuk matching ini disediakan dua kelompok bahan dan testee harus mencari pasangan-pasangan yang sesuai antara yang terdapat pada kelompok pertama dengan yang terdapat pada kelompok kedua, sesuai dengan petunjuk yang diberikan dalam tes tersebut.  
c.       Tes Obyektif Bentuk Melengkapi (Completion Test). Tes obyektif bentuk completion sering dikenal dengan istilah tes melengkapi atau menyempurnakan.
d.      Tes Bentuk Isian (Fill in Test). Tes ini biasanya berupa cerita atau karangan. Kata-kata penting dalam cerita atau karangan itu beberapa diantaranya dikosongkan (tidak dinyatakan), sedangkan tugas testee adalah mengisi bagian-bagian yang telah dikosongkan itu.
e.       Multiple Choice (tes pilihan berganda).
Pada jenis test ini testee diminta memilih jawaban yang benar dari beberapa jawaban yang telah ada. Biasanya terdiri dari tiga sampai lima pilihan jawaban yang tersedia, yang benar hanya satu. Multiple choice ada tiga bentuk:
1.       Menjawab pertanyaan, misalnya; Siapa yang diserahi menyusui Nabi Muhammad SAW? (A). Siti Aisyah, (B). Siti Khadijah, (C). Halimatussa’diyah, (D). Ummu Salamah.
2.       The best answer test. Pada test ini testee diminta memilih jawaban yang paling tepat dari jawaban yang tersedia yang kesemuanya mengandung kebenaran.
3.       Menyelesaikan pertanyaan, misalnya; Sujud sahwi yaitu: a....... b....... c...... d.......
4.       Matching test (tes menjodohkan). Pada test ini, testee diminta mencari jodoh  (jawaban) yang cocok terhadap satu lajur pertanyaan pada lajur jaawaban. Jumlah jawaban harus lebih banyak dari pernyataan/pertanyaan. Misalnya; Carilah pasangan (jodoh) pernyataan sebelah kiri dengan alternatif jawaban sebelah kanan dengan menulis nomor jawaban pada titik yang telah disediakan.
5.       Complation test (tes menyempurnakan). Pada test ini testee diminta menyempurnakan suatu kalimat, atau ungkapan dnegan jalkan mengisi sepatah atau beberapa patah kata. Misalnya; Isilah titik-titik dengan jawaban yang benar; Ketika Nabi Muhammad SAW di......turunlah wahyu pertama.
6.       Rearrangment test (tes mengatur kembali). Yaitu berupa tes penyusunan pengertian yang belum teratur dan testee diharapkan dapat mengatur dengan rapi dan benar. Contoh; 17 – diangkat – Muhammad Rasul – Ramadhan – menjadi adalah hari.
Di samping itu, juga ada beberapa model tes yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik. Pertama, Tes bahasa, yaitu test yang dapat dijawab dengan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Tes bahasa ini terdiri dari: (1) Tes lisan. Pada tes ini murid mendapat peratanyaan secara lisan yang harus dijawab secara lisan pula. Jumlah peserta dalam suatu saat boleh lebh dari satu, dengan pertanyaan diajukan dengan bergiliran. (2) Tes tulisan. Tes tulisan biasanya berbentuk karangan. Testee diminta mengarang dengan pembatasan berupa; judul karangan, dan jumlah maksimum halaman. Dalam pendidikan agama, juga baik sekali untuk melatih murid mengarang berupa membuat khutbah jum’at, menguraikan sejarah Nabi Muhammad SAW, peristiwa isra’ mi’raj, peristiwa qurban, dan lian sebagainya.
Kedua, Tes perbuatan, yaitu tes yang dipergunakan untuk menilai berbagai macam perintah yang harus dilaksanakan seperti; mengapani mayat, berwudhu’, shalat, cara melaksanakan thawaf dan sebagainya.12
           
C. KESIMPULAN
Evaluasi dalam pendidikan Islam adalah keputusan-keputusan (penilaian-penilaian) yang diambil dalam proses pendidikan secara umum; baik mengenai perencanaan, pengelolaan, proses dan tindak lanjut pendidikan atau yang menyangkut perorangan, kelompok maupun kelembagaan.
Secara historis, evaluasi dalam pendidikan Islam telah dipraktekkan sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW walaupun dalam format yang sangat sederhana, berupa tanya jawab terhadap suatu materi yang telah diajarkan, serta pengujian berupa penguasaan hafalan. Dalam perkembangannya teknik evaluasi pendidikan Islam banyak mengalami kemajuan, berupa perkembangan bahasa istilah yang digunakan, format tekniknya, serta tujuan yang akan dicapai melalui teknik evaluasi tersebut.
Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa dalam menyusun evaluasi pendidikan haruslah memenuhi syarat-syarat seperti; validitas, raliabilitas, objektivitas dan praktis.




End Note:
1Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001), h. 8-9
2 Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), cet. Ke-3, h. 317
3 Edwin Wendt dan Geral W. Brown, Essensial of  Educational Evaluation, (New York: Rinchart and Winston, 1957), h. 1
4 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Penilaian dalam Pendidikan, Materi Dasar Pendidikan Akta IV, 1993/1994, h. 1
5 Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama, Pedoman Guru Agama Sekolah Lanjutan Atas, (Jakarta: Depag RI., 1974/1975).
6 Ngalim Purwanto, Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Remaja Karya, 1965), h. 2
7Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, h. 7-10
8 Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 319
9 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), cet. Ke-5, h. 243
10Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 324
11Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 283
12Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, h. 283-309

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda